
“AURA KASIH”
“MAHALSA, MEMAKNAI HARI IBU”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat: 22 Desember 2023).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Akibat cemburu kepada Dewi Gangga, karena disimpan dalam gulungan rambut Dewa Shiva, untuk menyelamatkan dunia dari gempuran dahsyatnya kekuatan Dewi Gangga. Menganugrahi permohonan kesungguhan tapa dari Raja Bagiratha, untuk membebaskan kutukan leluhurnya. Akibat kutukan Maha Rsi Kapila yang amat suci dan sakti. Saat itu Dewi Parwathi tidak berada di samping Dewa Shiva, karena sedang melaksanakan misi besar-Nya melayani pemuja-Nya atas permohonan para candal yang hidup di hutan yang amat kering dan tandus.
Akibat kecemburuan yang memuncak, dan untuk menguji cinta dan kesetiaan Dewa Shiva, Dewi Parwathi meminta Dewa Shiva (Mahadewa) untuk meminang dan menikahi-Nya kembali dalam wujud manusia. Itu artinya Dewi Parwathi dan Mahadewa harus berwujud manusia (dari Nirguna Brahman menjadi Sadguna Brahman). Oleh karena Dewi Parwathi dahulunya adalah seorang putri raja Himawan yang amat dermawan (manusia biasa). Oleh karena cinta dan perjuangan mewujudkan rasa cinta-Nya yang luar biasa kepada Dewa Shiva hingga bisa menjadi seorang Dewi pendamping Dewa Shiva, hingga bisa menjadi Dewi Maha Kali.
Pada suatu saat Dewi Parwathi mendeterminasi diri-Nya (menghilang) dari alam Shiva Loka, memasuki raga jasmani, turun ke dunia lahir melalui rahim seorang ibu pemuja Shiva yang sangat taat dan berpropesi sebagai tukang gerabah (keramik). Saat itu keadaan desa itu sedang dikacaukan oleh keganasan para asura, seorang Ibu hamil dan suaminya ketakutan, lalu lari memohon perlindungan di depan Lingga Yoni. Saat itulah Dewi Parwathi lahir menjadi seorang putri cantik yang diberi nama Mahalsa.
Keangkuhan para asura semakin menjadi-jadi mengacaukan desa itu. Karena tunduk pada perintah Asura Mala dan Mani yang amat sakti, sangat tertarik pada kecantikan Dewi Parwathi yang ingin dijadikan permaisuri. Oleh karena Dewi Parwathi menghilang dari Kailasa Asura Mala dan Mani sangat gelisah berupaya untuk menemukan Dewi Parwathi dalam kelahiran-Nya sebagai manusia. Oleh karena kekuatan indranya Mala dan Mani dapat merasakan vibrasi suci tentang kelahiran Dewi Parwathi itu, tetapi tidak bisa melihat wujudnya. Oleh karena itu mereka terus mencari hingga mengacaukan keadaan desa.
Keadaan ini menggerakkan hati Mahalsa putri muda yang cantik, untuk melawan dan melindungi masyarakat desa yang tertekan dan ketakutan oleh keangkuhan, kesewenang-wenangan dan kebengisan para asura. Mahalsa selalu menang menghadapi para asura itu, walaupun demikian keadaan ini membuat kedua orang tuanya khawatir tentang keselamatan Mahalsa. Walaupun
orang tuanya sering kali sangat tercengang menyaksikan kekuatan serta keberanian yang dimiliki putrinya. Mengantisipasi kekhawatiran itu kedua orang tuanya meminta menghentikan perlawanan dan berperang dengan para asura, lalu mengalihkan minatnya untuk ikut mengerjakan pesanan gerabahnya, agar bisa melupakan peperangan.
Saat Mahalsa sibuk, membuat gerabah itulah datang seorang pemuda tampan penuh keanehan dan keajaiban bernama Matan, tiada lain adalah jelmaan Dewa Shiva dalam wujud pemuda tampan, gagah dan cerdas. Lalu menawarkan diri untuk membantunya. Kecurigaan Mahalsa terhadap tawaran itu cukup mengkhawatirkan, tetapi dalam sekejap sejumlah gerabah terselesaikan, yang dapat mengagetkannya. Saat itu Matan berucap akan selalu melindungi Mahalsa dalam setiap kesulitan.
Pada sisi yang lain Dewa Ganesha, Dewa Kartikeya, Nandi, dan Dewa-dewa yang lainnya sangat gelisah mengapa Ibu Dewi Parwathi tidak menyadari dan mengenal “diri yang sesungguhnya” dan juga ayah (Dewa Shiva) yang selalu berada disampingnya. Selanjutnya kapan Ibu bisa kembali ke Kailasa alam Shiba Loka
Saat itupula Dewa Ganesha berubah wujud menjadi seorang anak, membantu Matan membuat gerabah. Saat itu Dewa Gabesha membuat gerabah, sambil merangsang ingatan masa lalu Mahalsa, pada saat membuat modak bersamanya di Kailsa, dengan maksud menyadarkan diri-Nya pada kesadaran diri sejati (Ilahi). Saat itu Mahalsa juga terbawa renungan pada dirinya sendiri, tetapi juga belum mencapai kesadaran Ilahinya.
Menyadari kondisi itu Mahalsa semakin menaruh hati dan jatuh cinta kepada Matan.
Melalui perasaan cinta Mahalsa, juga dipermainkan oleh Matan dengan menaruh perhatian kepada Dewi Gangga yang sengaja dihadirkan untuk memancing kemarahan dan kecemburuan Mahalsa.
Kemarahan dan kecemburuan Mahalsa memuncak saat itu, lalu dimanfaatkan oleh Matan untuk merayunya…hingga tibalah saat perjanjian cinta, menjadi rencana peminangan dan pernikahan. Saat itu kedua orang tua Mahalsa menerima lamaran Mahalsa, dan ingin mencari hari baik. Tiba-tiba Dewa Wisnu yang hadir dan menyamar menjadi Pendeta, berkata; “tidak perlu hari baik lagi bagi seorang yang menguasai waktu di dunia ini”. Selanjutnya meminta hari itu juga dilaksanakan upacara pernikahan. Saat itu membuat kedua orang tua Mahalsa bingung dan khawatir tentang persiapan upacara yang sangat mendadak.
Saat itu Dewa Ganesha dan Nandi mengacungkan tangan siap melakukan segala persiapan (menyadari kuasa para dewa melalui restu Mahadewa, berkat akan mengalir dengan sendirinya). Saat itu Dewa Wisnu bersama Dewi Laksmi menjadi Pendeta, Dewi Gangga, Dewa Brahma, Dewa Indra beserta Dewa-Dewi lainnya menyaksikan pernikahan Dewa Shiva dengan Dewi Parwathi dalam wujud manusia yang amat langka ini, menjadikan alam semesta beserta isinya sejahtera, riang gembira, bahagia dan damai.
Menyaksikan kehadiran para dewa dan dewi surgawi, menjadikan Dewi Parwathi menyadari keilahian diri-Nya kembali. Demikian pula orang tua Mahalsa menangis keharuan, karena saat itu baru menyadari telah diberi kesempatan melayani kelahiran Dewi Parwathi ke dunia dan mengenal Mahadewa dalam wujud seorang pria tampan bernama Matan. Kebahagiaan yang luar biasa ini juga bisa menjadi mertua Matan yang tiada lain adalah Mahadewa sendiri.
Memaknai narasi purana diatas, betapa mulianya seorang Ibu yang telah yang diberi kesempatan melahirkan jiwa-jiwa besar yang mampu mengayomi rakyat bangsa dan negara. Walaupun mencapai kemuliaan itu, memerlukan perjuangan yang tidak ringan, tetapi pasti tercapai, karena “kebesaran-Nya tak mungkin terkalahkan”. Selamat Hari Ibu. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments