April 20, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Waspadai Jiwa-jiwa Agar Tidak Kosong”

Oleh: I Ketut Murdana (Senin:  27 Maret 2023).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Jiwa-jiwa yang kosong kekeringan, ditutupi kecerdasan nalar berpikir berorientasi materialistik semata, sangat mudah dikuasai sifat asura menyebabkan kehausan dan tunduk indriya-indriya serta menggunungnya egoisme. Kehausan seperti itu, menyebabkan seseorang sering lepas kontrol tak terkendali. Karena sumber kejernihan energi suci tertutup rapat tidak mengalirinya. Kondisi jiwa seperti ini terjadi tanpa disadari, karena pengaruh dan meresapnya amat halus sulit dikenal. Semua itu mengakibatkan kebingungan tak tentu arah. Inilah wujud kegelapan yang mengungkung jiwa-jiwa yang suci.

Semua itu diakibatkan oleh salah satu cara belajar dan cara berpikir hapalan, hanya untuk mengetahui, bukan untuk bisa menelusuri, memahami, keragaman sifat dualistik, harmoni dualitas, untuk mencapai kebijaksanaan. Realitas humanis yang mengangkat martabat ini terlewat begitu saja, hanya didorong untuk “mendapatkan”, lalu bisa menguasai yang lain. Akibat ambisi itu lupa mengendalikan emosi, yang membutakan kebajikan dan etika kesopanan hati nurani yang semestinya menuntun jalan mencapai tujuan kedamaian abadi.

Realitas ini menjadi arus besar yang melanda dunia saat ini, dengan berbagai penyangkalan mencari realitas “pembenaran” baru yang “dibenarkan” mengukuhkan secularisme. Akibatnya orang-orang beragama dipandang sebagai penyesatan hidup dalam ketidak berdayaan. Bagi mereka memandang bahwa; kebahagiaan bukan hanya bisa diperoleh di tempat suci, tetapi bisa di tempat lain, maka pemujaan seringkali dikalahkan oleh agenda pertandingan sepak bola, maupun event-event hiburan lainnya.

Kebenaran isme-isme ini menjadi tantangan bagi edukasi spiritual penegak dharma, yang meyakini bahwa jiwa bersumber dari Mahajiwa yang memerlukakan penyatuan penghapus kerinduan panjang berabad-abad kehidupan ini. Perjuangan, penyeimbangan dan pembebasan terhadap situasi ini, memerlukan kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial yang mantap, hingga mampu menembus kegelapan situasi zaman, mencapai pencerahan jiwa-jiwa yang sesungguhnya. Berjuang memantapkan kondisi jiwa seperti memerlukan keberanian, kesungguhan dan keikhlasan.

Apabila sudah demikian jiwa-jiwa telah dipenuhi sifat kesatria dharma, yang selalu menguatkan keyakinan kepada kebesaran-Nya. Karena hanya melalui perjuangan “anugrah besar” akan mengalir. Dengan demikian jiwa-jiwa yang kosong telah terisi kebajikan, sadar pada pelayanan kepada-Nya. Oleh karena itu, bagi yang sadar melaksanakan pelayanan kepada-Nya, kemenangan yang memuliakan martabat diri terjadi dengan sendirinya. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!