
Cetak Generasi Cerdas dan Bijak Ber-medsos, HIMIP BATIK Unwar Denpasar Gelar Seminar Bertajuk ‘Media Sosial dalam Pemilu: Strategi atau Pencitraan’.
DENPASAR (CAHAYAMASNEWS.COM). Guna mencetak sejak dini generasi muda yang cerdas dan bijak dalam ber-media sosial di era globalisasi dan digitalisasi saat ini serta untuk menanamkan pemahaman tentang Media Pers dan Media Sosial, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (HIMIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Warmadewa menggelar seminar bertajuk ‘Media Sosial dalam Pemilu: Strategi atau Pencitraan?. Seminar yang dipandu oleh moderator Anak Agung Istri Dyah Candra Kirana ini mengundang dua narasumber/pembicara yakni Drs. Emanuel Dewata Oja, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali dan Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik: Aktivis Sosial, bertempat di lantai IV Ruang Sidang Sri Kesari Mandapa Universitas Warmadewa, Jumat, (26/4/2024).
Seminar yang diawali dengan sambutan-sambutan dan dihadiri ratusan peserta yang sebagian besar siswa-siswi dari sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) itu dibuka oleh Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Drs. I Wayan Sudana, M.Si. Ketua Panitia Kegiatan I Wayan Eka Putra Purnawan dalam laporannya menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan pemilih dengan menciptakan ruang partisipasi yang aktif yang aktif melalui interaksi online seperti dialog, pertanyaan, dan penggalangan dukungan. Sebagai alat pencitraan positif, dimana kandidat berupaya membangun reputasi yang baik dengan menyajikan prestasi, nilai-nilai dan visi mereka secara persuasif.

Mengenalkan kepada pemilih yang belum mengenalnya, membentuk opini publik sesuai sesuai narasi kampanye, dan memperkuat identitas politik. Mengatasi isu-isu negatif dengan merespon cepat dan memberikan penjelasan yang dibutuhkan. Memberikan informasi yang relepan bagi pemilih muda yang cenderung aktif online. Dengan demikian peran media sosial dalam pemilu bukan hanya sebagai strategi, tetapi juga merupakan alat efektif untuk membentuk dan memelihara citra positif dalam kancah perpolitikan.
Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan Drs. I Wayan Sudana, M.Si., dalam sambutannya meminta sekaligus berpesan kepada para peserta agar mengikuti dan menyimak pemaparan para pembicara dengan baik, sehingga benar-benar mendapat bekal pengetahuan terutama dalam hal penggunaan media sosial untuk meningkatkan kualitas diri, dan bijak dalam menggunakan media sosial.
Seperti diketahui bahwasannya Medsos memiliki dua sisi dampak yang berbeda, yakni dampak positif dan negatif yang berpengaruh besar dalam era digitalisasi ini dalam menjalani kehidupan keseharian masyarakat. Di satu sisi Medsos mampu menghadirkan Sorga/kebahagiaan yakni hal-hal positif berupa keuntungan, efisiensi, kemudahan dan bahkan keuntungan secara materiil. Di sisi lain Medsos juga dapat menjerumuskan penggunanya ke neraka / penderitaan. Dimana, jika salah menggunakan Medsos, maka bisa berhadapan dengan hukum dan bahkan pidana, serta hal-hal negatif lainnya.
“Untuk itu, mari kita gunakan media sosial ini dengan sebaik-baiknya. Pintar-pintar menyaring serta mengelola berbagai informasi yang dapat merongrong atau mengikis nilai-nilai budaya ketimuran kita. Karena kita ketahui dampak negatif yang ditimbulkan sangatlah besar mempengaruhi pola pikir kita, jika tak bisa memanfaatkan alat komunikasi itu dengan baik, cerdas, dan bijak,” tegasnya.
Pembicara pertama; Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Drs. Emanuel Dewata Oja, memberikan materi pemahaman literasi tentang Media itu sendiri. Dimana media dapat digolongkan menjadi dua jenis yang dapat dinikmati oleh masyarakat yakni Media Pers (Media Mainstream) seperti media cetak, radio, televisi, dan lainnya. Dimana dalam Media Pers memiliki aturan main yang jelas, ada badan hukum, produknya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, proses kerjanya ter-struktur, dan lainnya.

Sementara Media Sosial (Medsos) seperti facebook, Instagram, Tiktok, dan lainnya. Pada Media Sosial tidak memiliki aturan main seperti yang ada di Media Pers, dan semua berhak menjadi wartawan. Pada kesempatan itu, Ketua SMSI Bali secara garis besar mengupas habis tentang kedua jenis media tersebut, seperti perbedaan keduanya, produk yang dihasilkan, termasuk kelebihan dan kekurangannya, serta pemahaman penting lainnya tentang kedua media tersebut.
Usai acara Ketua Serikat Media Siber Indonesia yang juga merupakan jurnalis senior ini dalam wawancaranya mengaku sangat mengapresiasi langkah panitia penyelenggara yang telah menggelar kegiatan positif dalam rangka meningkatkan pemahaman generasi muda tentang keberadaan media bagi masyarakat. Dimana saat ini media terutama Medsos telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat di semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga para tetua.
Mengingat selain berdampak positif, media sosial juga berdampak negatif bila salah dalam menggunakannya. Maka dari itu, masyarakat harus memahami dampak negatif yang ditimbulkan tersebut, dan hal itu harus ditanamkan sejak dini, sehingga generasi muda terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan oleh dampak negatif dari medsos itu.
“Untuk itu kegiatan semacam ini harus dilakukan secara massif dan berkesinambungan, sehingga generasi muda sebagai generasi masa depan bangsa, terhindar dari dampak negatif dari medsos tersebut. Intinya, generasi muda harus senantiasa berhati-hati memanfaatkan medsos, gunakan selalu untuk hal-hal positif,” ujarnya.
Pembicara kedua adalah seorang Aktivis Sosial yang sudah tak asing lagi di mata masyarakat yakni Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik. Sebelum melakukan pemaparan lebih lanjut, aktivis sosial yang namanya telah mendunia di sosial media itu, dengan gaya bahasa yang lembut dan logatnya yang khas berupaya menyapa sekaligus memotivasi peserta yang merupakan siswa-siswi SMA, untuk membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti kegiatan tersebut, sehingga apa yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Penggunaan media sosial dampaknya sangat besar bagi kehidupan keseharian masyarakat terutama para generasi muda. Tak hanya menambah banyak teman, namun sebaliknya jika dipergunakan dengan keliru, justru sebaliknya akan berdampak buruk dan bahkan menimbulkan masalah yang dapat merugikan bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan.
Sudah menjadi tugas Ni Luh Djelantik untuk menyampaikan ke generasi penerus, bahwa mereka merupakan masa depan Bali dan masa depan Indonesia yang harus disiapkan dengan matang, termasuk dalam hal penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi dengan khalayak umum.
Menurutnya, sosial media bagaikan pisau bermata dua. Dimana di satu sisi bisa memberikan dampak positif berupa kebahagiaan, meraih impian yang dicita-citakan dan di sisi lain juga dapat menimbulkan dampak negatif, mampu merubah hidup seseorang seratus delapan puluh derajat, dan mampu menjerumuskan seseorang ke jurang penderitaan.
“Untuk itu raih cita-citamu dengan cerdas dan bijak dalam ber-sosmed, gunakan social media untuk hal-hal yang positif untuk kebahagiaan, kemajuan, dan kesuksesanmu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari gara-gara salah dalam menggunakan sosmed. Terkait pengaruh sosmed terhadap politik terutama dalam menentukan pilihan pemimpin, maka salah satunya lihatlah rekam jejak calon pemimpin itu di sosmed, apa yang telah diperbuat untuk masyarakat,” ujarnya seraya berpesan agar generasi muda Bali khususnya ‘Siap menjadi kebanggaan tanah kelahirannya’ dengan cara bijak dan cerdas dalam ber-sosmed.
Sementara sejumlah peserta yang sempat diwawancarai seperti Ratih, Dewa, Sari dan lainnya mengucapkan terima kasih kepada panitia dan juga para pembicara yang sudah memberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, dan pengalaman yang sangat berharga dan bermanfaat untuk menentukan gerak langkah kedepan dalam menggapai cita-cita dan kesuksesan masa depannya. *** CMN=Tim/Andi.









Facebook Comments