September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“HARI-HARI YANG TERSADARKAN”

Oleh: I Ketut Murdana (Rebo:  5 April 2023).

Menjaga stabilitas berpikir, bernalar dan berprilaku kebajikan, untuk mencapai kedamaian, inilah wujud hari-hari yang tersadarkan oleh kekuatan Ilahi nan suci cemerlang. Untuk itulah pengetahuan suci mengalir menyinari, meresapi, memaknai lalu mengekspresikan menjadi budaya yang “menjadikan” dan “memberi” hidup berguna dalam kehidupan.

Pengetahuan material dan pengetahuan suci tidak serta merta bisa diresapi, tetapi melalui proses panjang yang penuh rahasia  dalam aneka varian lika-liku dan dinamika kehidupan. Tidak semua orang mampu berhubungan langsung dengan sumber pengetahuan itu sendiri, hingga memerlukan penghubung yang mentranformasikan, mendidik, memahami agar menemukan aspek kegunaan fisik maupun spiritnya sendiri.

Artinya manusia harus belajar, sadar tidak sadar manusia sejak lahir sudah belajar dari Ibu dan bapak yang melahirkan. Melalui Ibu dan Bapak jasmani dan sifatnya dialiri pengetahuan untuk mendidik keturunannya yang disebut: Guru Rupaka. Barangkali karena terlalu dekat nan alamiah, hingga terlupakan begitu saja, tetapi bisa diingatkan kembali melalui edukasi di lingkungan sosial yang formal maupun non formal.

Adapula pula orang-orang luput dari kesadaran spiritual nan alamiah ini, hingga menyebutkan tidak perlu “berguru”, pada hal mereka sudah melewati tahapan proses berguru, itu sendiri. Apabila kembali pada hukum hak asasi manusia kini, ya benar juga agar tidak sibuk “belajar”. Itu artinya belum tumbuh niat untuk memperdalam esensi hidup dalam kehidupan.

Barangkali dari kedua realitas ini dapat dimaknai bahwa kehidupan selalu berhadapan dengan realitas nyata dan realitas tersembunyi. Dalam pemahaman dinamika yang panjang. Pada akhirnya hidup adalah “pilihan pribadi” dan juga bisa “terpilih”, yang tak terhindarkan. Ketika itulah ketundukan dan pembenahan terhadap “keteraturan” berjalan perlahan…entahlah sampai kapan jawaban Sang Waktu itu tiba.

Mengamati dan mulai dari persoalan edukasi ini, tentu tidak mudah mengingat, merasakan serta membangun kesadaran ini. Tetapi bisa ingat selalu pada Ibu dan bapak, barangkali tidak tahu atau melupakan kesadaran proses edukasi itu. Berbagai persoalan menutupi kesadaran ini, hingga saatnya melakukan hal yang sama. Terutama renungan terhadap kesadaran terhadap realitas itu sendiri.

Artinya seseorang ketika sudah memasuki rumah tangga dan melahirkan keturunan, serta bagaimana upaya melayani kewajiban itu sendiri. Saat seperti itulah renungan itu terjawab. Apa jawabannya adalah kualitas pikiran, perkataan dan perbuatan. Saat seperti itulah ekspresi kejiwaan menjadi pertaruhan kualitas pribadi dan bervibrasi keluar pada lingkungan sekitar, terhadap kualitas kecerdasan dan budi pekerti tampilannya.

Saat-saat seperti itulah aneka ragam respon sosial terjadi. Ada yang menilai positif dan ada pula menilai negatif saat ini saja. Ada yang lebih bijaksana, melihat proses yang panjang, bahwa kehidupan manusia penuh rahasia. Oleh karena itu tidak mudah menjustifikasi sebuah realitas.

Dinamika seperti ini seringkali mengaburkan, membingungkan bahkan membuat sesorang senang dan juga tidak senang. Tetapi pengalaman panjanglah yang perlu menjadi pertimbangan bijaksana agar evaluasi menjadi lebih netral dan naturalistik. Artinya subyektifitas yang amat terbatas tidak boleh mengaburkan jalan dan nilai kebenaran yang berproses panjang.

Proses panjang inilah memerlukakan kesadaran bahwa prolem setiap hari, terkadang jelas menyenangkan membahagiakan dan terkadang misteri bahkan menakutkan. Ketika seseorang tertimpa masalah, sosial, fisik yang terkena penyakit yang tak terditeksi logis dan seterusnya. Tentu amat menakutkan mengakibatkan stress.

Dalam kontek inilah Sang Pemelihara kehidupan adalah Guru yang bekerja melayani ciptaan-Nya. Kesadaran terhadap kebenaran ini, dan selalu memuja serta tulus mohon perlindungan-Nya, adalah kehidupan yang terhubung pada Guru semesta atau Sat Guru, bagaikan kabel listrik telah terhubung pada colokannya, maka lampu pencerahan akan menyala dan menghapus kegelapan. Artinya kesadaran terhadap masalah dan terbuka jalan keluarnya. Apabila hubungan ini terlaksana dengan baik, maka hari-hari akan dipenuhi oleh kesadaran, yang disebut jiwa memperoleh “pencerahan”. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

 

Facebook Comments

error: Content is protected !!