September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MENYADARI TANDA”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 01 Maret 2024).

BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika Sang Jiwa telah terbuka, menyaksikan realita indrawi maupun non indrawi. Semuanya itu menjadikan pengamatan yang sesungguhnya, untuk mengenal dan memahahami realitas dan rahasia yang tersembunyi di baliknya. Jnana Buda Siwa secara esensial, telah berperan besar mengalirkan, membuka dan menembus misteri, melalui energi suksma kemaha-kuasaan-Nya. Energi sukma ini sulit dijangkau oleh rasa indrawi yang biasa, memerlukan gelombang khusus yang disebut gelombang delta. Menyiapkan diri untuk mencapai gelombang delta nan halus dan suci itu, memerlukan penyucian diri yang terus menerus, karena debu-debu emosi yang tercipta dari napsu, indriya keseharian yang terkadang kurang, bahkan tidak terkontrol sama sekali, hingga sadar tak sadar mempengaruhi pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Empat pilar yang digariskan dan diajarkan serta dilaksanakan melalui doa-doa yang tulus, menjadikan konstruksi-konstruksi psikologis yang menundukkan pikiran agar lurus dan tunduk pada swadharma mencapai dharma sejati. Pemahaman dan penghayatan terhadap pilar-pilar pembentuk sikap dharma ini, sangat penting agar tercipta pengkondisian dan konfigurasi semua unsur, Rajasika dan Tamasika terkendali sifat-sifat Sattwam. Pemahaman dan penghayatan menjadi sangat penting, bagaikan kita berjalan di jalan raya, agar tidak tersesat mesti selalu melihat rambu-rambu.

Tetapi rambu-rambu dalam berjalan menyempurnakan kejiwaan itu adalah “Kepekaan rasa”, bisa hadir rasa enak dan tak enak. Itu artinya tanda-tanda hadirnya Sang Maha Penuntun (Sat Guru) meresapi seluruh indriya dan kemurnian hati nurani. Walaupu tanda-tanda itu terkadang amat abstrak (rahasia) tetapi bisa mengajak raga, rasa dan pikiran merenung sejenak, untuk memikirkan “Apa itu”, hingga waktu kejadian tertentu bisa tertunda akhirnya raga selamat dari situasi itu. Kerja alam semesta yang luar biasa ini, seringkali menjadi ketakjuban, kagum lalu lahirlah ucapan sontak sebagai rasa syukur.

Betapa besar dan tak terhingga kasih-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara, Pelebur, Pemralina dan Pembebas, yang patut disadari melalui swadharma mencapai dharma sejati. Artinya melayani kebutuhan jasmani pribadi dengan kebajikan, lalu melayani kuasa-Nya dalam menegakkan dharma di bumi. Dalam posisi inilah sadar akan swadharma dan dharma adalah esensi suci kejiwaan yang hadir dalam diri sendiri, bergerak keluar membesarkan kesadaran jiwa menjadi pelayan-Nya di bumi.

Keteladanan ini dilakukan oleh Rsi Agastya mengemban misi suci, mengajarkan dharma dari India ke Asia Tenggara, hingga dimuliakan oleh Raja-raja di Nusantara menjadi Mahaguru. Beliau sangat dihormati dan diarcakan sebagai Bhatara Guru. Itu juga artinya tanda kehormatan atas kemuliaan jiwanya mengemban misi dharma di bumi. Saat ini ajaran-Nya masih hidup berkembang, walaupun gempuran atas perubahan, perbedaan, dan perlawanan, atas uji coba semesta atas kebenaran itu sendiri. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!