
“AURA KASIH”
“JUDI BAYANG-BAYANG JANJI KEMENANGAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 08 Juli 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Judi dalam praktek kesehariannya selalu membangkitkan gairah bayang-bayang kemenangan. Akibatnya sangat menggairahkan, bersemangat dan siap mengeruk uang untuk bertaruh. Saat-saat seperti itu ada pertautan emosional, harga diri yang menyertai ambisi untuk menang. Dalam kontek kesenangan ini tercipta pertaruhan materi emosional, ambisi dan harga diri, yang terus bergerak dan berganti-ganti generasi, dari jaman ke jaman. Itu artinya pengaruh judi dapat membawa kenikmatan pertaruhan, “bayang-bayang” kemenangan. “Baik yang menang maupun yang kalah tak mudah untuk berhenti dan meninggalkan judi”.
Demikianlah salah satu jawaban Kangka, nama samaran Yudhistira, ketika menjadi penasehat Kerajaan Matsya, saat-saat tahun terakhir penyamarannya. Oleh karena itu judi terus hidup dan berkembang, digemari insan-insan duniawi sepanjang jaman. Judi menempatkan keberadaan dirinya sebagai yang disenangi lalu memelihara dan yang membenci lalu melarang. Ada pula yang membenci dipermukaan, melalui kekuasaannya mendukung dan mengayomi di belakang layar, dengan tujuan tertentu.
Pada suatu ketika permaisuri Raja Matsya Dewi Suthena, marah melihat Kangka menemani suaminya bermain dadu siang dan malam. Lalu bertanya, hai Kangka mengapa engkau bermain dadu terus menerus siang dan malam, menemani Raja. Tidakkah engkau insap terhadap akibat judi yang telah mengakibatkan Rajamu bersama adik-adik, beserta istrinya menderita terbuang ke dalam hutan akibat kekalahan judi itu ?.
Apakah engkau akan turut menghancurkan Raja dan Kerajaan Matsya ini, melalui pengaruh judi itu Kangka?. Siapa yang menyuruh Rajamu melakukan judi, tanpa kendali seperti itu ?. Mengapa juga raja-mu tak mempertimbangkan sifat welas asih dan kebijaksanaan Raja Drestharata, yang telah mengembalikan Kerajaan Indra Prastha kepada Pandawa, setelah mereka kalah dalam permainan judi itu?. Jawablah pertanyaan-ku Kangka !.
Mendengar pertanyaan sekaligus sindiran pedas Dewi Suthena kepada raja terhadap kegiatan judi itu. Raja menjawab dengan rasa geram kepada Dewi Suthena, hai Dewi janganlah engkau mencampuri urusan kesenangan-ku dengan sindiran pedas yang menyayat hati-ku ini dan menghina tamu penasehat-ku. Dewi Suthena menjawab dengan pertanyaan lagi kepada Kangka, apakah salah aku menanyakan persoalan judi itu kepada-mu Kangka?.
Tidak ada salahnya pertanyaan paduka itu, karena semuanya itu benar adanya, demikian Kangka menjawab. Oleh karena itu jawablah pertanyaan-ku Kangka. Lalu dengan penuh kesopan santunan Kangka menjawab. Apabila atas kehendak paduka permaisuri dan atas seijin Maha Raja, aku akan menjawabnya. Oh Ratu-Ku yang mulia, sesungguhnya yang memerintah untuk bermain judi itu, tak lain adalah “sifat kesatria utama”. Apabila permainan judi dan akibat buruknya tak sampai mengorbankan segalanya, seluruh artha kekayaan, kerajaan, diri sendiri, keluarga termasuk juga istri, maka seseorang tak bisa memahami akibat terburuk dari judi itu sendiri. Baik yang menang maupun yang kalah, tak mau berhenti.
Pengaruh judi amatlah besar dalam kehidupan itu Ratu. Selanjutnya permainan judi yang dikendaki oleh Raja untuk menghindari perselisihan diantara kedua belah pihak bersaudara adalah kehormatan seorang kesatria, menghormati raja dan juga sebagai ayah. Jiwa-jiwa yang menyadari kebenaran itu, siap dan menyiapkan diri untuk mengalah, berkorban merasakan pahitnya masalah, sebagai resiko yang disebut penderitaan itu.
Alur narasi itu mengisahkan makna bahwa; seorang kesatria bijaksana pengemban tugas-tugas mulia dharma, mesti mampu menanggung derita dan membebaskan diri secara sadar terhadap sifat-sifat napsu kekuasaan yang dijiwai kelicikan penuh tipu daya, mesti dibebaskan agar mencapai kemurnian rohani. Ikatan napsu dan kelicikan menginginkan kuasa ini, di dunia soasial amat sulit disadari.
Gambaran realitasnya keempat adik-adik Yudhistira, dan istrinya selalu marah dan kecewa serta ingin cepat mengakhiri dengan perang. Itu artinya hanya jiwa atau rohani yang bersih murni mampu mengenal dan sadar berjuang untuk membebaskan dari belengguan gelap maya itu sendiri. Hingga “saatnya” kemurnian jiwa bisa “menang” untuk menguasai unsur-unsur jiwa lainnya. Gambarkan simboliknya sebagai saudara dan istri, sebagai sahabat yang paling dekat.
Betapa sabarnya Yudhistira sebagai tokoh simbolik menguasai sifat suci dharma, menyadarkan terus kemarahan adik-adik dan istrinya agar tetap taat melaksanakan hukuman, yang dimaknai sebagai “tapa penebusan dosa”, akibat judi itu. Tapa sebagai upaya menahan dan menelan kemarahan, agar bisa berubah menjadi energi dharma yang kuat dan tajam, agar mampu menembus benteng pertahanan keangkuhan, pada saat yang tepat. Memperjuangkan hak dan kewajiban, yang dilandasi kesadaran rohani. Merefleksikan penebusan dosa, memancarkan vibrasi suci kebenaran, melepaskan diri dari belengguan keangkuhan napsu kekuasaan, yang licik penuh tipu daya, yang mengubur sebagian besar jiwa insan-insan dunia saat ini.
Reaksinya nyinyir terus, menolak, membendung, ingin mengubur sifat-sifat kebajikan dharma itu, karena tak menguntungkan napsu-napasunya. Yudhistira selanjutnya menjawab, walaupun raja telah mengembalikan Kerajaan akibat judi itu, bagi seorang kesatria sejati, hadiah kerajaan bukanlah “kebanggan”. Kerajaan yang diterima sebagai hadiah, bisa berubah bagaikan duri dalam daging yang menusuk-nusuk di tenggorokan. Ketika seperti itu kesatria macam apa itu?.
Oleh karena itu bagi seorang kesatria harus mampu berjuang sekuat tenaga dan kecerdasannya mewujudkan cita-citanya hingga mencapai puncaknya. Demikianlah Ratu, segala sesuatu yang dianggap benar mesti diperjuangkan agar mencapai puncaknya. Agar seorang kesatria benar-benar bisa merasakan nilai-nilai dan semangat perjuangan serta anugrah-Nya, sehingga mampu memelihara anugrah itu demi kesejahteraan dan kedamaian masyarakat
Mendengar jawaban itu Dewi Suthena sangat senang dan lebih terbuka hatinya memaknai masalah dan nilai-nilai kebijaksanaan yang tersembunyi di dalamnya. Bukan hanya bayang-bayang kemenangan subyektif, tetapi kebenaran subyektif dan obyektif yang berimbang, sepenuhnya mengkonstruksi realitas, menemukan esensi kebenaran yang mensejahterakan dan mendamaikan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments