
“AURA KASIH”
“CINTA KASIH MENEMBUS BATAS”
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu: 14 Januari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Kasih-Nya yang tiada henti, terus mengalir meresapi jiwa-jiwa manusia dari jaman ke jaman. Kasih-Nya pula menyadarkan kita wajib bergerak maju memperbaiki tahapan hidup material dan spiritual serta menyempurnakan lahir dan bhatin. Menyadari “akibat” belum tercapainya kesempurnaan itu, manusia terus diberi kesempatan berganti-ganti badan untuk penyempurnaan rohani, agar mencapai kebebasan abadi. Merupakan kewajiban utama, ketika kita sadar bahwa agama dan spiritualitas diturunkan untuk membawa dan mengedukasi manusia ke jalan terang kehidupan sejati.
Tidak semua orang “sadar” berpikir dan berprilaku agar bisa sampai pada tataran hakekat kehidupan itu sendiri. Semuanya itu karena terjebak kembali dalam kehidupan material duniawi yang seringkali dibangga-banggakan, bahkan melewati “batas”, hingga banyak yang terjebak pada pemburuan melalui cara-cara yang tidak normatif.
Walaupun semua kehidupan ini tidak terlepas dari pengaruhnya, tetapi sadar terhadap kegunaannya adalah inti kesadaran mencapai kebenarannya. Artinya material berperan sebagai energi menggerakkan swadharma, untuk pelayanan kebajikan agar selalu tertuju kepada-Nya. Menjadi pelayan dharma yang tulus kepada umat manusia.
Dalam dinamika kontek inilah keyakinan seringkali dirundung masalah yang seringkali disebut “ujian”. Kesadaran akan diuji, tentu bisa menjadi penyadaran dan penguat keyakinan untuk menghadapi.
Akibat lemahnya energi, tetapi masalahnya harus diselesaikan, saat itulah gerak masalah selalu datang menantang untuk segera diselesaikan. Kemampuan menghadapi masalah-masalah itulah merupakan proses pendewasaan dan keteguhan iman terjadi. Artinya keimanan itu adalah kualitas masalah dan kemampuan menyelesaikannya.
Keinginan maju dan mengendalikan diri, menguatkan iman keyakinan merupakan paduan tak terpisahkan menunggu energi mengalir kembali. Mengkondisikan gelombang ini juga merupakan kesabaran sebagai refleksi konfiguratif kebijaksanaan dan kecerdasan spiritual mencapai cita-cita yang tanpa batas. Gelimang masalah dan menemukan solusi bijak serta masalah teratasi, inilah “pengetahuan” dan “realitas kebenarannya” dilapangan pengabdian.
Saat-saar seperti inilah keyakinan, keberanian dan penyerahan diri semakin tajam menembus kegelapan yang ada di dalam diri serta di luar diri dalam kehidupan sisial masyarakat. Ketika itulah pengetahuan suci atman dan Brahman (Jnana Buda Siwa) benar-benar mumpuni, menembus hambatan dan membahagiakan. Saat itu pula kasih suci-Nya terasa selalu meresapi jiwa bergerak maju dan mengatasi segala rintangan. Begitulah wujud “perlindungan-Nya”
Agar sampai pada kebenaran itu, memerlukan dedikasi yang “cukup”, artinya bagaikan menanam pohon kelapa, pada saatnya tiba pasti akan berbuah. Untuk memperoleh buah yang banyak dan sehat memerlukan perawatan yang baik. Perawatan inilah sadhana. Demikian pula nyala api akan bersinar terang bila sumbu dan minyak terus diisi, itulah yadnya yang langsung bersentuhan dengan obyek dan kegunaannya. Secara tidak langsung seseorang dididik untuk sadar “memelihara” dengan cara berkarma memelihara obyek karma itu sendiri. Dari situlah berkat akan mengalir. Berkenaan dengan semua itu, bahwa kekuatan dan keyakinan itu mengalir dari pengetahuan yang bersumber dari Sat dan Sad Guru. Kesadaran menghormati kebenaran itulah bhakti Guru yang sesungguhnya.
Melelaikan prilaku yang berpengetahuan, akan semakin menjauh dari kebenaran, maka hidup semakin redup lalu diliputi penuh kegelapan. Itulah kerja hukum alam, yang patut disadari dan diperjuangkan dengan penuh cinta kasih. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments