
“AURA KASIH”
“Kebenaran Yang Dipikirkan Dan Kebenaran Yang Dirasakan”.
Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 13 Juli 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Tidak mudah memahami dan merasakan kebenaran, karena kebenaran itu melingkupi ragam kegiatan insan-insan dunia untuk memenuhi kebutuhan hidup lahir dan batin, menciptakan kebudayaan yang selalu hidup sepanjang jaman. Walaupun telah ribuan kali kebenaran ini didefinisikan dan disebarluaskan lewat ragam media informasi, namun masih tersisa segudang nilai yang bersifat pra predikatif, tak dapat diucapkan tetapi dapat dirasakan kebenarannya, yang begitu membahagiakan.
Demikian pula sebaliknya yang berlawanan menjadi kesalahan hingga merasa berdosa, menyedihkan, menyusahkan bahkan seringkali menyakitkan. Kebenaran yang membahagiakan begitu menyentuh hati yang terdalam, lahir dan tumbuh berkembang dari tindakan kerja yang tulus penuh rasa pengabdian, menjunjung tinggi hasrat mencapai “Kebenaran sejati’ yang mendamaikan itu. Melalui kesadaran tulus itu, nilai-nilai kebenaran hadir menjiwai setiap prilaku, mampu memposisikan tujuan dan obyek yang jelas serta cara mencapainya. Saat itu hadir kesadaran metodologis penuh dedikasi dan kesopan santunan yang logis nan humanis.
Kebenaran sesungguh tak berada dalam ketinggian kualitas terminologi saja, sebagai konstruksi pemikiran lewat pengalaman tertentu, tetapi ragam rasa kebenaran itu dapat dirasakan ketika dilaksanakan dan dikerjakan dengan penuh keyakinan, atas tuntunan Tuhan Yang Maha Kuasa yang mengalir lewat “Orang-orang suci’ yang dikehendaki-Nya. Ketika sudah demikian, maka kebenaran itu akan berubah menjadi rasa yang amat menyenangkan, menggairahkan dan membahagiakan.
Dalam kontek itu terminologi kebenaran merupakan panduan prilaku untuk mencapai kebenaran, berposisi di alam berpikir yang dilandasi pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain. Konfigurasi nilai-nilainya merupakan hasil analisis dari tumpukan kutipan pendapat dan pengalaman panjang para pendahulu, dalam ruang aktivitas yang berbeda-beda. Lalu menjadi teori-teori tentang kebenaran, yang berposisi di alam pikir, menuntun agar bergerak untuk menemukan kebenaran yang benar-benar dapat dirasakan dalam hati, mempribadi hingga menumbuhkan keyakinan yang kuat
Ketika terjadi ketidak sadaran terhadap terminologi itu, seringkali orang-orang berdebat kebenaran esensial, yang selalu berubah dan bergulir meresapi semua aspek kehidupan. Seringkali dibatasi format teks terminologi yang terkadang sudah usang kedaluwarsa, hingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan lalu menjadi berebut pepesan kosong. Kontek sesungguhnya hanyalah membangun kecerdasan mengukuhkan egoistik yang seringkali menghinakan kepribadian lawan debatnya atau memandang kebenaran teksnya itu berdasarkan kuantitas mayoritas, lalu menekan yang lainnya.
Ketika sedikat berbeda dan berubah kata dari istilah yang ada, lalu berakibat menciptakan tuduhan-tuduhan anti-antian, bahkan bisa dipandang anti terhadap ideologi tertentu, yang sesungguhnya berada dalam “rumah tafsir-tafsiran” untuk meyakinkan pencapaian tujuan yang sama.
Format ragam karakter yang mengalir merefleksi terhadap tata bahasa dan tindakan di wilayah tertentu, yang berbeda karakter psikologisnya semestinya bisa ditempatkan sebagai kebenaran persepsi terminologis dalam upaya menyelaraskan. Persoalan terminologis seperti itu telah mengaburkan esensi dasar psikologi kemanusiaan. Akibatnya bisa menimbulkan benturan psikologis yang ditunggangi hasrat tersembunyi pengekangan sebagai reaksi penjajahan ideologi tertentu. Oleh karena itu ketajaman “teori-teori teks tentang kebenaran”, yang tumbuh dan berkembang di masa lalu dalam wilayah karakter yang berbeda-beda mesti ditelaah secara baik dan benar hingga bisa diserap dalam suasana akulturasi yang saling menguatkan, bukan meniadakan dan membabat habis taman budaya estetik nan sundaram, prestasi agung keluhuran nenek moyang bangsa.
Pergerakan alur ideologi yang demikian itu tentu patut diwaspadai dan dihindari, bila menyentuh perlu dibersihkan dan disucikan kembali. Agar tak mudah menempel, lalu menjadi parasit yang perlahan mematikan pohon asli yang ditumpanginya. Dengan penuh rasa hormat dikembalikan lagi ke tempatnya tumbuh, agar hidup sesuai karakter tanahnya.
Ketika sudah demikian kebenaran berpikir dan merasakan menjadi satu kesatuan, untuk saling menghormati, saling mencintai dalam ruang kosmik yang sama, lalu tumbuh berkembang bersama-sama menjadi taman kebenaran penuh cinta kasih, mendamaikan dunia dengan segala isinya. Ketika sudah demikian berpikir benar dan merasakan esensi kebenaran, yang meresap membahagiakan, merupakan nikmat rasa surgawi, semasa hidup di alam semesta raya nan indah ini. @@@ Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.









Facebook Comments