
Diserang Antrak, Produksi Cabai Turun
BANGLI (CAHAYAMAS.COM). Sejumlah petani di Bangli justru mengeluhkan berbagai jenis penyakit yang menyerang tanaman cabenya yang siap panen. Kondisi ini, menyebabkan petani cabe justru khawatir gagal panen ditengah harga cabai dipasaran cukup menjanjikan. Ganasnya serangan penyakit ini disebabkan oleh cuaca eskstreem yang terjadi belakangan ini. Petani cabai di Kabupaten Bangli meradang, lantaran tanaman cabai mereka diserang penyakit antrak dan kriting daun.
Menurut NI Wayan Siani salah seorang petani cabai, Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Selasa (6/9/2022) menuturkan cuaca ekstreem yang terjadi belakangan ini mengaki batkan tanaman cabai rentang terserang penyakit. Yang mana, penyakit paling sering menyerang di tengah cuaca tidak menentu ini adalah penyakit antrak dan penyait kriting daun. “Kita telah melakuan berbagai upaya pengobatan, namun tidak mempan. Sekarang kita hanya bisa pasrah dan kerugian hingga jutaan rupihan telah ada dipelupuk mana,” bebernya.
Lebih lanjut Sani menuturkan, bila tanaman cabai terserang antarak makan buah cabai yang saat tengah siap panen akan membusuk dan rontok. Sementara penyakit kriting daun mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dan sulit berproduksi.
“Penyakit ini memang kerap mengancam tanaman cabai sebagai dampak cuaca yang tidak menentu seperti yang terjadi belakangan ini,” ucapnya.
Diakui akibat serangan penyakit ini, petani dipastikan bakal merugi. Pasalnya saat produksi cabai turun hingga 70 persen, jadi meski harga alami kenaikan di pasaran kemungkinan tidak akan bisa menutupi biaya produksi.
“Kejadian seperti ini memang sering kami alami,” jelasnya
Sementara saat disinggung harga cabai di tingkat petani, saat ini, harga jual cabai di petani menembus harga Rp. 30 ribu per kilonya. Sementara produksi cabai di kebunnya hanya berkisar 20 kilo gram saja.
“Kalau biasanya dalam lahan ini saya bisa mendapatkan hasil 50 kilo gram sekali panen. Hasilnya jauh merosot,” katanya. *** Cahayamasnews.com/Tim=NT.









Facebook Comments