
“AURA KASIH”
“SEKOLAH KEMANUSIAAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 21 Juli 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM).
Saat ini Sekolah Kemanusiaan tidak lagi berada di dalam “hutan”, tetapi telah berubah lalu berpindah ke perkotaan. Menciptakan dan menempati kota-kota baru yang semakin meluas, mendesak hutan tempat makhluk-makhluk isi hutan itu berkiprah. Akibat semakin sempit ruang berkiprahnya, maka semakin musnahlah kehidupan mereka itu. Sesuai hukum alam banyak yang lebur pralina menghilang, barangkali telah banyak diantara mereka yang telah bertransformasi ikut berpindah menempati rumah jasmani dan rumah rohani insan-insan yang “kosong-kosong” itu. Lalu meresapi, menguasai sifatnya kemudian mengendalikan badan jasmaninya.
Dengan cara seperti itu mereka memperoleh “badan yang paling baik” untuk membaur, mempengaruhi lalu menaklukannya. Terutama bagi insan-insan yang belum teredukasi kecerdasan rohaninya, untuk memahami dirinya sendiri. Sangat sulit untuk memahami perbedaan itu, ketika gelombang prekuensi kejiwaannya sama atau lebih rendah dari tataran itu. Oleh karena itu mereka sangat mudah menaklukannya, dengan kekuatan senjata ampuhnya melalui pergaulan yang memanjakan selera dan hawa napsu.
Mereka sengaja dengan cara yang sangat menarik menyajikan hal-hal yang merangsang pemuasan selera dan hawa napsu, yang terus dimanjakan, hingga seluruh artha benda dan jiwa sasarannya terkubur dalam derita kegelapan. Realitas gelap ini sedang menggelora menjadikan insan-insan pahlawan napsu. Etika sopan santun yang menjaga kualitas martabat menjadi barang basi, tak menarik lagi dalam bayangannya, tetapi sengaja dikubur beku dalam buram injakan ketuk sandal tinggi, berjari-jari lentik bercat sumringah warna-warni. Semua itu menjadi gaya hidup, yang menjanjikan dilindungi hak asasi.
Bukan hanya itu wujud transformasinya, tetapi mereka telah menempati jiwa raga insan-insan cerdas, disusupi kekuatan besar berenergi napsu, memperoleh pangkat tinggi lalu menduduki posisi strategis, sebagai pemimpin-pemimpin pengendali kekuasaan. Lalu kuat memanipulasi, menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat. Realitas ini sesungguhnya sangat mudah disaksikan dan dirasakan dengan kesadaran logis, tetapi rakyat tak mudah menerobos untuk memperoleh keadilan.
Menciptakan konflik untuk menebar racun penghancuran, bukan menyelesaikan konflik sesuai tugasnya. Itu artinya betapa hebatnya strategi halus mereka merebut dan menguasai tubuh jasmani yang cerdas, lalu diperkuat oleh energi raksasa hingga benar-benar kekuatan Dewata yang seharusnya sebagai penyeimbang keadilan dunia tertunduk lesu, di atas perjuangan kewajibannya. Itu artinya ruang rohani insan-insan duniawi telah dikuasai dengan baik, hingga keadilan kedamaian yang mensejahterakan hanya berada dalam bayang-bayang. Lalu bisa bersahabat dengan derita dan kesengsaraan.
Dapatkah insan-insan duniawi merasakan “realitas gelap” yang telah menguasai dan menduduki jiwa-jiwa itu sendiri. Ketika jawabannya ya, itu artinya kesadaran yang dimulai dengan hadirnya setitik “sinar suci” telah mulai menyala. Pertanyaannya kemana nyala sinar kesadaran itu akan dibawa?. Jawabannya tentu dimulai dari diri sendiri, menerangi langkah untuk bisa berjalan menuju kota rohani kebajikan yang membahagiakan itu sendiri. Walaupun awalnya dimulai dari “angan-angan kebajikan”, mampu mensugesti penguat jalan untuk mencapainya. Walaupun jalan menuju kota impian itu tak mudah, oleh karena itu bertanyalah kepada pendahulu yang telah berjalan, mengenal dan pernah merasakan keberadaan kota impian itu. Analogi ini lebih bersifat fisik, sesungguhnya itu berada dalam kesadaran rohani yang telah dipahami untuk meneteskan minyak menguatkan nyala api kesadaran itu sendiri.
Ketika nyala api kesadaran itu terasa semakin terang, itulah nilai-nilai edukasi yang dihidupkan dalam sekolah kemanusiaan, bergerak perlahan membakar dan menerangi kegelapan. Dengan demikian badan jasmani perlahan disehatkan oleh energi suci pancaran-Nya. Kerja panjang edukasi ini menempatkan badan jasmani sebagai wadah utama yang terpelihara untuk bisa mengabdi kepada penyempurnaan diri dari kabut gelap penyelubungnya.
Ketika nyala api kesadaran itu semakin terang, dengan sendirinya selera, napsu dan ego yang memanjakan itu, terbakar perlahan berubah menjadi energi penguat kesadaran penyempurnaan diri, memasuki kota kebahagiaan yang sesungguhnya. Bayang-bayang impian telah berubah menjadi realitas yang amat membahagiakan. Ketika sudah demikian insan-insan duniawi telah menebus dan membebaskan ikatan dosa-dosanya, ditempa melalui sekolah kemanusiaan, akhirnya mampu memindahkan keterikatan di dunia hutan jasmani mencapai kedamaian dalam kota rohani yang indah membahagiakan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments