September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KETIKA EGO MENGUASAI KECERDASAN”

Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 15 Juni 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Ketika kecerdasan semakin meninggi, menutupi sinar keheningan hati nurani menciptakan keangkuhan merusak situasi, bervibrasi buruk pada dunia. Demikianlah gambaran narasi suci Gunung Windya yang terus meninggi hingga menghalangi putaran matahari, yang mengakibatkan sinarnya terhalang menyinari seluruh ciptaan-Nya di bumi. Saat itulah Rsi Agastya mengingatkan lalu meruntuhkan ego Gunung Windya. Lalu mengutuk agar semua gunung berhenti tumbuh menjulang tinggi menembus langit. Demikianlah ketika kecerdasan manusia dikuasai ego, dia ingin menang sendiri, melupakan keselarasan harmoni semesta.

Tetapi hal itu tak pernah langgeng, walaupun bisa menang dan menguasai, hanya sesaat saja sesuai hukum semesta, walaupun dirasakan lama bagi kesadaran manusia. Walaupun aura buruk itu cukup mengoncangkan atmosfir dunia. Saat itu doa-doa suci abdi-abdi dharma terjawab oleh Sang Pelindung dan Pemelihara semua ciptaan-Nya, hadir pada saatnya, untuk menertibkan kembali, hingga dunia teratur dalam keselarasan-Nya. Itu artinya dharma tegak kembali di bumi, ditegakkan oleh Penegaknya sesuai keadilan putaran waktunya (kalpa).

Demikian pula orang-orang cerdas berjiwa asura nan egois, tumbuh semakin banyak, selalu ingin menang memuaskan dirinya sendiri. Menciptakan kegaduhan lalu orang-orang yang menjadi obyek kebenciannya, dituduh menciptakan kegaduhan. Pintar memutarbalikkan pakta seenaknya, seolah-olah orang lain dan pengadilan semesta diam tak bekerja atas vibrasi ego-egonya itu. Itu artinya, kecerdasan olah pikir meniadakan kecerdasan semesta nan spiritual.

Sesungguhnya disitulah “energi panah-panah suci kebenaran” sedang mulai bekerja menusuk, menembus, menghancurkan tanpa disadari. Rahasia kebenaran ini tak pernah diketahui oleh asura-asura yang selalu memuja egonya. Dia membunuh kesadaran spiritual, membesarkan ketidak sadaran egonya. Dalam kisah Ramayana saat Sri Rama dalam pengasingannya di dalam hutan, Si Surphanaka menggodanya lalu membalik pakta, akibat sakit hati karena cintanya ditolak. Lalu melapor merangsang gaerah napsu, mempropokasi ego kakaknya Rahwana, hingga menculik Dewi Sintha, dengan strategi akal bulusnya.

Semuanya itu tak disadari oleh Rahwana beserta rakyat asuranya. Karena tertutup keangkuhan yang telah diberi kesempatan menguasai dunia dan mengalahkan para dewa. Itu artinya, sifat-sifat ilahi kebajikan tak memperoleh tempat dihatinya dan merefleksikan kesewenang-wenangan yang menyengsarakan rakyat. Mengorbankan rakyat untuk kepentingan ambisi egonya. Semua itu terjadi di lingkungan sekitanya.

Membiarkan diri dikuasai keangkuhan, tak satupun nasehat baik Wibhisana, istrinya Dewi Mandodari, mertuanya serta penasehat kerajaan, demi keselamatan darinya kedamaian rakyatnya tak digubrisnya. Akibatnya Rahwanapun terkubur ditelan keangkuhannya sendiri, melalui kuasa Ilahi sebagai Sri Rama yang berwujud manusia berjiwa dewata, turun melindungi dan menegakkan dharma.

Saat ini kebangkitan dharma itu amat sulit diketahui dan dirasakan bagi insan-insan pemimpin penguasa napsu asura. Super cerdas mencari celah memainkan hukum, manupulasi dan korupsi, mengakibatkan pejabat penegak hukum sibuk berlumpur-lumpur. Entahlah bisa menghadirkan kebersihan diri atau tenggelam dalam kubangan lumpur yang sama. Tentu harapan rakyat penegak hukum hadir putih bersih indah mendamaikan. Ketika sudah demikian pemimpin menjadi “pemenang” memenangkan kesejahteraan rakyat.

Jeritan penderitaan rakyat untuk menemukan keadilan hendaknya terjawab, menjadi kesejahteraan yang terasa nikmatnya. Karena ditangan pemimpin asura itu terkondisi menjadi asura premanisme yang menakutkan. Menghadapi realitas yang amat menakutkan rakyat ini, tentu hanya doa-doa tulus nan suci terucap dalam hatinya. Karena perlindungan yang mendamaikan itu teramat sulit, maka perlindungan Ilahi menjadi pusat konsentrasi dan kesungguhan iman. Saat inilah jawaban perlahan penuh rahasia, terjadi dan berjalan atas hukum Sang Waktu. Seperti itulah wujud “Sang Pengampun” yang penuh bijaksana. Saat itu pula proses edukasi dan pengampunan tersembunyi terjadi. Lalu eksekusi hukum terjadi apabila kesadaran untuk berubah kearah kebaikan dan kebenaran terabaikan.

Tetapi kebenaran ini teramat sulit untuk dijangkau bagi sebagian besar jiwa-jiwa yang belum terdidik mencapai kesadaran. Persoalan besar inilah yang dihadapi bangsa dalam membangun sumberdaya yang berkarakter humanis nan spiritual. Hingga siap mewujudkan cita-cita hidup bersama membangun negeri yang sejahtera dan damai. Ditengah-tengah semua itu bangkit bersama mewujudkan cita-cita hidup mencapai kedamaian jasmani dan rohani.

Berkenaan dengan hal itu, sudah semestinya kecerdasan intelek olah pikir terukur formal, mesti disempurnakan dan dikuatkan oleh pengetahuan suci keilahian, hingga dapat merasakan sesuatu kebenaran yang tersembunyi di balik realitas. Semua itu disebut hukum semesta sebab dan akibat. Bukan bergerak semata, pada tataran ingatan konseptual lalu lupa pada laksana yang dikuasai kepentingan napsu sesaat yang sesungguhnya menyesatkan.

Berkenaan dengan dinamika itu, sudah saatnya insan-insan dunia lebih menempatkan kesadaran diri yang dijiwai keilahian, hingga kedamaian perlahan meresap di dalam diri, lalu berkembang memvibrasi dilingkungan sekitar. *** Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!