
I Wayan Dresti Yasa, Guru SDN 2 Jungutan, Karangasem Hobi Mendaki Gunung. 100 Kali Mendaki Gunung Agung, 16 Kali Gunung di Bali, Jawa, dan Lombok
Penulis, I Komang Pasek Antara
AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Seorang guru SDN 2 Jungutan, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, I Wayan Dresti Yasa, S. Pd. Gr. kelahiran Desa Sibetan tanggal 2 Pebruari 1984, memiliki hobi menarik penuh tantangan dan risiko, yaitu mendaki juga dikenal dengan istilah trekking/hiking dan lari lintas alam gunung. 16 gunung di Bali, Jawa dan Lombok telah didakinya termasuk Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali telah dijamah didakinya sudah mencapai 100 kali lebih.
10 Gunung di Bali, 6 Gunung di Jawa dan Lombok, 10 gunung di Bali telah didakinya meliputi gunung Abang, Batur, Catur, Bon, Pengilingan, Tapak, Pohen, Adeng, Lesung, Sanghyang dan Batukaru, serta Gunung Seraya Karangasem. Sedangkan 6 gunung di luar Bali yang telah dijamahnya meliputi 3 kali naik ke gunung Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sedangkan gunung di pulau Jawa yakni Gunung Raung, Gunung Lawu, Gunung Ijen, dan Gunung Bromo.
Mengapa dan sejak kapan lakoni hobi trekking ke gunung? Tutur Wayan Dresti kepada penulis belum lama ini. Suami dari Ni Pande Kadek Ari Wiwbawati dan ayah dari tiga anak itu mengisahkan hobi trekking diawali tahun 2015 lalu ketika dirinya mulai beranjak umur 32 tahun. iking dan lari lintas alam digeluti hanya sekedar menjadi hobi pribadinya semata untuk hiburan dan kesehatan tubuh, ternyata lambat laun berbuah manis, menjadikan tambahan ekonomi dan pengalaman jelajahi alam penuh tantangan dan risiko keselamatan jiwa dan sedikit pendapatan ekonomi menggunakan jasanya sebagai pemandu pendaki.

Meski berbuah manis melakoni hobi, tapi dirinya tidak pernah lupakan dan selalu mengutamakan tugas utamanya pengabdi negara sebagai Kepala Sekolah SDN 2 Jungutan. Pendapatan buah ekonomi sejak tahun 2019 lalu dipetiknya dari profesi tambahan diawali menjadi pemandu pendaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali.
Katanya alumnus di tiga perguruan tinggi yakni IKIP Singaraja (kini Undiksha), IKIP PGRI Bali dan Universitas Terbuka itu, melakoni sebagai pemandu trekking Gunung Agung dilakukannya saat hari minggu dan libur sekolah agar tidak menganggu tugas utama di sekolah.
Sebagai pemandu (guide) dia ngantar tamu maupun ikut bersama komunitas sesama penghobi Bali Trail Running (Komunitas Lari Lintas Alam Bali).
“Kalau lagi ramai bisa empat kali dalam sebulan antar tamu hiking ke Gunung Agung, sebaliknya saat sepi bisa sebulan tidak ada orderan,” ujar Wayan Dresti Yasa. Tutur Wayan Dresti, tamu yang memakai jasanya kebanyakan tamu wisatawan manca negara dibanding wisatawan Nusantara.
Ada 5 Pos Daki Gunung Agung
Katanya Dresti Yasa, ada 5 pos tempat jalur sudah umum dilakukan bagi pendakian ke Gunung Agung yakni Pura Pengubengan Besakih, Pura Pasar agung Sebudi, Pura Pasar Agung Nangka, Dusun Puregae, dan Taman Edelwais Besakih. Bagi pendaki ke Gunung akan melalui Pasar Agung akan menemui dua buah pos istirahat Pos Telaga Mas dan Pos Tirta Mas.
Wayan Dresti Yasa menambahkan, idealnya seorang pemandu memandu paling banyak tiga orang pendaki agar pemandu bisa mengawasi dan memandu dalam sepanjang perjalanan apalagi pendaki belum pengalaman trekking ke gunung.
