September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“LEBUR DALAM KEBAJIKAN”

Dipetik dari Sarasamuccaya: 2-4.

Oleh: I Ketut Murdana (Rebo:13 September 2023).

Di antara semua makhluk hanya manusia sajalah yang memperoleh berkat pengetahuan untuk hidup. Artinya, hidup secara jasmani dan hidup menuju pencapaian kesadaran rohani. Berbuat kebajikan melebur sifat-sifat buruk melalui pengetahuan suci anugrah-Nya mencapai kedamaian abadi.

Sangat berbeda dengan sifat-sifat binatang, hanya berposisi pada satu aspek naluriahnya. Akibat semua itu binatang bisa dipelihara agar bisa membantu tugas-tugas dan kewajiban manusia secara jasmani dan rohani. Artinya binatang “diajak” menyempurnakan dirinya melalui pengabdiannya kepada manusia dalam arti seluas-luasnya. Demikian juga tumbuh-tumbuhan dengan segala jenisnya. Termasuk juga benda-benda padat “tak bernyawa”, selalu dibutuhkan manusia. Realitas ini menempatkan, bahwa pada sisi yang lain manusia dibutuhkan oleh makhluk hidup lainnya, dalam arti terbatas dan juga dalam arti luas.

Kesadaran terhadap realitas kebenaran kosmik ini, menempatkan karma baik manusia mencapai “guna”. Artinya memberi manfaat sebaik-baiknya secara jasmani maupun rohani. Kesempatan berbuat baik, berlandaskan pengetahuan material dan pengetahuan spirutual ini, hanya bisa diperoleh “saat hidup menjadi manusia”. Oleh karena itu pergunakan waktu sebaik-baiknya agar dapat memuliakan diri semulia-semulianya. Menjadi keluhuran budi yang bervibrasi.

Penjelasan kitab suci Sarasamuccaya di atas, mencerahkan dan menguatkan keyakinan iman umat manusia agar sadar dan mengenal serta memahami eksistensi hidup jasmani dan rohani di dunia pana ini. Bukan suntuk pada  hal-hal yang jasmani material saja, tetapi berjuang dengan penuh kesadaran menuju jalan “penyatuan” mencapai sumber yaitu: “kedamaian Abadi”.

Menyesali kelahiran berdasarkan pengetahuan suci, bukanlah “kesadaran” tetapi “terliput oleh awidya”, yang belum melihat dan merasakan secara jernih, rahasia kebenarannya, serta pengaruh pahala dari karma masa-masa lalunya. Inilah reaksi pahala dari karma yang mempribadi, berkaitan dengan gelombang situasi yang mengitarinya. Orang-orang senang sembahyang pasti dekat bersahabat dengan orang-orang, dan infrastruktur penyedia barang-barang perlengkapannya.

Berorientasi pada realitas duniawi ini, sesungguhnya telah tercipta aneka gelombang-gelombang destinasi, bagaikan air dengan sungainya, menuju lautan.  Menemukan sahabat untuk mengedukasi kesadaran inilah yang diperlukan untuk mengantisipasi segala bentuk keragu-raguan mencapai stabilitas keyakinan. Proses inilah realitas menjawab angan-angan yang seringkali membingungkan, karena terjebak selaput illusi awidya. Banyak orang di jaman ini terjebak reslitas itu, akibatnya kebingungan semakin memuncak menuju ambang batas “kabut strees”.

Saat seperti inilah seringkali seseorang, merasa tiada guna menjadi manusia, lalu menceburkan diri memasuki pintu neraka dengan ragan gaya tarik ilusinya. Namun dibalik itu semua, kesadaran jiwapun saat itu terbuka merenungi kembali akan hukum semesta lalu memasrahkan diri kepada-Nya. Saat-saat seperti itulah sinar suci kesadaran mengantarkan pada jalan lurus menuju kebenaran duniawi dan reslitas keabadian yang seharusnya di perjuangkan.

Kebenaran inilah wujud kehadiran-Nya, melalui sifat-sifat Kuasa Suci Yang Mencerahkan, menembus  rahasia dibaliknya, menjadi kesadaran dalam hidup mencapai kesejatian diri.

Berjuang terus meleburkan diri dalam kebajikan, adalah menguatkan iman keyakinan kepada-Nya, adalah “proses pencapai guna hidup” itu sendiri. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!