
“AURA KASIH”
“Perjuangan” adalah “Pengorbanan”
Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 26 Maret 2023).
Badung (Cahayamasnews.com). Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, tetapi bukan setiap pengorbanan bermakna utama memuliakan diri untuk mencapai kedamaian menuju pembebasan abadi. Pengorbanan merupakan yadnya yang wajib dilaksanakan bagi setiap orang.
Pertama yaitu: untuk membangun kesadaran diri guna meningkatkan tarap dan martabat hidup jasmani dan rohani.
Kedua adalah untuk menyadari semua anugrah yang mengalir terus menerus dari Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui alam semesta, manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Karena terus menerus mengalir maka disebut enerji abadi.
Ketiga adalah kesadaran mengabdikan diri pada pelayanan kebajikan (sewanam), yaitu pelayanan untuk perbaikan kepada keluarga, masyarakat bangsa dan negara sesuai keunggulan masing-masing. Melalui pelayanan inilah kebajikan akan berguna, bervibrasi dan mengalir terus selama kuasa Sang Waktu menyertai-Nya. Apabila pengetahuan dan kebajikan itu tidak diabdikan, maka hanya berguna untuk diri sendiri saja. Artinya bervibrasi terbatas dan kecil.
Kesadaran perilaku berkorban ini, bersumber dari “pengetahuan” dan “proses edukasi” yang panjang tiada henti. Bangkit dari keyakinan diri, melaluiĀ tertuntun Guru dan mengalir dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Setiap orang yang hidup di bumi ini mesti sadar melakukan proses edukasi semesta itu meresapi dan memaknai sifat baik dan buruk, suka dan duka, senang tidak senang, dan seterusnya. Bukan membiarkan keinginan nikmat hidup menguasai hingga yang ada hanya bayang-bayang kenikmatan.
Banyak sekali orang-orang terjebak realitas ini, di zaman Kaliyuga tanpa disadari. Karena kesadaran nurani yang lemah nan redup tanpa tujuan. Artinya, Guru Sejati belum hadir dalam diri sendiri, menuntun dan menggerakkannya.
Sadar berkorban merupakan “anugrah” karena telah menyiapkan diri bagaikan pipa penyalur air dari sumbernya ke obyek sasarannya. Kesadaran itu pula memahami dan memposisikan energi suci mengaliri pikiran, panca indriya, rasa, selera agar selalu terhubung, terkondisi dan terkendali oleh “jiwa yang suci terdalam” (atman).
Regulasi pengetahuan pengisian energi suci kejiwaan ini, amat halus sulit dirasakan. Tetapi kebenaran itu ada dan hadir terkondisi. Oleh karenanya memerlukan sadhana-sadhana penghalusan jiwa yang dilandasi kesadaran dan keyakinan tentang keberadaan-Nya.
Melalui pemahaman proses inilah “pengorbanan atau pelayanan utama pada diri sendiri yang sesungguhnya, yang digariskan Guru-guru Suci dalam kitab suci yaitu: kesadaran memposisikan material, tapa, yoga dan jnana. Karena pengetahuan yang tertinggi maka beaya study pun patut disadariĀ penyeimbangannya, ketika ingin mencapai kualitas yang “diharapkan”.
Karena pengetahuanlah yang dapat meresapi segalanya, dan semua tercipta dari pengetahuan, maka Tuhan Shiva disebut Mahaguru. Itu artinya refleksi kuasa menghadirkan “nama”. Kesadaran, keyakinan yang meresapi perilaku menjadikan kekuatan pelayanan yang penuh inspirasi, gaerah semangat menjadikan seseorang mencapai “kemenangan”: Dengan demikian “pengorbanan adalah pelayanan utama yang memuliakan”.*** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments