September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Hidup Mempelajari Kehidupan Untuk Hidup”.

Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 15 Juli 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM).  Konon proses kehidupan sesuai catatan sejarah hingga hari ini, telah berjalan ribuan tahun, bahkan ada yang berpendapat jutaan tahun dengan berbagai temuan dan analisis keilmuannya masing-masing. Semua itu dapat menjadi pelajaran yang amat berharga, bagi orang-orang yang mau dan menyempatkan sedikit waktunya untuk belajar, serta yang memperoleh kesempatan untuk belajar. Salah satu nilai-nilai sebagai sumber materi yang dapat dipelajari, bagaimana proses kehidupan itu berjalan secara historis, melewati ruang berkabut misteri yang mesti dihadapinya.

Walaupun demikian keterbatasan pengetahuan dan kemampuan untuk menyerap, mengingat dan mengenang amat juga terbatas. Catatan-catatan berupa ragam artefak, bertebaran di seluruh jagat raya dari jaman ke jaman, membantu insan-insan duniawi untuk mengetahui nilai-nilai tersembunyi di balik realitas itu, lalu menjadi sumber belajar. Sadar tidak sadar bahwa paduan antara hakekat semesta dengan sentuhan kecerdasan olah pikir dan kreatifitas olah rasa menggerakkan serta kerja fisik nenek moyang kita di masa lalu, menghasilkan kebudayaan yang beragam alur.

Alur hidup kebudayaan itu memposisikan proses konfigurasi, lalu penguatan yang memberi kenikmatan dan kebahagiaan jasmani dan rohani masanya. Kemudian ditinggalkan oleh penciptanya, karena batas waktunya telah habis, lalu dibiarkan di alam semesta berproses melalui Sang Waktu bersama kesadaran insan-insan generasi berikutnya. Diproses dan dilebur kembali oleh alam semesta, kemudian yang disisakan dapat dipelihara kembali menjadi artefak mengagumkan.

Dibalik itu ada pula pemikiran idealisme yang berlawanan lahir dan hadir yang memandang artefak tertentu itu sebagai sesuatu yang tak sejalan dengan keyakinannya, lalu berupaya untuk meniadakannya. Bukan dilihat sebagai peta historik, kemampuan manusia berproses di alam semesta. Tetapi dipahami oleh pikiran salah dan benar berdasar cara pikir dan prilaku idealnya. Tetapi secara esensial dihadirkan jiwa-jiwa sadar pelestari, lalu melestarikannya sekuat tenaga, dikuatkan oleh hukum formal. Walaupun demikian masih saja ada yang bergerak sembunyi-sembunyi meniadakan dengan cara bermacam-macam. Barangkali seperti itulah dinamika hidup, diantara yang memelihara dan yang merusak selalu hidup berdampingan.

Sesungguhnya kehadiran artefak-artefak itu telah mengantarkan, bahwa nenek moyang di masa lalu, telah memahami kesadaran dirinya tersentuh sugesti dan energi daya tarik semesta, lalu merespon aktif, hingga menjadi wujud kebudayaan tertentu. Wujud-wujud kebudayaan itu, meliputi kajian dan konstruksi dari ruang jelajahnya masing-masing, serta ragam masalahnya.

Kehadiran ekspresi budaya itu, tentu diawali oleh interaksi indriya-indriya, lalu berproses melalui selera, kemudian dipikirkan dengan sebaik-baiknya meliputi kegunaan dan kemanfaatannya dengan segala resiko sebab dan akibatnya. Semuanya ini bergerak di ruang ‘stula sarira” yang dibungkus rapat-rapat dalam tubuh jasmani yang sehat berenergi baik.

Akumulasi dari daya tarik indrawi terhadap varian obyek-obyek estetik semesta raya, lalu disusupi dan menyusupi selera, dipikirkan sebaik-baik dan ditindak lanjuti sebenar-benarnya, mencapai kegunaan yang seluas-luasnya. Keluasan kegunaan itu meliputi dua aspek esensial yaitu memenuhi kegunaan di dunia material  (sadguna), lalu disempurnakan terus agar perlahan terbebas dari guna material itu, mencapai keheningan merasakan kedamaian di dunia rohani (nirguna).

Ketika alur kehidupan itu dilakoni dengan penuh kesadaran untuk belajar untuk hidup yang sesungguhnya, maka dapat  dirasakan alurnya bahwa  proses kerja alam pikir hingga menemukan “guna” material jasmani nan duniawi, disempurnakan terus mencapai keheningan rohani yang membahagiakan itu, merupakan kerja kesadaran yang dijiwai penyempurnaan. Artinya dalam konfigurasi alur kerja penyempurnaan itu, kesadaran yang dijiwai oleh penyempurna menjadi kesadaran aktif, menjadi “Guru Penuntun” (Guru Swadyaya) dalam diri mengatur dan mengendalikan setiap tindakan.

Proses panjang perjuangan untuk “mencapai” kebenaran itu, hingga dapat merasakan kebenaran sejati itulah proses kehidupan, yang menghidupkan kesadaran yang dihidupkan oleh energi kasih mahasadar yang amat sulit untuk dipahami. Tetapi pada saat yang tepat dapat dipahami dan dirasakan menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Apabila pelajaran tentang hidup untuk mencapai kebenaran itu terabaikan, dan tak disadari, maka posisi harkatnya di luar standar nilai-nilai kemanusiaan. Wujud bisa saja manusia berwajah tampan, tetapi isinya yang berbeda.

Akibat dari semua itu melupakan belajar tentang kehidupan itu, tak tersentuh hukum sebab akibat kehidupan, lalu hidup menjadi tak terarah. Oleh karena itu terlepas dari sentuhan pengetahuan yang mengarahkan. Salah satu sifatnya menunjukkan, hilang dan sirnanya rasa malu dalam dirinya sendiri, hingga berprilaku selalu memalukan. Prilaku yang memalukan itu dianggap sebagai “kebenaran”, lalu berteriak-teriak tentang kebenaran versinya.

Karena berada di wilayah versi dan di luar kaedah, akibatnya energi kebenaran cinta kasih tak meresapinya. Akhirnya menghasilkan kinerja yang “memalukan”. Realitas ini semakin banyak bergerak memburamkan dan mengabur gelapkan atmosfir kebajikan negeri ini. Oleh karena itu patut diwaspadai dan dihindari, agar tak terjebak perangkapnya. @@@ Semoga menjadi renungan dan refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!