
“AURA KASIH”
“Bijak Memahami Perbedaan Yang Berlawanan”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat , 30 Mei 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Gelombang dualitas adalah “kehidupan” yang hidup bergerak tiada henti, membentuk karakteristik jaman (Kalpa), meresapi seluruh ciptaan-Nya. Menjadi karakter personal, komunal, suku dan karakter bangsa. Hidup bergerak sesuai alur kalpa itu sendiri. Terkondisi nilai penuh daya tarik indrawi, dibaliknya menyimpan rahasia, yang sesungguhnya “menyadarkan” setiap jenjang tak pernah luput, menjadi anugrah kebahagiaan dan penderitaan. Semuanya itu untuk melihat dan memahami, agar terkendali dalam “semangat edukasi nan esensial penyempurnaan”.
Walaupun pada jenjang-jenjang dasar kehidupan kebenaran ini amat sulit dijangkau dan dipahami. Itu artinya edukasi penyadaran, untuk melahirkan sikap dalam penyikapan situasi, sadar berada pada alur perubahan jaman, ada yang bergerak vertikal naik turn (centrevetal) ada yang bergerak melingkar meluas (centrevugal). Merasakan, memaknai dan “bergerak” meyadari gerak energi semesta itu, menemukan esensi nilai mencapai makna yang sesungguhnya.
Ruang pergulatan dinamis multi arah, beresensi vital kedalam dan keluar diri bergerak semakin tinggi, rendah dan semaki meluas, tak terjangkau, demikian pula pada sisi yang lainnya bergerak keluar dan ke dalam diri. Ekspresi penyadaran dari luar yang disebut spiritual sosial nan kosmologis menemukan dan merasakan kebenaran esensial dalam diri sendiri, mencapai kesadaran spiritual, yang juga disebut kesadaran diri yang sejati.
Kesadaran itu tersentuh teraliri dan dikukuh-kuatkan”, oleh energi Keilahian (atmani sariram) mejadi keyakinan diri yang tak tergoyahkan. Ketika sudah demikian inilah “refleksi” menjadi “nilai perjuangan mencapai kemenangan” yang membahagiakan. Mewahanai sifat Keilahian yang terus bergerak dan meresap dan merajut dua unsur (utta dan prota) terus menyempurnakan, hingga pencerahan totalpun tiba pada saat-Nya. Orang-orang suci bijaksana menyebutnya “Lingga Berjalan” memvibrasi menyinari dualitas membangkitkan dan mengkondisikan penyadaran, melipitu setiap karakter sesuai tingkatan karmanya. Tak ada yang bisa luput dari “kuasa” ini, maka DIA disebut Mahakuasa.
Saat-saat seperti itulah sinar suci pencerahan pengetahuan-Nya, terus mengalir meresapi, agar insan-insan mampu membaca esensi yang terekspresi lewat tanda-tanda, singnal dan juga masalahnya. Entahlah itu keindahan, Kehancuran dan pertumbuhan hidup serta berkembang dalam ruang dunia yang tak terjangkau (Dura Darsana, Dura Srawana dan Duratmaka). Dalam kontek itu respon masalah, bisa menghasilkan pertanyaan lalu tumbuh berkembang menjadi prilaku dari hidup sederhana hingga hidup mewah bahkan super mewah yang tak terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu DIA hadir mengedukasi dan menguji serta selalu mengampuni, ketika lahir kesadaran atas keterbatasan.
Pergerakan energi semesta ini tak semuanya terindrawi dan terbaca, tetapi menghasilkan hukum “efek” yang multi dimensional dan ragam wajud yang terjangkau (Cintya) serta yang tak terjangkau (Acintya). Keduanya inilah DIA yang disebut “Tat”, menjadi “Sat” mengalir tiada henti sepanjang jaman (Saraswathi). Orang-orang yang terpelajar mengejar itu semua, lalu ingin merefleksilan menjadi sesuatu yang berguna mensejahterakan jasmani (pengetahuan material) dan mensejahterakan rohani (pengetahuan spiritual). Keduanya adalah tunggal, tetapi untuk memahami “ketunggalan” itu dapat diurai melalui pemahaman substansi sifat-sifat-Nya. Melalui pendekatan substansi-substansi kosmosentris dan substansi struktur Teologis membentuk pemahaman Teosentris.
