
“AURA KASIH”
“KEMENANGAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat: 16 Pebruari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Kemenangan dimulai dari kuasa yang ditentukan oleh “Suara”, untuk “Memenangkan”, memerlukan perjuangan panjang bersama-sama. Karena yang akan menikmati kemenangan itu adalah seluruh rakyat. Kemenangan suara adalah dimulainya kuasa; “Tanggung jawab” yang harus dilaksanakan berdasar Dasar Falsafah negara dan undang-undang dasar untuk mencapai tujuan, meningkatkan tarap hidup lahir dan bhatin berbangsa dan bernegara. Dalam kontek inilah dinamika dan hiruk pikuk diantara kepentingan bangsa dengan kepentingan pribadi atau golongan berkutat, bisa mendominasi dan yang terpental terpinggirkan.
Efek dari masalah ini menjadi dinamika dan konflik yang tiada henti sepanjang jaman. Kekuatan pemimpin pemenang adalah mengorganisasi dan memposisikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Memperoleh kemenangan suara, memerlukan langkah panjang edukasi memberdayakan sikap masyarakat agar selalu menjungjung tinggi persatuan dan kesatuan. Memahami secara benar dan sadar hak dan kewajibannya.
Mengakomodasi yang terpinggirkan dan yang sengaja meminggirkan diri demi idealisme tertentu. Peran besar pemimpin mengkondisikan penyatuan dalam penyadaran hingga semakin tumbuh kebanggaan sebagai bangsa yang bermartabat. Bukan sebagai bangsa yang selalu bangga menengadahkan telapak tangan sana sini. Lalu membiarkan orang asing yang menguasai potensi alam yang amat subur ini.
Mengubah kemalasan sikap priyayi menjadi “pekerja keras berpengetahuan” adalah “perjuangan dan tanggung jawab yang dimenangkan”, agar benar berjalan atas dasar tanggung jawab “memenangkan”. Hingga setiap orang yang telah dimenangkan bisa mencapai tahapan-tahapan kemenangan yang dicatat oleh sejarah bangsa itu sendiri. Menjadi bangsa yang penuh prestasi yang membanggakan
Ketika sudah demikian rakyat pasti bangga dengan pemimpin yang dimenangkan, bukan arif-arif di awal untuk menutupi kerakusan berikutnya. Lalu yang dipikirkan adalah anak dan cucunya sendiri saja. Akibatnya “anugrah kemenangan” berubah menjadi “kutukan”. Walaupun realitasnya banyak terjadi, tetapi belum menjadi “penyadaran” yang sungguh
Rakyat dan bangsa ini sudah semakin dewasa dalam percaturan dunia, maka pemimpin yang dimenangkan sudah semestinya mengangkat dan mengukuhkan citra kebajikan itu di mata dunia. Bukan malah selalu diragukan oleh dunia luar, hingga terjadi kompetisi yang kurang sehat dan mengecewakan
Ketika konstruksi kemenangan dan kejujuran sikap, menjungjung tinggi persatuan dan kesatuan semua lini, maka energi alam semesta pasti melindungi dan memperkuatnya. Lalu anugrah “kemenangan” yang sesungguhnya yaitu mensejahterakan rakyat jasmani dan rohani pasti terjadi. Ketika itu jaman keemasan yang didukung oleh generasi emas dengan segala kecemerlangannya bisa menjadi milik seluruh rakyat. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments