
Tanpa Berbuah Tumbuh Tunas, Pohon Kelapa Aneh Tumbuh Di Dusun Bangunlemah Kangin Desa Apuan Susut
BANGLI (CAHAYAMASNEWS.COM). Diantara ratusan pohon kelapa yang ada di muka bumi ini paling aneh yang ada di Dusun Bangunlemah Kangin, Desa Apuan, Kecamatan Susut, Bangli. Selain bentuk pohonnya yang berbeda, pohon kelapa yang diperkirakan sudah berusia sekitar 25 tahun ini tak pernah berbuah. Pohon kelapa yang kini disebut sebagai Pohon Kelapa “Rangda” hanya berdaun dan tak pernah rontok meski sudah mengering. Kini masyarakat setempat membuatkan tempat suci dipuja dan disucikan.
Pohon kelapa ini tumbuh di sisi selatan areal tegalan ilalang seluas 5,7 hektar, yang wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Gianyar. Sisi kiri kanan diapit sungai. Untuk menuju pohon kelapa ini, warga harus berjalan kaki, sejauh 1 kilo meter dari jalan setapak.

Menurut Kelian Adat Dusun Bangunlemah Kangin, I Wayan Tama saat dimintai ketarangan di lokasi Senin (19/5/2025), mengungkapkan, keunikan pada satu pohon kelapa ini sudah dirasakan warga setempat sejak 15 tahun lalu. Satu-satunya pohon di antara ratusan pohon kelapa yang ada di sekitarnya, tak pernah berbuah. Daun atau batang daunnya pun tak pernah rontok meskipun sudah mengering.
Begitu daunnya mengering berjejer sampai ke bawah, pada tunasnya langsung kembali tumbuh daun seperti pohon baru, tanpa jatuh ke tanah. Warga sempat menanam di tanah baik di tempat berbeda maupun masih di areal induknya, bibitnya tersebut tak bisa tumbuh (langsung mengering).
“Begitu batang dan daunnya mengering (menjadi danyuh), batangnya akan langsung merunduk ke bawah tanpa jatuh ke tanah, tapi masih tetap menempel di pohon. Makin lama makin lebat merunduk seperti rambut Rangda,” ungkap Tama didampingi Kelian Dinas Dusun Bangunlemah Kangin, I Made Miasa.
Lebih lanjut dijelaskan awalnya warga setempat hanya menggangap bentuk pohon kelapa yang meski berbeda dari yang lain hanya sebagai angin lalu, bagian dari alam. Karenanya masyarakat pun tak begitu merespon terkait keberadaan pohon yang kini disucikan tersebut. Hingga beberapa tahun kemudian, sejumlah kejanggalan mengarah misterius kerap dirasakan warga, utamanya para petani yang berkativitas di sekitaran tegalan tersebut.
“Ada warga yang mencari kayu bakar (bukan kayu bakar kelapa), lalu diletakkan dan disandarkan di batang pohon kelapa ini. Yang bersangkutan tiba-tiba merasakan pusing, seperti linglung. Begitu kayu bakarnya dipindahkan, lilungnya hilang, dan kembali sadar,” jelasnya
Lanjut disampaikan, pernah kejadian yang tak tertuga, ada salah seorang warga setempat yang pernah mengambil daun yang sudah kering (danyuh) dan dibawa pulang dan rencanaya untuk dijadikan kayu bakar. Malam harinya antara sadar dan tidak (seperti mimpi), warga tersebut dicari oleh sesosok makhluk gaib berperawakan tinggi besar dan hitam.
“Dia diminta untuk mengembalikan daun kelapa kering yang sudah dibawa pulang itu untuk dikembalikan lagi ke asalnya. Karena pohon kelapa itu ada penunggunya,” ujarnya.

Berbekal dari sejumlah keanehan yang terjadi, akhirnya pihak prajuru adat dan desa melakukan Piuning (bertanya secara niskala) dan menanyakan ke Sulinggih (Ida Peranda). “Disebutkan, jika pohon ini memang pingit, dan ada yang berstana (menunggu/menjaga). Dimana beliau dipercaya hadir berstana di paling selatan wilayah desa, untuk menjaga (secara niskala) desa,” bebernya.
Sejak itulah, pihak desa membangun satu Palinggih lengkap dengan tembok penyeker di bawah pohon kelapa “Rangda” tersebut.
“Ada sudah sekitar delapan (8) tahun dibangun palinggihnya,” ujarnya. Dan sejak saat itupula warga atau petani yang melintas selalu memuja menghaturkan canang di tugu palinggih tersebut. Pun jika ada hari suci rahinan seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan atau hari rahinan lainnya, warga setempat terlebih yang memiliki sawah dan tegalan di sekitar pohon kelapa ini, tak pernah lupa menghaturkan banten dan bersembahyang untuk memohon keselamatan dan diberkati hasil panen yang melimpah.
Adanya pohon kelapa “Rangda) ini, diyakini oleh masyarakat Bangunlemah Kangin sebagai keberkahan, mendatangkan kerahayuan jagat. Sebab, begitu dibangun palinggih dan dirawat, areal tegalan di sekitarnya diakui menjadi lebih subur. Pohon-pohon kelapa lainnya yang ada di sekitarnya menjadi lebih subur dan berbuah lebat. Hingga saat ini daun dari pohon kelapa ini baik yang masih hijau maupun menjadi janur, juga banyak dipakai warga untuk dijadikan sarana upacara yadnya, yang lebih dulu menghaturkan banten piuning.
“Beberapa waktu lalu ada seorang warga dari Gianyar datang nunas (meminta) untuk keperluan banten Upacara Karya Ngenteg Linggih. Mereka nunas diawali menghaturkan banten piuning terlebih dahulu, untuk memohon keselamatan dan restu, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.
Sementara itu Kelian Dinas Dusun Bangunlemah Kangin, I Made Miasa menambahkan, setiap ada upacara Piodalan di Banjar Bangunlemah Kangin, warga selalu menghaturkan banten sorohan yag dihaturkan di pelinggih yang ada di sekitar kelapa tersebut.
“Semenjak disucikan, situasi keamanan dan ketentraman wilayah Banjar terjaga dan ada yang sempat melihat bahwa pohon kelapa yang aneh ini penunggunya berupa ’Banaspati Raja’,” katanya. *** CMN=Tim-NT.









Facebook Comments