
“AURA KASIH”
“INDAHNYA TAMAN ROHANI”
Oleh : I Ketut Murdana (Minggu : 12 September 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika sinar suci Ilahi menerangi menembus meresap ke dalam lubuk hati, sebagai anugrah istimewa bagi semua insan-insan yang dikehendaki-Nya. Ragam pertanyaan dan keluh kesah serta keraguan pun sirna berubah membahagiakan. Saat itu raga jasmani merasakan getaran suci, mengalir atas prosesnya sendiri. Proses merasakannya melampaui kerja logika, meresapi semua unsur indriya, menundukkan napsu dan ego berubah membahagiakan. Getar energi suci itu terasa nikmat membahagiakan, mengaktifkan seluruh organ tubuh, walaupun tak mudah mengatakan, tetapi itulah pengalaman rasa, yang hadir, mengalir meresapi saat-saat tertentu.
Sesungguhnya saat-saat membahagiakan itu bisa terjadi, berawal dari prilaku tulus ikhlas, atas dasar kesadaran menanam benih-benih kebajikan yang berguna untuk kebahagiaan semua makhluk. Walaupun melalui kemampuan terbatas, dalam ruang yang terjangkau, dapat merasakan nikmatnya. Belajar mengikhlaskan semua kewajiban itu, atas kewajiban itu sendiri, hingga pada saatnya tumbuh berkembang “dibesarkan” oleh energi semesta raya dengan sendirinya. Lalu berpahala sebagai anugrah, yang mempribadi kepada siapapun yang telah menanam.
Tetapi bagi yang selalu sadar untuk “menanam”, akan selalu sadar pula untuk “berbagi anugrah”. Sisa berbagi itulah bagiannya, ketika dipahami sebagai hukum materi. Tetapi rasa bahagia itu tak pernah habis ketika dibagi, justru menebar bervibrasi lebih luas. Ketika itu pula timbul pertanyaan, bagaimana cara berbagi kebahagiaan itu, karena itu meresap di dalam diri?. Caranya tiada lain adalah melalui “berbagi cerita pengalaman”, orang lain yang tersentuh ikut merasakan vibrasi kebahagiaan itu, lalu sadar perlahan, berprilaku kebajikan.
Demikianlah petani menanam padi, dia berbagi kepada belalang, walang sangit, ulat, belut jangkrik, kepiting, wereng, dan lain-lainnya. Setelah mulai berbuah ribuan burung pun menyerangnya. Petani selalu berjuang melawan keadaan itu, lalu sisanya adalah anugrah rejeki kehidupannya. Suatu saat petani itu berseloroh, hasil panen-ku tak bisa menutupi beaya produksinya, tetapi hanya ini pekerjaan-ku. Walaupun demikian ada pula yang berseloroh, kalau petani tak menanam padi lagi, di mana makhluk-makhluk itu mencari makan.
Sadar tak sadar, petani telah bersama-sama memelihara kehidupan lainnya. Setiap membajak sawah, bersahabat dengan ribuan bangau-bangau yang mengikuti bajaknya, membantu membongkar, jenis makanannya di dalam tanah, seperti: belut, jangkrik, anai-anai, cacing tanah dan lain-lainnya. Oleh karena itu, melalui pekerjaannya petani itu, telah memelihara banyak makhluk ciptaan-Nya. Barangkali karena karma itu petani diberkati, kesehatan, ketenangan serta umur relatif lebih panjang.
Karena berbagi anugrah adalah menanam kembali. Bagaikan menikmati rasa manisnya buah, tanpa disadari membuang bijinya ke tanah. Lalu tumbuh berbunga, berbuah lagi di tanah, demikian seterusnya. Akibat kesadaran prilaku itu, merupakan anugrah kebahagiaan berkembang dan bervibrasi makin luas. Ketika vibrasi itu semakin meluas, memerlukan kesungguhan tersendiri untuk memelihara dan merawat, agar serangan “hama” dari Asura Maya dapat dinetralisir dan selalu diwaspadai. Bagaikan godaan seorang gadis cantik, terhadap godaan seorang pria tampan. Apakah dia benar-benar mencintai untuk hidup berumah tangga, atau sekadar rayuan gombal untuk kesenangan sesaat. Hanya si gadis cantik itulah yang merasakan kebenaran rayuan dan kualitas cinta kasih pria itu. Akibatnya bisa hidup berumah tangga yang rukun dan damai, atau juga bisa sebaliknya. Itu artinya “ada” vibrasi suci terkoneksi yang menyatukan hingga menjadi “TAMAN SUCI ROHANI Membahagiakan”. Di dalamnya ada kekuatan iman yang tumbuh, dipelihara dan diperjuangkan secara sungguh-sungguh “mempribadi”. Kondisi suci keimanan itu, menempatkan pribadi-pribadi itu, tetap berada di dalam TAMAN SUCI ROHANI yang membahagiakan itu.
Vibrasi TAMAN SUCI ROHANI ini, secara “timbal balik” mengkondisikan perjuangan bersama, memelihara kesehatan, kesuburan dan keindahannya. Semua itu merupakan penguatan nilai-nilai vital nan esensial dalam menyempurnakan kehidupan. Agar berkembang menjadi taman rohani semesta indah mendamaikan dan membahagiakan. Membesarkan lalu berupaya meluaskan keindah taman rohani ini, adalah sifat naturalistik, melayani kasih Sundharam kepada semua ciptaan-Nya.
Mimpi besar inilah yang menjadi idealisme, pengantar spirit perjuangan Para Suci penanam benih-benih kebajikan dari jaman ke jaman, hingga kini dan esok. Menancapkan nilai-nilai luhur, hingga menjadi tonggak historik keluhuran, yang diluhurkan dunia. Upaya selalu menanam, memelihara, dan memetik buah nikmatnya menjadi energi hidup nikmat membahagiakan. Semua itu untuk bisa menanam, dan memelihara kembali yang tak pernah berakhir hingga kini, bahkan hari esok.
Dialah roh yang berenergi suci, berganti badan setiap jaman menyempurnakan diri, sesuai pengetahuan reingkarnasi. Demikian pula sebaliknya, dialah Roh Asura yang selalu menjadi lawan, kompetitor, lalu menjadi mitra kerja mencerdaskan dan penyempurnaan untuk mencapai harkat kebijaksanaan manusia itu sendiri. Demikianlah gambaran narasi suci pemutaran Gunung Mandara di samudra luas. Dilakukan bersama-sama oleh para Dewa dan Asura untuk memperoleh Amritham Sanjiwani.
Menghias perjalanan panjang, menjadi ‘TAMAN INDAH ROHANI’ inilah merupakan kehidupan panjang, yang dijiwai dan menjiwai nilai-nilai Sundharam, hingga pada saatnya tiba, memperoleh anugrah penyempurnaan oleh kebesaran kuasa Sang Kalyana Sundharam yaitu: Sang Penyempurna Keindahan jiwa insan-insan itu sendiri. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments