September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Kebhinekaan Merefleksikan Kesadaran Hidup Toleransi”

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 14 Agustus 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)===Ditengah-tengah ruang terbuka semakin luas, jangkauan langkah menginjak bumipun semakin luas. Ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dan super canggih, mampu mendekatkan semua jarak baik secara langsung maupun virtual untuk mengenal ragam peradaban dunia. Peradaban itu meliputi dua ranah besar, berprilaku di dunia material dan berkesadaran prilaku di dunia spiritual penyempurnaan diri. Berorientasi edukasi kedalam diri dan berinteraksi bijak di ranah sosial, menjadi spiritual sosial yang harmonis. Dinamika gerak realitas itu menciptakan komunikasi nan edukatif terbuka luas, walaupun masih banyak yang tersisa dan terasing karena berbagai hambatan yang tak mampu memasuki keterbukaan itu.

Demikian pula ada yang tak bersedia membuka diri untuk menyelaraskannya, tetap memegang teguh kearifan budaya leluhurnya. Akibatnya menjadi tradisi budaya konvensional, yang diyakini dan dipanuti. Karena tak mau ribet oleh perubahan, lalu menjadi nilai-nilai yang diunggulkan dalam wilayahnya masing-masing. Demikian pula telah merasa nyaman dengan keunggulan masa lalu, diyakini dan terus dilestarikan keajegannya hingga kini.

Adapula yang mengunggulkan dan mengkonstruksi kearifan masa lalu, sebagai upaya tersembunyi untuk menguasai, karena di ruang itu kehormatan hidup dan kemapanannya terpelihara. Dogma-dogma menjalar menyusupi dan mengkondisikan serta menanam benih-benih “kepantasan” kuasa turunan. Bukan mengarahkan pada kuasa kebenaran Ilahi yang turun berubah wujud dan berkembang, membangkitkan kesadaran dan kecerdasan spiritual yang esensial dinamis nan pleksibel.

Dinamika dikotomis ini mesti dipahami melalui suasana pikiran yang cerdas dan hati yang bersolusi bijaksana sesuai alur jaman. Bukan kepatuhan terhadap kepantasan yang dibuat sendiri untuk mencocok hidung. Lalu dikendalikan dan diikat dalam tekanan dogma-dogma menakut-nakuti, yang tak berujung pangkal. Tetapi memberdayakan kemandirian insan-insan agar berkesadaran vertikal dan horizontal, akomodatif nan harmonis.

Demikian pula Rsi Wiyasa mengisahkan Bima secara tak sengaja bertemu Hanuman di dalam hutan. Bima tak mampu mengangkat dan memindahkan ekor Hanoman, yang menghalangi jalannya. Lalu Bima menyerah. Saat itulah Hanuman mengenalkan dirinya dan menyebut Bima adalah adiknya. Pertemuan jasmani dan terbuka serta bersatunya gelombang kesatria rohani yang sama. Suasana hati yang amat membahagiakan itu, bisa terjadi menghubungkan esensi kebenaran jaman yang berbeda. Lalu Bima memohon kepada Hanuman agar berkenan membantu menegakkan dharma di Kerajaan Asthinapura.

Lalu Hanuman menjawab; hai adikku Bima ini adalah jamanmu, mengabdi untuk dharma. Kuasa-ku atas jaman ini telah berlalu, untuk itu aku merestui perjuanganmu. Memperoleh restu yang luar biasa itu, sangat menggairahkan semangat Bima untuk berjuang. Itu artinya “kuasa” anugrah itu berperan pada jamannya, oleh karena itu “Dia” hadir melalui sifat kuasa-Nya pada setiap jaman yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu kesadaran hidup mesti ditempatkan dalam “karakteristik Kuasa Ilahi yang menentukan jaman”. Insan-insan duniawi mesti sadar memainkan perannya terhadap kuasa itu, untuk memperoleh anugrah-Nya.

Dinamika keberagaman nan dikotomis itu, disatu sisi bernilai positif berbingkai istilah kearipan lokal. Menciptakan keasyikan tersendiri untuk merawatnya. Sekarang menjadi museum hidup, sangat menarik untuk dikunjungi dan dikaji. Pada sisi yang lain gelisah terus ingin berubah mencapai kemajuan tanpa batas. Lalu hidup dalam arus perubahan yang konsumtif, konon berselera tinggi nan up to date.

Artefak dikotomis itulah taman indah semesta kehidupan, yang terus berlanjut. Oleh karena itu betapa pentingnya saling menghormati untuk menciptakan rasa damai bersama. Bukan datang dari jauh berkedok peradaban tinggi bertopeng meninggikan keimanan leluhurnya, tetapi prilakunya terus menerus menghina orang-orang dan budaya setempat yang dicokoli. Sesungguhnya budaya setempat telah menjadi prilaku hidup harmonis berabad-abad mendewasakan insan-insannya.

Dogma pemecah belah, tantangan perang mengacaukan stabilitas untuk menguasai dilakukan, lalu minta untuk dihormati dan dimuliakan. Oleh karena itu sadar budaya nan religius merupakan esensi hidup bernilai konstruktif nan harmonis. Merupakan endapan panjang, nilai-nilai kebenaran hasil interfenetrasi, antara alam beserta segala isinya, terkoneksi nilai-nilai memuliakan Sang Pencipta.

Taman budaya yang tersaji indah nan dinamis itu, berpola anutan masing-masing, dibingkai dengan paham “perangkul makna” yang luar biasa bijaksana, yaitu: Bhinneka Tunggal Ika. Paham yang luar biasa merangkul makna ini, dibingkai melalui semangat perjuangan yang dikemas melalui “Sumpah Pemuda”. Sumpah bernilai mengkonstruksi semangat perjuangan terus menerus tiada henti. Menghadapi isme-isme perongrong yang datang dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri sendiri, yang ingin merongrong melalui penjajahan era baru dalam segala lini kehidupan.

Parasit budaya yang sedang merongrong dari dalam, ada yang sengaja membiarkan untuk kepentingan tertentu.  Semua penyakit penghianatan ini harus dihadapi dengan berbagai proteksi dalam ruang aksi, para kesatria dharma dan para pemimpin tokoh-tokoh bangsa. Mulai dari doa-doa penyadaran mental dan prilaku, tanggung jawab berbangsa dan bernegara, sebagai kewajiban utama hidup di bumi. Konfigurasi dan konstruksi nilai-nilai kebenaran ini, sudah seharusnya mengalir dari pengetahuan suci keagamaan, karena negara telah mengaturnya. Disitulah terletak kewajiban utama pemerintah, menempatkan insan-insan pilihannya, tegas menegakkan kebenaran agar rakyat mampu menteladaninya. Lalu siap membangun peradaban budaya yang bermartabat meluhurkan.

Walaupun kebenaran yang diangankan itu tak mudah, tetapi bersatu padu menyatukan semangat, mengedukasi diri bersama-sama atas nilai-nilai kebenaran yang diyakini, tahapan-tahapan kemajuan pasti tercapai. Bukan selalu menyalahkan dan sibuk mencari kesalahan untuk dirusak dan merusak stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengukuhkan keinginan sendiri diatas kebenaran hukum, lalu menghina terus tetapi tak merasa menghina. Menghindar dengan preming-preming tertentu, yang sesungguhnya menenggelamkan harkat dirinya sendiri.

Itu artinya kesadaran moral dan kesantunan publik, tergantikan dengan logika pembenar-pembenaran. Walaupun sesaat terasa benar, tetapi berakibat menghancurkan yang tak disadari. Mengaburkan nilai-nilai kebenaran bagi masyarakat luas, lalu menjerat pikirannya lalu larut pada kebencian yang tak berujung pangkal. Gaya isme-isme asura ini, beragam motif sedang melanda, merongrong bangsa yang sedang berkembang ini, yang patut disadari dan berjuang bersama-sama dalam wilayah swadharmanya masing-masing. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!