
“AURA KASIH”
“MENIMBANG MENEMBUS KERAGUAN”
Oleh: I Ketut Murdana.
BADUNG (CAHAYAMASNEWS). Ketika kesadaran hati nurani telah tumbuh dan berkembang di dalam diri masing-masing, maka gerak pengetahuan material mendorong lajunya prilaku yang berpengetahuan spiritual akan semakin besar dan terarah kepada sumbernya. Gerak energi pengetahuan ini dalam kitab suci Weda disebutkan sebagai pratisancara yaitu pergerakan dari sifat-sifat material yang kasar melalui penghalusan mencapai kehalusan dari yang maha halus. Dalam proses penghalusan inilah sesungguhnya umat manusia di bumi, bersama-sama belajar. Melalui kasih-Nya telah diturunkan ajaran atau pengetahuan suci serta “Guru-guru Suci” atau orang-orang suci yang “terpilih” untuk mengajarkan dan menuntun.
Ajaran suci melalui orang-orang suci, orang-orang memperoleh tuntunan, untuk mencapai langkah-langkah penghalusan jiwa mencapai sattwam dalam komposisi yang dominan diantara rajasika dan tamasika. Persoalan pencapaian inilah memerlukan praktek sadhana melalui garis-garis Gurupadesa yang benar. Merupakan pembangunan karakter manusia agar siap untuk maju bersama menggalang masa depan dan kemajuan suatu negara mengusung peradaban yang bermartabat yaitu: jaya dibidang material duniawi dan bermartabat dalam dunia kebajikan (spiritual).
Semua proses edukasi rohani ini sesungguh sudah berjalan sepanjang jaman, barangkali saat ini pergerakan proses alami dalam putaran waktu memasuki jaman yang disebut jaman Kaliyuga yang didominasi oleh “kegelapan”. Hidup di jaman gelap rohani dapat dibayangkan, sulit sekali mengenal “kebenaran” sesunggguhnya. Akibatnya seringkali terjadi sradak sruduk, saling menghina, sesama saudara, bahkan kata-kata dan prilaku yang tidak sapatutnya terjadi dan itu terus terjadi, hingga pemimpin sibuk mengurusi persoalan itu.
Menyikapi guliran masalah yang terus menggelapkan ini, patut diwaspadai dengan swadharma mengheningkan hati nurani yang sattwam, walaupun godaan dan tantangannya tidak ringan ya memang begitu barangkali realitas yang harus dilewati di jaman sekarang ini. Oleh karena itu jiwa-jiwa yang tersinari adalah kemujuran rohani, yang patut disyukuri dan diperjuangkan dalam swadharma pelayanan. Itu artinya memperbesar sinar dengan energinya, agar bisa menerangi langkah kaki menuju kedamaian yang juga disebut “kehalusan” di atas tadi. Karena yang halus atau yang murni tempatnya selalu di atas atau di pemukaan. Bagaikan segelas kopi, setelah di aduk-aduk plalu beningnya di permukaan gelas.
Swadharma membangun kehalusan rohani ini sangat di perlukan dunia saat ini, di tengah-tengah erosi nurani yang buta terhadap kebenaran dan kesucian, hingga segala upaya memajukan negara dan bangsa serta umat manusia selalu menjadi penghambat. Oleh karena itu betapa pentingnya menimbang-nimbang realitas, melalui pengetahuan suci dan ajaran Suci Para Leluhur, menembus keraguan, mencapai keyakinan yang kuat mengabdi untuk kejayaan negeri, Ibu Pertiwi yang kita cintai, hingga kegelapan jiwa tersinari panji-panji suci kebenaran abadi. Semoga menjadi renungan dan refleksi









Facebook Comments