
“AURA KASIH”
“UJIAN KEYAKINAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu : 5 Pebruari 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Keyakinan terhadap “kebenaran Ilahi” memang selalu diuji oleh “keadaan”, yang selalu berlawanan. Peningkatan sifat-sifat keilahian akan selalu diuji oleh “kekuatan asura” yang sama. Keyakinan keilahian yang bersifat memelihara, menyelamatkan, melindungi, dan mendamaikan. Regulasasi gerak sistem cosmologis itulah “keabadian”. Asura bersifat menguji “kebenaran” itu.
Lahirlah kekuatan asura berbadan kasar dan berbadan halus, ingin menghancurkan dengan kekuatan besarnya. Ingin mencapai keabadian, menguasai sorgawi, bila kalah selalu bangkit jiwa balas dendam demikian seterusnya. Pertautan keduanya menjadi situasi atau keadaan zaman (Catur Yuga=Kerta, Treta, Dwipara dan Kali) dengan karakternya masing-masing.
Keadaan merupakan akumulasi resapan berbagai sifat lalu mengkristal menjadi pengukuhan pandangan, sikap prilaku, hingga bisa juga menjadi pembenaran bahkan seringkali juga menjadi penghakiman bagi yang bersentuhan. Dualitas pasti selalu terjadi karena akibat hukum semesta. Seseorang atau sekelompok orang yang telah menyadari realitas, dan menginginkan perbaikan untuk mencapai kualitas kebenaran yang diangankan atas keyakinan kepada Tuhan, pasti berupaya menembus misteri atau juga disebut kegelapan. Karena masing-masing orang mesti menyadari realitas “kebenaran” ini, hingga harus ditembus agar bisa melewati.
Melewati adalah realitas kebenaran perilaku (karma) yang tidak bisa dihindari oleh siapun yang hidup di bumi, karena bumi tempat edukasi perbaikan, ketika sadar mencapai tujuan hidup sejati. Kebenaran ini adalah edukasi atau juga pase-pase pendakian spirit yang telah “diajarkan” sejak zaman dahulu kala, oleh para suci yang diturunkan di bumi.
Realitas prilaku di bumi bagaikan seorang nelayan bila memasuki laut harus melewati riak-riak dan gelombang ombak pantai, mencari ikan di kedalaman laut tertentu. Menembus misteri inilah kecerdasan, tri kaya parisuda, etika dan kesantunan, keikhlasan dan keyakinan mesti ditempatkan dan diguna-laksanakan sebaik-baiknya serta sebenar-benarnya.
Ketika sudah demikian semua keyakinan bersumber dan kembali kepada-Nya, menjadi kekuatan bersama. Bukan bermain pada rasa keunggulan cara dan kemeriahan kulit, tetapi memasuki intisari nan esensial. Disinilah ruang pergolakan dan pergulatan yang paling sensitif dan variatif.
Oleh karena itu mewaspadai dan menyikapi dinamika ini adalah tindakan kesatria nan bijaksana, karena dia harus berperang tetap menggunan nilai kebajikan. Barangkali inilah pendakian spirit dalam edukasi semesta raya dan semesta kecil dalam diri setiap orang yang memerlukan perjuangan, serta pengetahuan material dan pengetahuan spiritual.
Pada ruang ini pula “keyakinan diuji” oleh semesta. Dalam kontek inilah keyakinan menempatkan posisi yang amat penting hidup yaitu: “keyakinan adalah kekuatan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidup sejati”. Saat kekuatan itu terus menerus terkondisi dalam peningkatan maka kemenangan dan kekayaan pasti terjadi dengan sendirinya.
Tetapi bagi “asura memandang keyakinan itu adalah kelemahan bagi manusia”, hingga asura terus menerus mengamati dan mencari kelemahan keyakinan manusia, agar bisa dirongrong dan dikuasai.
Dalam posisi seperti inilah keyakinan dan kecerdasan spirit yang disebut pencerahan diri, terus diasah hingga mencapai kualitas kebenaran yang benar-benar murni. Kualitas kebenaran inilah intisari keyakinan itu sendiri, yang bisa bervibrasi kepada siapapun, mencerahkan realitas beku, tanpa disadari. Begitulah realitas kebenaran dan keyakinan bila telah melewati gelombang gelap gangguan para asura maya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments