
“AURA KASIH”
“SINGGASANA KEBENARAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat, 22 Agustus 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM). Merbicarakan Singgasana Kebenaran saat ini, memang merupakan bayang-bayang, bagaikan metamorhana gurun pasir di siang hari, ketika dikejar menghilang lalu terus muncul, lalu menghilang lagi demikian seterusnya. Nampaknya saat jiwa-jiwa terkondisi diantara ilusi, delusi dan “harapan kebenaran” yang mensejahterakan dan membahagiakan yang diyakini “pasti ada”, oleh karena itu pasti “bisa dicapai”. Sugesti spirit “kebenaran” yang menggerakkan indriya-indriya dan prilaku untuk berupaya terus mengejar bayang-bayang menjapai “kebenaran” itu. Memahami dan berupaya mengabaikan bahkan bisa mengorbankan hal-hal yang berbau kesenangan sumringah duniawi demi memperjuangkan upaya menembus bayang-bayang menemukan kebenaran yang diyakini “pasti ada”. Demikianlah realitas dibalik bayang-bayang Singgasana-singasana asura sakti nan cerdas menguasai ketiga dunia.
Para Suci mengisyaratkan, ketika dunia sedang dikuasai kesewenang-wenangan asura, hanya kepada Tuhanlah doa-doa pujian untuk memperoleh perlindungan mesti dilakukan dengan penuh keyakinan nan tulus. Oleh karena itu insan-insan yang tersentuh kesadaran itu, patut melaksanakan swadharma menguatkan keyakinan pujanya, berprilaku kesatria bijaksana di dunia material. Sebagai upaya mengkonstruksi strukturisasi “Singgasana Kebenaran” agar terbebas dari kuasa asura itu sendiri. Salah satu narasi heroik nan religius mengisahkan Bima berjuang melaksanakan perintah Guru Drona untuk mencari air suci amritham Sanjiwani (Kamandhalu) di dasar samudra. Berbagai pertimbangan dan tuntunan yang diberikan oleh kakaknya Yudhistira dan Sri Krishna bahwa Amritham Sanjiwani itu tak berada di dasar samudra.
Bima tak memperdulikan nasehat itu, dan meyakini itu adalah tugas dan perintah Guru harus dilaksanakan. Baginya “perintah Guru adalah perintah kebenaran”, lalu Bima bergegas menceburkan diri ke dasar laut, berjuang membebaskan diri dari serangan ular naga, para raksasa dan hambatan-hambatan lainnya. Setelah melewati rintangan, saat napasnya terengah-engah Bima bertemu anak kecil yang sedang mengumpulkan sampah-sampah dan menyantapnya dengan nikmat di dasar samudra yang amat dalam itu.
Menyaksikan ada anak kecil yang penuh keanehan didasar samudra itu, Bima merasakan sesuatu dalam hatinya, lalu bertanya siapa gerangan dirimu anak kecil, siapa yang menugaskan dirimu mengumpulkan, dan membersihkan kotoran sampah di dasar samudra ini, lalu menyantap dengan rasa nikmat sekali?. Anak kecil itu menjawab; “inilah tugasku, tak ada siapa yang menugaskan, Aku kerjakan saja dan sampah-sampah itulah makanan-Ku setiap hari”. Mendengar jawaban itu membuat Bima sangat kaget dan tercengang, lalu berpikir dalam lubuk hatinya.
Kalau bukan orang hebat mengapa bisa hidup sendirian di tengah kedalaman samudra seperti ini. Lalu anak kecil itu, balik bertanya “Hai Bima apa yang sedang kau cari kemari?. Mendengar pertanyaan itu membuat Bima lebih kaget lagi, kok dia tahu nama-ku, menguatkan keyakinannya bahwa anak kecil itu bukan orang sembarangan. Lalu bertanya, hai anak kecil, bolehkan aku bertanya dimana tempat-ku menemukan Amritham Sanjiwani (Kamandhalu) itu ?, Aku disuruh oleh Guru-ku Bhagawan Drona untuk mencari Amritham itu, untuk kesembuhannya.
Di dalam samudra ini tidak ada apa yang sedang kau cari itu Bima !. Bima kaget mendengar jawaban anak kecil itu, membuat Bima seolah putus asa, lalu Bima bangkit dan meyakinkan diri bahwa itu ada, karena itu adalah petunjuk Guru-ku demikian Bima sujud menyembah mohon petunjuk-Nya. Anak kecil itu menjawab baiklah, kalau kau “telah meyakini kebenaran itu” dan kesetiaan-mu kepada guru-mu. Hai Bima masuklah engkau ke dalam lobang telinga-ku !.
Mendengar perintah itu Bima terkejut, bagaimana aku bisa masuk ke dalam lobang telinga-mu yang sangat kecil itu, sedangkan tibuh-ku besar perkasa seperti ini. Melihat Bima kebingungan, anak kecil itu tersenyum memainkan lila-Nya, lalu memberi petunjuk. Hai Bima pejamkanlah mata-mu, lalu tenangkan pikiran dan hati-mu, tarik napas-mu dan haluskan perlahan-lahan, hingga benar-benar hati-mu merasa tenang. Lalu berkonsentrasilah dan rasakan engkau masuk ke dalam lobang telinga-Ku ini !. Bima melaksanakan perintah itu, lalu sukmanya masuk ke tubuh anak kecil itu.
Saat memasuki lobang telinga itu, Bima merasakan ruang yang amat luas tak terbatas, kilauan warna biru membahagiakan, lalu berganti warna merah, selanjutnya berubah menjadi kuning, selanjutnya menjadi putih bersih, kemudian berubah menjadi bening hening menyilaukan, membuat Bima merasakan kedamaian dan membahagiakan luar biasa yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Semua harapan dan seluruh pertanyaan sirna hilang lebur membahagiakan. Lalu terdengar suara, sudah-sudahlah Bima kembalilah engkau ke alam-mu, bawalah Amritham Sanjiwani (Kamandhalu) ini untuk guru-Mu. Saat itu pula Sukmanya kembali ke raganya menjadi sadar jasmani, lalu anak kecil itu menghilang.
Walaupun sesungguhnya Bima masih sangat senang tinggal di alam rohani yang membahagiakan itu, di dasar samudra, memperoleh “anugrah bersatu sesaat bersama Sang penguasa”. Pengalaman spiritual yang amat membahagiakan itu, membuat Bima bersemangat mempersembahkan Amritham Sanjiwani (Kamdhalu) itu kepada Guru-Nya. Dibalik semua itu, sesungguhnya adalah agar seorang siswa, mahasiswa, bhakta atau sadhaka mampu merasakan dan membuktikan kebenaran pengetahuan dari proses belajar mengisi pikiran dan merasakan serta membuktikan kebenarannya, melalui kewajiban suci sebagai persembahan kepada Guru, hingga Guru merasa senang, bangga dan berbahagia.
Seperti itulah sesungguhnya esensi edukasi kehidupan yang, berpahala nikmat membahagiakan, menjadi Amritham Sanjiwani, persembahan seorang siswa, mahasiswa, bhakta atau sadhaka kepada Gurunya. Menyehatkan, membahagiakan Guru melalui persembahan keunggulan prestasi di dunia material dan mencapai kebijaksanaan di dunia rohani spiritual menjadi kesejatian diri penuh rasa hormat dalam vibrasi kemuliaan-Nya. Lalu memvibrasikan untuk siapa saja yang “tersentuh” memerlukan. Saat itu pula “sifat kuasa Guru” mentransformasi mengalirkan pengetahuan suci hidup sepanjang jaman meresapi jiwa insan-insan yang sadar tersentuh.
Demikian pula Bhagawan Bisma saat tubuh jasmaninya dihujani panah-panah tajam Arjuna, Bisma merasa sangat berbahagia dan bangga terhadap keunggulan pengetahuannya memanah sebagai Bhakti seorang kesatria sejati kepada Guru (Guru Rupaka). Mengantarkan Sang Roh kembali ke alam kebahagiaan.
Memaknai narasi kisah ini mensugesti spirit yang amat bermakna bagi seorang siswa, mahasiswa, bhakta atau sadhaka diranah pengetahuan material dan yang sedang teredukasi penyempurnaan diri di ranah pengetahuan suci spiritual. Bima telah menempatkan dan meperjuangkan kesetiaannya, kepada Guru-nya. Akibatnya sifat kuasa Guru yang selalu terkoneksi bersatu dengan Sifat Keilahiaan-Nya, maka sesuatu yang tak terbayangkan di alam logika pengetahuan material duniawi, dilurus arahkan, lalu disempurnakan oleh Kemahakuasaan-Nya yang penuh kasih.
Saat itulah “Dia” dirasakan kebenaran-Nya sebagai Guru Sejati, sehingga jawaban dari kesetiaan terhadap kewajiban itu, menjadi anugrah yang membahagiakan. Rahasia tersembunyi ini menjadi metodologis praktek-praktek penguatan keyakinan, teruntuk siswa, mahasiswa, bhakta atau sadhaka bergerak membuktikan “kebenaran pengetahuan” itu sendiri agar dapat dirasakan meresap, menjadi prilaku yang terus menyempurnakan. Kedalam diri maupun penyelarasannya dalam kontek kehidupan bermasyarakat, memaknai dinamika hidup multi dimensi, hingga semua teraliri energi penguat material yang berenergi suci penyempurna.
Perjuangan membelokkan dan membalikkan realitas inilah ruang dan dimensinya yang patut disadari, diyakini diperjuangkan dan terus berjuang hingga batas-batas ruang dan watu-Nya tiba. Pengorbanan adalah energi semangat bagaikan Bima berani menantang arus, lalu menundukkan naga dan asura-asura di dasar laut kegelapan. Seperti itulah semangat perjuangan agar mampu membelokkan dan membalikkan kehidupan jiwa-jiwa yang tenggelam dalam kegelapan, mengkonstruksi kekuatan “singgasana kebenaran”, agar mampu menghadirkan “Kebenaran Sejati” berstana memancarkan sinar bervibrasi suci mensejahterakan dunia. Lalu mengantarkan perubahan jaman mencapai kemenangan yang mensejahterakan dan mendamaikan (Santhi Asih). *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments