
“AURA KASIH”
KESUCIAN JIWA, KELUHURAN TEMPAT-NYA
Oleh: I Ketut Murdana (Minggu, 24 Maret 2024).
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Jiwa-jiwa yang kosong kekeringan, akibat ditutupi kecerdasan nalar berpikir materialistik, menyebabkan kehausan indriya-indriya dan mengunungnya egoisme tak terkendali, lahirlah asura-asura cerdas menguasai. Ekspresi sifat prilakunya selalu ambisi dan bernapsu menguasai dunia. Melupakan apa yang seharusnya dilakukan untuk dunia. Kekuasaan dan menguasai serta kemewahan duniawi adalah kebenarannya, bukan menguasai kebenaran dan kesucian untuk hidup serasi dibumi. Akibat semua itu menyesakkan tempat hadirnya sifat-sifat suci penyeimbang dan pendamai keseluruh aspek kehidupan. Mengakibatkan sumber penjernihan yang membangkitkan dan mengalirkan energi suci tertutup rapat tanpa disadari.
Realitas inilah kebutaan di balik kecerdasan, hingga selalu “Terdampar dalam upaya mencapai keabadian”. Artinya, sinar suci kecerdasan Ilahi selalu menemukan celah penghancuran dibalik anugrah permohonan tapanya. Berbalik dengan doa-doa orang-orang suci yang selalu berdoa dan berkarma melayani para dharma untuk menegakkan dharma di bumi, dengan segala resikonya. Itu artinya, kesadaran untuk membangkitkan, menumbuhkan, energi suci yang ada di dalam diri bergerak mencari dan menemukan intisari kesejatian-Nya di alam semesta yang terindrawi maupun yang tak terindrawi.
Kebangkitan energi suci ini, bervibrasi menembus menyinari “Kegelapan”. Reaksi dari semua itu sifat-sifat asura cerdas, selalu ingin mengubur sinar suci ilahi itu, karena itulah wujud “Dharmanya”, sebagai upaya memenangkan kuasanya di bumi. Realitas ini sedang bergema di zaman Kaliyuga ini, yang patut disadari, diwaspadai dan selalu mohon anugrah perlindungan-Nya.
Teguh, tegar berjuang untuk menemukan intisari kesejatian di atas dualitas itulah perjuangan kesatria dharma “Menyelaraskan dan menyerasikan” (dwaitha menjadi adhwaitha) melalui aneka sadhana suci, bagi para sadhaka. Menyelaraskan dan menyerasikan artinya segala unsur jiwa, pikiran dan rasa yang bersifat dualitas diselaraskan berdasarkan Sattwam, Rajasika dan Tamasika, digerakkan dan diserasikan melalui sadhana suci “Tertuntun” yaitu: Tapa, Bratha, Yoga dan Samadhi
Semua itu akan “Berpahala” sesuai cara belajar dan cara berpikir dan berperilaku. Para asura berdoa atas dasar keinginan “menguasai”, hingga doa-doanya adalah kekuatan fisik material yang tidak “Terkalahkan” yang terbaca oleh nalarnya sendiri, bahkan ingin melampaui batas-batas kehidupan. Tetapi sangat berbeda terbalik dengan para suci, justru berdoa untuk membebaskan diri dari ikatan duniawi yang “Amat menyengsarakan itu”, lalu “Manunggal”. Artinya, sadar akan dirinya tercipta menjadi makhluk yang terbatas, lalu berjuang sepanjang waktu untuk “Manunggal”.
Mengetahui, dan menyadari kebenaran realitas jaman ini, maka orang-orang yang berjuang menyucikan diri atas karmanya saat ini, menghadapi tantangan yang luar. Para asura banyak membuli, menghina bahkan meminggirkan dengan berbagai dalih, seperti apa yang juga pernah terjadi pada zaman Sri Rama. Demikian pula apa yang telah dikisahkan dalam Siwa Purana. Para asura sibuk menyalahkan, membenci dan memerangi. Hanya ketaatan puja dan doa sucilah yang menghadirkan perlindungan. Karena pencapaian jiwa-jiwa yang sucilah istana-Nya, hingga bisa hadir kapan saja “Dibutuhkan”.
Kehadiran-Nya adalah “Berkat perlindungan dan pembebasan” yang menjadi “Kemenangan” hidup sejati. Kerinduan panjang mencapai kebenaran sejati inilah perjuangan hidup sejati, yang selalu diberkati “Leluhur”. Melalui keluhuran-Nya mengalir meresapi jiwa-jiwa bersatu dalam semangat perjuangan kesatria dharma.
Para asura selalu membelokkan bahkan membalikkan kebenaran ini untuk kekuasaannya. Seringkali berlindung di balik sejarah dan tradisi serta solideritas sempit kaumnya, menjadikan sifat-sifat kemabukannya semakin kentara. Itu artinya, jiwa vibrasi suci melihat kebenaran telah semakin luas dan terang. Akibatnya, kemabukannyapun semakin mabuk. Itu artinya pralina peleburan semesta semakin jelas bekerja atas rtham (hukum-Nya) sendiri. Realitas inilah bergolara menguasai atmosfir duniawi yang patut diwaspadai. Menempatkan diri dalam pelayanan dharama adalah wahana pengusung-Nya. Hingga pengusung-pengusung-Nya diluhurkan oleh berkat keluhuran-Nya. . *** Semoga menjadi renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments