September 10, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KECERDASAN YANG MENGHANCURKAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 26 September 2025).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kecerdasan memainkan kata-kata, mengunggulkan logika, nampak seolah-olah benar bertujuan menghancurkan lawan-lawannya. Niat menang yang menghancurkan itu bervibrasi buruk, dan menjengkelkan. Walaupun setumpuk saran dan nasehat baik nan bijak, tak mampu menjinakkannya. Bahkan semakin egois, percaya diri merasa di atas segalanya, menistakan pihak-pihak lawan dan menghina yang berwenang. Akibat dari semua itu rasa damai semakin jauh menghilang mencari tempatnya yang “benar”. Itu artinya mengukuhkan apa yang dianggap benar, melampaui kewenangan yang berwenang, menggalang opini lalu asik dalam perseteruan panjang.

Pertunjukan seperti itu, memperoleh panggung dan terus dipanggungkan di ruang yang konon “bergengsi” dan “dipercaya” berpromosi menggiurkan. Arus pendramaan kata-kata cerdas seolah-olah benar itu, berlindung dibawah hak asasi yang konon demokratis. Mengakibatkan “tabrakan”, idealisme, kata-kata, berpikir, emosional, mudah-mudahan tak sampai tabrakan fisik.

Semua itu tentu bertujuan “tertentu”, yang mengakibatkan perjuangan semakin semangat, mencari celah kelemahan lawan. Gelontoran arus konstruksi isu yang dicerdaskan oleh permainan lika-liku kata-kata pembenarannya masing-masing. Gelora ini menjadi semakin viral, walaupun menjenuhkan. Tetapi terus dihadirkan senggal senggol sana sini “menguatkan akar-akarnya”. Lalu bisa saja menggerus dan melongsorkan tanah tempat akarnya tumbuh, demi ego kemenangan itu sendiri.

Akankah arus drama kata-kata pembenaran itu terus berlanjut…?. Bagaikan air laut dengan ombak-ombak permukaanya…?. Jawabannya, pada saatnya Sang Waktu pasti akan mencairkan buih-buih ombak, yang sedang mengekspresikan kekuatannya di atas permukaan laut. Semua itu nampaknya sedang menari-nari memainkan perannya masing-masing, sesuai naskah permainan sutradara Ilahi, yang disebut Lila itu sendiri.  Dinamika pendramaan ini sedang bermain di atas panggung, sesuai narasi naskah Sang Sutradara Ilahi. Memerankan karakteristik, prekuensi dinamika, menetralisasi menjernihkan kembali, agar sampai pada klimaknya. Klimak itu artinya, pergulatan dinamika yang sesungguhnya menunggu waktu, sebagai jawaban dari pahalanya masing-masing.

Memunculkan kembali kemurnian hati nurani, keluar dari naskah permainan “Lila Maya” itu, yang amat sulit dipahami. Menghapus egoistik yang bernapsu ingin menang saja, merendahkan kewenangan yang berwenang. Seperti gambaran kisah Jalandara, asura maha sakti putra Dewa Shiva, yang selalu ingin menguasai kesucian surgawi, menciptakan surga baru, memerangi Dewa Shiva untuk mempersunting Dewi Parwathi, ibunya sendiri. Dia lahir dari amarah, yang mengakibatkan kegelapan jiwa tidak mengenal diri sejatinya sendiri, Ibu dan Ayahnya. Akibatnya menciptakan kekuatan dan kecerdasan yang menghancurkan dunia serta dirinya sendiri. Narasi kisah nan realistik ini menarasikan perjuangan hidup panjang penuh perjuangan yang “beridentitas”. Apakah identitas asura menghancurkan atau identitas Dewata nan Ilahi yang melindungi, sebagai keyakinan konsentrasi, keduanya menentukan pahalanya masing-masing.

Seperti itulah kecerdasan yang dikuasai sifat-sifat asura. Sebagai kekuatan harmoni hukum dualitas, pada sisi yang lain suara-suara hati nurani itu, terkondisi pada jiwa bhakti yang teguh meyakini, tak mungkin bisa dipadamkan, lalu terkondisi serta hidup terakumulasi menjadi doa-doa harapan yang mendamaikan. Perjuangan panjang penyadaran inilah, kecerdasan yang dijiwai kesucian hati nurani. Bagaikan gambaran Dewa Ganesha yang amat cerdas memaknai hubungan kebenaran duniawi dan kebenaran surgawi, dipahami dalam praktek kehidupan dunia selalu menciptakan kesejahteraan dan kedamaian.

Bukan sibuk mencari kesalahan dan menyalahkan saja, tetapi siap bekerja baik, benar dan bijaksana mengedukasi terbangunnya nilai-nilai kebenaran yang mendamaikan. Demikianlah arus energi suci tersembunyi, berada dibalik realitas yang patut dipahami. Saat itulah rasa damai nan semesta terkoneksi membesarkan energinya. Lalu merongrong menerobos tersembunyi menggerus hingga lebur sirna, memasuki nerakanya sendiri. Bagi yang sadar melayani dan memperjuangkan rasa damai, maka akan merasakan kemenangan rasa damai yang membahagiakan. Seperti itulah kebenaran sesungguhnya bergerak mengedukasi insan-insan yang berpengetahuan kesadaran. Karena tak mudah lagi menyelaras, maka akibatnya energi itu membentur menerobos mempralina.

Berkenaan dengan itu, kemenangan yang menghancurkan, berjangka pendek, karena dikuasai buih-buih ketidakkekalan. Menjadi kemenangan sesaat yang menyesatkan. Tipu daya sifat-sifat Asura Maya itu membutakan, lalu memproyeksikan kebanggaan sesaat yang menyesatkan itu. Sebagai harapan bagi insan-insan yang bermartabat, tentu tak ada yang ingin tersesat, yang disesatkan oleh sifat-sifat Asura itu sendiri. Semua itu memerlukan perjuangan panjang tiada henti sesuai waktu yang tersedia dan disediakan untuk kehidupan itu sendiri. Pengetahuan suci dan Sang Penuntun menjadi lantera yang selalu menerangi, wujud Kasih-Nya menuntun penyempurnaan hidup itu sendiri. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!