
“AURA KASIH”
“MENGHORMATI GURU”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis: 01 Pebruari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Bergesernya paradigma saat ini dari pandangan masa lalu bahwa Guru adalah pengalir dan penuntun ilmu pengetahuan yang mencerdaskan umat manusia. Karena itu dipandang “Berjarak” secara fisik, hingga menimbulkan multi interpretasi. Sesungguhnya bukanlah demikian, terjadi berkali-kali Awatara ke bumi, itu artinya Tuhan melalui salah satu sifat-Kuasa-Nya melayani umat-Nya untuk mengenal dharma. Ketika memasuki alam kemanusiaan, bahwa persoalan kecerdasan bisa berubah akibat ditindih ego menjadi egoistik kekuasaan, hingga pengetahuan pun bisa terbendung, menempati klaster-klaster tertentu saja.
Sekarang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sudah semakin canggih, bahkan super canggih. Pendidikan tidak saja berorientasi formal, tetapi memasuki dunia informal bahkan mempribadi, hingga paradigmapun bergeser bahwa Guru sekarang adalah pelayan dan fasilitator. Tetapi secara esensial sesungguhnya tidak bergeser, yang bergeser, berubah, dan berkembang hanyalah persoalan metodologis.
Semuanya itu terjadi akibat perkembangan kecerdasan intelektual dan karakteristik manusianya sebagai peserta didik mencapai prestasi kemandiriannya. Kemandirian dan keunggulan personal sebagai ciri utama kemajuan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ini, bergerak sangat agresip, lebih berorientasi pada persoalan materialistik duniawi, dari persoalan rohani yang mendamaikan. Akibatnya terjadi penguasaan material yang terukur secara kuantitatif.
Hingga ukuran kesejahteraanpun hanya diukur dari perspektif kepemilikan dan penguasaan material. Ketika melihat tujuan pendidikan adalah “Memanusiakan manusia”, dapat diartikan bahwa manusia bukan hanya makhluk material biologis tetapi juga makhluk berakal budi, sosial dan religius. Dunia pendidikan material dan spiritual mengedukasi penyempurnaan di ranah sosial dalam mencapai kesempurnaan rohani (kebebasan abadi).
Dalam kontek inilah peran Guru yang “Melayani” edukasi sesuai tujuan pendidikan di ranah pengetahuan material duniawi dan pengetahuan spiritual penyempurnaan rohani menjadi sangat sentral dan penting, mensubstasikan sifatnya menjadi Catur Guru bahkan Panca Guru (Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa, Guru Suci dan Guru Swadyaya)
Ketika kita melihat, merasakan dan memaknai sifat Kemaha-kuasan-Nya, bahwa “DIA” (Sat Guru-Guru Swadyaya) melayani segala kebutuhan ciptaan-Nya jasmani dan rohani. Semuanya itu bermuara dari pengetahuan, kemudian “DIA” mengalirkan, menuntun dan mengampuni agar manusia mencapai “Pembebasan”. Dari pemahaman ini lahirlah sistem perguruan yang mendekatkan Guru-Acarya dengan murid-muridnya atau para sadhaka yang disebut upanisad. Itu artinya pelayanan Sad Guru (Guru Suci) bisa dekat secara jasmani dan secara perlahan dekat secara rohani. Artinya, seorang murid atau sadhaka dapat mengenal sifat-sifat kuasa-Nya yang meresapi jasmani Gurunya. Dengan demikian, para murid atau sadhaka lebih mudah mengenal sifat-sifat dan Kuasa “Jungjungannya”.
Memaknai sistem edukasi formilitas di dunia material dan di dunia spiritual adalah kebutuhan esensial nan vital. Oleh karena itu, penyeimbangan edukasi kedua aspek itu adalah keharusan. Dalam kontek penyeimbangan inilah dinamika persoalannya, yang mesti dihadapi secara sungguh-sungguh. Tetapi semakin tertuju ke arah vertikal dunia material perlahan ditinggalkan dan diikhlaskan, agar perjalanan rohani tak terbebani mencapai pembebasannya.
Memahami energi pengetahuan material dan pengetahuan suci spiritual yang meresapi segalanya, maka sifat-sifat kuasa-Nya sebagai Sad-menjadi Sat Guru yang meresapi (Wibhu Sakti) dapat dirasakan kebenaran-Nya. Oleh karena itu penghormatan dan pemuliaan sontak terjadi dengan sendirinya. Saat itulah seorang murid atau sadhaka mengenal sifat keilahian Gurunya. Dengan demikian, penghormatan dan pemuliaan adalah inheren, artinya menjadi kewajiban yang melekat. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments