September 10, 2026
News

“AURA KASIH”

“TIGA DASAR KESADARAN”

Oleh: I Ketut Murdana (11 Agustus 2022).

Tiga dasar kesadaran yang mesti dibangkitkan dalam diri yaitu: kesadaran indrawi, emosional dan perilaku. Kita mengenal sesuatu pasti dimulai dari melihat, mendengar. Lalu bisa merasakan secara fisik jasmani lalu meresapi rohani, kemudian bangkit menjadi perilaku (karma) jasmani dan rohani (material dan spiritual).

Kesadaran adalah sifat ilahi yang hadir meresap dalam diri setiap orang, bisa redup, terang bahkan terang benerang. Kesadaran terang benerang (cerah) merupakan akumulasi ketiga kesadaran tersebut tadi yang digerakkan oleh karma kanda (kesigapan bekerja untuk menguasai material, “Tetapi bukan dikuasai”) dan karma jnana merupakan kecerdasan spiritual dalam proses edukasi dan pelayanan kepada seluruh ciptaan-Nya, terutama kepada umat manusia untuk mencapai kesejatian diri. Penyatuan kedua kekuatan inilah wujud “Pencerahan”  sesungguhnya yang mesti dikejar dan diperjuangkan oleh umat manusia, terutama yang hidup di jaman Kaliyuga ini, agar menemukan kebenaran sejati.

Sesuai sabda-Nya bahwa saat dharma terinjak-injak di bumi dan dalam diri manusia, Tuhan turun menertibkan dharma itu kembali. Makna sesungguhnya bagi para karmin tiada lain adalah bangkitnya  dasar-dasar kesadaran dalam diri manusia, lalu  mengubah prilaku yang tibak baik menjadi lebih baik, benar dan mencapai kemuliaan lewat pengabdian hidup kepada dharma. Ketika  demikian ayat-ayat suci tidak ada lagi pada hapalan otak,  yang seringkali lupa tetapi, lebur menjadi tindakan berguna dan “Menyempurnakan”. Ketika sudah demikian “Damai” terjadi dengan sendirinya.

Memaknai kesadaran mencapai damai melalui regulasi kejiwaan panjang dalam badan yang selalu bergerak, memerlukan perhelatan panjang melalui tuntunan Sat Guru dan Sad Guru yang berwenang, sebagai hukum semesta pengetahuan. Kesadaran terhadap pentingnya pengetahuan bahwa semua yang terjadi dan tercipta oleh pengetahuan. Maka belajar dan “Berguru” adalah realitas yang hakiki nan pondamental.

Oleh karena itu menerima, meresapi aliran pengetahuan adalah “Kebenaran” untuk mencapai “Kebenaran”. Artinya bahwa regulasi memasuki aura gelap duniawi setiap orang dapat ditahan dan diangkat kembali mencapai sumber-Nya yaitu kebenaran sejati. Kebenaran inilah yang diperjuangkan oleh para suci Leluhur, lalu diajarkan agar manusia menemukan kedamaiannya masing-masing.

Ketika realitas itu telah berada dan menyatu dalam diri kita saat ini, maka memelihara, menumbuhkan  adalah karma jnana yang “Amat bernilai”. Bagaikan lampu akan terus menyala bila diisi minyak secara terus menerus. Memberi minyak adalah sadhana utama mencapai jalan pencerahan.

Menggelorakan kebenaran inilah wujud jiwa-jiwa kesatria dharma yang menjadi dambaan saat ini. Bukan meragukan kembali kebenaran sejati, bahkan larut dalam ocehan asura yang mengajaknya bersama-sama di alam gelap. Semoga menjadi renungan dan refleksi karma.

Facebook Comments

error: Content is protected !!