November 3, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“TERKESIMA”

Oleh : I Ketut Murdana (Sabtu, 8 Oktober 2022).

Terkesima pertama-tama dilihat dari kesadaran psikologis yang terpengaruh atau diresapi oleh vibrasi obyek, bisa saja obyek semesta yang indah, seni yang menyenangkan dan membahagiakan. Vibrasi obyek keindahan tersebut menimbulkan olah pikir dan daya kreatif seni budaya, mendulang kebajikan nan estetis. Memberi penyegaran estetik kepada umat manusia.

Kedua bisa juga terpengaruh oleh obyek-obyek material duniawi yang gemerlap menyilaukan mata, lalu mengaburkan mata batin hingga tangan  tangan tidak dapat memilihnya dengan baik, sesuai dengan kemampuan fisik dan daya harmoni kegunaannya. Salah pilih adalah awal kesalahan berikutnya. Kesulitan memelihara, kesulitan memaknai lalu tidak bisa menghargai, akibat terjadi kekacauan dan pemborosan.

Ketiga, terkesima bisa terjadi akibat rasa kagum atas dasar penghayatan sifat-sifat dan Kehamahakuasaan-Nya. Rasa kagum itu tercipta akibat terjadinya edukasi psikologis, berupaya melihat di balik realitas duniawi yang selalu berhubungan menyadi hukum “sebab” dan “akibat”. “Akibat” adalah realitas yang terindrawi secara fisik dan “sebab” atau yang menyebabkan adalah realitas psikologis yang mengadakan atau disebut proses.

Proses bisa terjadi akibat tersusunnya seperangkat pengetahuan yang “teruji”, lalu melahirkan aneka ciptaan. Ciptaan adalah “jawaban”. Seisi alam semesta ini adalah jawaban Sang Penyebab yang mengakibatkan terpeliharanya ciptaan. Lalu dinamis dalam proses penciptaan, terpelihara dan pada akhirnya lebur kembali. Kesadaran ini mencerdaskan pengelihat jasmani dan juga pengelihatan rohani, yang bisa membawa manusia cerdas melihat kebenaran dan cerdas melaksanakan kebenaran.

Memaknai sekelumit realitas ini maka “terkesima” pada kebesaran-Nya, lalu berubah menjadikan kesadaran olah pikir, kemudian menjadi penyadaran prilaku memuliakan-Nya adalah kebenaran sejati. Dalam kontek ini secara psikologis “terkesima” adalah membuka kesadaran  dan meluaskannya serta menguatkan keyakinan menjadi kesadaran spiritual yang berjati diri. Berupaya mencapai kesadaran inilah wujud pendakian spirit menjadikan sifat keilahian manusia sejati. Ideologi spiritual nan suci inilah yang digariskan para leluhur yang mengalir dari keluhuran-Nya melalui kitab-kitab suci. Realitas kebenaran inilah yang sesungguhnya membuat orang bijak selalu “terkesima”.

Persoalannya adalah di jaman Kaliyuga seperti sekarang ini, sebagian besar orang-orang “terkesima” oleh obyek material duniawi yang menyilaukan mata dan membutakan hati rohani. Akibat dari semua itu menjadi kecerdasan intelektual dan kekuasaan berenergi buruk tanpa energi suci. Gemuruh realitas inilah mengacaukan tatanan dan menggoyang pilar dan sendi-sendi keadilan hidup berbangsa dan bernegara serta kacaunya atmosfir kedamaian dunia.

Sangat berat memang bagi tumbuhan tanaman saat ini yang selalu dimakan oleh tumbuhan pagar, belum lagi aneka jenis hama yang selalu menyerangnya. Akhirnya tanaman tidak lagi bisa bergantung pada pagar, lalu menyerahkannya pada “yang menanam” dan “Yang memberi hidup pada tanaman”

Berganti-ganti masalah keburukan walaupun berbagai cara untuk menutupi terungkap jelas kepermukaan, yang membawa para manusia Asura kembali pada tempatnya yaitu ruang gelap. Tetapi bukan menjadi kapok malah tumbuh semakin menjamur bahkan menjadi semakin beringas, karena memang digerakkan oleh raja-raja asura. Terbukanya kasus-kasus keburukan yang memiskin rakyat, merupakan peringatan-petingatan Alam Semesta, tetapi asura buta tidak respon terhadap peringatan itu, akhirnya  hukum penghancuran terjadi dengan sendirinya.

Betapa pentingnya bagi setiap insan mempethatikan tanda peringatan itu agar selamat mencapai tujuan hidup. Dengan demikian dunia saat ini pada satu sisi dapat dilihat sebagai pertunjukan kuasa dan penghancuran sifat-sifat asura. Dan pada sisi yang lain adalah edukasi penyadaran semesta, agar pilihan kebajikan menjadi tujuan hidup.

Pertanyaannya haruskah kita “terkesima” dengan menjamurnya enerji asura seperti ini, jawaban umum adalah “pilihan”. Tetapi jawaban hidup sebagai manusia sesuai tujuan hidup manusia sesuai ajaran-Nya adalah menundukkan sifat-sifat asura itu dalam diri sendiri, agar bisa menjadi energi besar yang berguna bagi pembangunan peradaban luhur umat manusia di bumi.

Mencapai tujuan itu tidaklah mudah, tetapi yakinlah bahwa setiap langkah untuk menuju kebenaran itu, pasti dimudahkan oleh kasih pengetahuan-Nya. Dalam kesulitan menghadapi masalah mencapai tujuan itulah pengetahuan hadir memberi jawaban, sehingga disitulah dapat dirasakan kebenarannya sebagai wujud “pengetahuan yang membebaskan”.  Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

 

Facebook Comments

error: Content is protected !!