Tempuh 10 Jam Daki Gunung Agung Naik Turun
Ketinggian Gunung Agung puncak sejati 3114 mdpl, puncak selatan 2870 mdpl dan puncak timur 2900 mdpl. Lama waktu pendakian Gunung Agung normalnya naik turun menurut Dresti bisa ditempuh sekitar 10 jam. Dan saran Dresti, sebaiknya naik gunung mulai tengah malam pukul 12.00 nantinya sampai dipuncak pagi hari, apabila cuaca cerah bisa melihat langsung indahnya matahari terbit di arah timur.
Dirinya pernah memandu pendaki pelari lintas alam sampai 30 orang, padahal idealnya 1 orang pemandu 3 pendaki. Semakin sedikit pendaki lebih mudah mengawasi dalam perjalanan.
Di puncak Gunung Agung tingkat suhu udara kalau musim dingin bisa dibawah 10 derajat celsius, dan jika musim panas sangat panas bisa mencapai 35 derajat celsius.
Dresti menyarankan. “Bagi pemula hiking ke gunung khusus Gunung Agung, sebelum pendakian gunung, persiapkan diri baik fisik maupun mental serta peralatan pendakian, dan jangan pernah menganggap remeh sebuah gunung walaupun gunung itu kelihatan pendek sekalipun, karena setiap gunung mempunyai medan dan kesulitaan masing masing. Juga sebelum melakukan pendakian googling di internet atau membaca atau menonton pengalaman pendaki yang sudah pernah mendaki lewat youtube atau media lainnya.
Pantang Makan Daging Sapi, Babi, Perhiasan Emas, Datang Bulan, dan Cuntaka
Ada sisi unik dan menarik cerita bernuansa gaib pernah dialami Dresti memandu pendakian ke Gunung Agung. Dirinya pernah alami beberapa kali peristiwa skala (kasat mata) dan niskala (tidak tetlihat mata) seperti pendaki membawa makanan berupa daging babi dan sapi, memakai perhiasan emas, wanita menstruasi (datang bulan) dan dalam keadaan cuntaka/berduka. Para pendaki mengalami banyak kejadian salah satunya seperti tiba-tiba kabut tebal tidak terlihat jalan atau hujan lebat. Juga tiba tiba si pendaki tidak kuat atau tidak percaya diri untuk naik gunung agung.
“Selama pendakian itu saya sangat percaya betul dengan beberapa pantangan dan tidak boleh dilanggar selama pendakian ke Gunung Agung seperti saya katakan di atas, “ jelas Dresti.
Suka-Duka Pendaki
Suka duka sebagai pemandu, Dresti membeberkan. Sukanya selain mendapat rezeki berupa penghasilan tambahan, dapat juga banyak teman sehobi, melatih fisik lebih kuat dan selalu dapat tangkil ke puncak sudah bahagia. Dukanya ketika saat pendakian memandu pendaki yang lambat dan tidak kuat mendaki atau takut ketinggian kita harus siap menuntun atau menggendong. Pendaki yang kelelahan, kita harus terus memotivasi atau merayu agar bisa terus sampai ke puncak”.
Bila tidak sedang ada pesanan memandu daki Gunung Agung, dirinya kerap ajak keluarga istri dan anaknya yang memiliki hobi sama mendaki ke Gunung Agung meskipun hanya sampai Pos 1. Bagi diri Dresti Yada, aktivitas naik gunung adalah untuk kesehatan karena udara alami dan rasa bahagia.
Aktiv Komunitas Trail Run
Karena Dresti Yasa aktif di komunitas trail run dan paham akan gunung di Bali, dia ditunjuk panitia event internasional Bali Trail Running Ultra (BTRU) dari tahun 2021 sampai tahun 2025 sebagai team trek team marking dan team sweeper dalam setiap event tahunan yang digelar di Gunung Batur, Kintamani, Bali. Pada tahun 2025 ini Jumat (9/5/2025) lalu. Peserta BTRU mencapai 4.007 orang dari 62 negara menempuh jarak 100 km start Gunung Batur lanjut finish di Gunung Agung.
Mimpi Taklukan Mount Everest di Nepal.
Kini menjadi mimpi besarnya bisa menjamah taklukan gunung di luar negeri, gunung tertinggi di dunia di Nepal, apa daya tangan tak sampai biaya belum mencukupi. . *** CMN.









Facebook Comments