Kesatuan penyadaran dan harmonisasi melahirkan ragam konsep, karena masing-masing “penjelajah” entahlah dia ilmuwan, Filosuf, Rohaniawan Spiritualis dan Seniman. Konstruksi dari puncak-puncak pemikiran, mentransisi antara yang tak terjangkau itu melahirkan konsep Satyam, Shivam dan Sundharam. Semuanya itu menjadi atau sebagai wadah penerimaan (Vrata Jnana). Mewujudkan wadah inilah proses panjang tiada henti, dan seringkali digagalkan oleh keraguan tamasika yang memalaskan lalu tenggelam dalam pembenaran buta.
Pergulatan maju nan esensial membangkitkan ekspresi kreatif, memformulasi ruang kebutuhan, pemaknaan, penyelarasan, penyempurna mencapai harmoni mendamaikan (Karma Kanda dan Karma Jnana). Persoalan besar penjelajah atau sekedar penjelajah teks-teks formal saat ini, entahlah itulah realitas, atau sifat maya yang terbunyi. Tetapi realitas reaksi dan aksinya banyak sekali berkelakar tentang kecerdasannya, merendahkan orang lain, tetapi tak nyambung atau tak mau disambungkan kedua unsur pengetahuan, merujuk memasuki esensi sifat semesta yang “Serba Maha” itu. Akibatnya cerdas teks pengetahuan spiritual, tetapi mudah dikuasai kepentingan “sesaat” yang “menyesatkan”. Dikuasai politik mengakibatkan rakus kekuasaan.
Ketidakpuasan lalu kecewa karena tak mampu berprestasi baik menguasai pekerjaan, lalu menyalahkan atasannya, membenci pemerintah lalu terus menerus membuli dan ingin menghancurkannya. Sebelumnya berpihak pada penguasa, selanjutnya berpihak pada perongrong penghancur. Akibat dari semua itu, mengotori atmosfir semesta dengan vibrasi gelapnya. Lalu menyibukkan para pemimpin bangsa untuk mengurusi masalahnya. Entahlah penyakit akibat salah urus sumber-sumber makanan. Napsu kekuasaan, pembulian penghinaan dan seterusnya.
Setelah diurus tak mau percaya pada pemerintah pengurusnya. Mereka hanya percaya dan menuntut apa yang dianggap benar. Bukankah bangsa ini banyak dirugikan secara material dan merongrong etika moralitas kepercayaan kepada pemerintah yang kurang bermanfaat ini. Walaupun seringkali mengutip ayat-ayat suci, tetapi lebih banyak digunakan terbalik untuk mengguncang stabilitas harmoni berbangsa dan bernegara. Menjadi kekuatan asura, karena digunakan asura untuk kepentingan penggusuran sifat-sifat dewata Ilahi.
Kuasanya dalam diri maupun diranah sosisl nan semesta, berupaya menempatkan kedudukan memenangkan asura. Ciri-cirinya amat cerdas memainkan topeng-topeng pembela rakyat, lalu rakyat yang mana menunjuk dia untuk untuk mewakili?. Bukankah secara resmi rakyat telah memilih wakil-wakilnya, walaupun masih banyak yang belum bisa bekerja baik sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya. Demikian pula permainan tombak hukum seringkali juga dimainkan “oknum” untuk memancung yang dianggap merugikan kepentingan tertentu saja terutama rakyat kecil yang tak ada melindunginya.
Berkenaan dengan dinamika itu, menerobos atmosfir gelap oleh para para penggelap, mesti diwaspadai dan berjuang bersama-sama, sebagai pemerintah, sebagai wakil rakyat, sebagai rakyat, sebagai orang-orang spiritual nan suci bijaksana. Menerobos bersama-sama dengan energi yang disinari sinar suci ilahi nan cemerlang, penuh pengendalian diri, mewujudkan rasa tulus ikhlas, melalui sadar ragam profesi, kuat melewati terjangan musuh gelap penghambat kemajuan dharma dan seterusnya. Alur pertahanan dan penyelamatan inilah dasar atau “vrata jnana”, yang dikenal juga sebagai “taksu”, dialiri anugrahnya, hingga saatnya, kemenangan pasti tercapai.
Sadar memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, yang mendamaikan itulah refleksi spiritual nan bijaksana mencapai kemenangan sesungguhnya (Yudha Widyastara). Tentu jawabannya adalah perjuangan di kaki Sang Guru Penegak, Pengendalinya. Saat itulah, proses demi proses dimatengkan dan disucikan alurnya. Agar mencapai pilihan yang benar dan tepat sasaran, bagaikan gerak semesta yang tak pernah salah pilih menembus sasarannya. Entahlah anugrah-Nya kebangkitan, efek kedamaian semesta pemeliharaan-Nya, lalu ketegakan hukum pralina-Nya. Menjadikan setiap insan teraliri kasih kebijaksanaan-Nya, “mencapai kemenangan”. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments