
“AURA KASIH”
“ENERGI SUCI YANG MERESAPI”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin: 19 Pebruari 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Kekosongan hati nurani mengakibatkan orang-orang banyak mengekspresikan “sesuatu” sekedar ekspresi. Ekspresi tindakan ini lebih dikendalikan oleh energi indriya dan kesenangan olah pikir dan kepentingan “sesaat”. Oleh karena itu amat mudah tergoda oleh napsu yang menyesatkan, hingga energi suci semakin lemah mengalir dan tidak bisa meresapi dan menyuburkan benih suci kerohanian.
Salah satu ekspresi dikalangan “para tokoh” banyak bicara tetapi tanpa energi suci yang bervibrasi. Karena apa yang dibicarakan atau apa yang dijanjikan terabaikan begitu saja, hingga terjadi “tokoh-tokohan”. Berwajah tokoh tetapi berprilaku penguras energi rakyat.
Semua itu akibat pengisian dan menjejali otak dengan pengetahuan rasional, intlektual konsumsi pendapat-pendapat untuk memperbanyak “pendapatan” untuk dapat menguasai. Karena demikian gelombang jaman Kaliyuga yang dianggap “kebenaran” dan “dibenarkan”. Tentu dampak psikologis gelombang gerak jaman ini telah dapat dirasakan dampak buruk dan dampak baiknya.
Membiarkan dan melupakan jiwa kekeringan energi suci kasih sayang ini, tentu strees sosial semakin banyak. Akibat strees itu banyak sekali orang-orang terperosok ke dalam dunia gelap, menjauh dari ajaran suci spiritual, lalu terjebak menyerahkan diri pada material dunia mustik dengan berbagai wujudnya.
Pada sisi yang lain, karena disibukkan oleh banyak pendapat konstruksi-konstruksi kebenaran teksual, maka esensi kemurnian personalitas menjadi kabur dan identitas diripun semakin kabur dan melemah. Akibat semua itu keyakinanpun semakin menjauh, karena itu sangat mudah banting setir, tergantung “kepentingan” politik dan selera aktor pemesan. Demikian pula panatisme keturunan, teks-teks suci dan janji-janji kenikmatan surgawi dimainkan dengan prangkap dogma-dogma untuk mencari pengikut, agar bisa memunculkan diri sebagai tokoh.
Ketika sudah demikian sangat menjanjikan sebagai kuda pendulang emas. Kepanaan atau degradasi moral ini semakin kuat arusnya, yang ada hanyalah mengukuhkan “pembenaran”, akibatnya yang dibela bukan kebenaran dan kedamaian bersama, tetapi kepenting sesaat yang menyesatkan banyak orang. Hukum dimanfaatkan kepada orang lain atau lawan yang salah, tetapi tidak berlaku bagi dirinya atau kelompoknya yang bersalah.
Entahlah sampai kapan dharma dan kebenaran terinjak-injak seperti ini, tentu menempatkan kewajiban mengabdi kepada dharmalah kebenaran itu akan dapat dirasakan. Karena pribadi-pribadi abdinya itu terangkat oleh dharma itu, hingga tidak lagi terbius kerahasiaan, tetapi nyata dapat dirasakan kebenaran-Nya. *** Semoga Menjadi Renungan yang Cerdas dan Arif Bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments