
“AURA KASIH”
ANUGRAH Yang BERVIBRASI
Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 14 Oktober 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Nafas halus bervibrasi hening, menghembus mengalir dari hati nurani yang tenang mendamaikan. Bervibrasi suci murni itu menyentuh siapapun yang telah terbuka “kesadaran” hati nuraninya. Kata “siapapun” itu berarti menunjukkan wadah yang ada yang sudah siap menerima untuk diisi atau disentuh vibrasi suci yang amat halus nan murni itu. Dalam kejiwaan yang bergerak dapat dimaknai sebagai wadah yang amat merindukan untuk diisi, hingga saatnya terisi penuh. Ketika itulah kebahagiaan terjadi dengan sendirinya.
Dalam upaya mengkondisikan kesungguhan, menghadapi dinamisasi gerak kejiwaan itu, melalui upaya terus menerus menundukkan indriya-indriya, selera, napsu dan ego, agar mampu berubah menjadi energi yang berguna. Semua itu untuk menjadikan jiwa sebagai wahana guna mewadahi nilai kebajikan yang suci bijaksana. Oleh karena itu jiwa mesti terlatih sungguh-sungguh, agar mampu mengendalikan semua unsur jiwa itu, agar bergerak perlahan semakin, menunduk, menyelaras, hingga tumbuh menjadi keyakinan yang kokoh. Gerak realitas mengkondisikan ini adalah jalan berpengetahuan hidup, yang tak mudah dilaksanakan.
Walaupun demikian reaksi keyakinan itu merefleksikan sikap kinerja jasmaniah berdedikasi dan disiplin, dijiwai kerohanian yang suci, hingga selalu siap siaga melaksanakan proses penyempurnaan diri. Itu artinya jiwa yang suci hening mengendalikan, sekaligus diresapi oleh energi suci kemurnian itu sendiri. Dimanapun wadah dan wahana itu tersedia, maka sesuai hukum semesta nilai-nilai kebajikan itu akan mengisi dan mengalir dengan sendirinya lewat salurannya masing-masing hingga menemukan tempat-Nya sendiri. Kebenaran ini akan dirasakan nyata adanya, ketika proses berkarma bersama kesungguhannya sendiri telah berjalan.
Ketika itu penyempurnaan itu menempatkan kesadaran aktif bergerak kedalam meresapi, memaknai. Lalu bergerak ke luar diri, berinteraksi, menyelaras, mengendalikan situasi ke arah kebajikan penyempurnaan. Saat itulah suguhan energi kebajikan, berinteraksi lalu bervibrasi suci. Sentuhan vibrasi suci nan hening itu mengubah, memposisikan, meluruskan alur menuju keheningan semesta tanpa batas. Saat-saat proses itu kerja kehidupan yang mengenal, memainkan, menyeleraskan energi dualitas, agar terkondisi hubungan harmonis. Saat itu pula sanjungan dan bulian, hinaan dan celaan terjadi dengan sendirinya. Oleh karena itu kewaspadaan diri amat diperlukan agar kokoh terhadap godaan energi dualitas itu, menjadi sadar “mengharmoni”.
Mengharmonipun adalah kerja hidup kejiwaan yang tak pernah putus, dengan udara yang bergerak memenuhi alam semesta ini. Dia akan terputus saat waktunya tiba, maka orang berseloroh jangan sampai lupa bernafas. Nafas selalu terbuka dan bervibrasi memancarkan energi ketenangan yang mendamaikan.
Dia bukanlah kata-kata tetapi melalui kata-kata bisa menjelaskan sedikit pengalaman yang bersifat pra predikatif, untuk memasuki dan berbagi kepada publik di wilayah esensial yang dihadirkan oleh tindakan. Lalu menjadi ragam pengalaman spiritual yang membahagiakan dan bervibrasi. Pengalaman spiritual yang membahagiakan itu sesungguhnya kompleksitas “kedalaman rasa”, yang selalu didambakan insan-insan duniawi. Walaupun masih banyak jiwa-jiwa insan-insan duniawi yang belum tersentuh dan terbuka untuk memasuki alur proses penyempurnaan kehidupan itu sendiri. Lalu tak sadar memilih jalan yang menghancurkan jalan hidupnya sendiri.
Kesadaran terhadap terbukanya proses penyempurnaan itu, mesti diposisikan dan dikokohkan terus melalui energi kasih pemeliharaan. Sadar dan sabar penuh keyakinan memproteksi serangan hama kemalasan dan kesombongan egoistik yang selalu bergerak halus mengintai untuk menggagalkan lalu merobohkan keyakinan untuk dikuasai. Dikuasai itu dapat dimaknai unsur-unsur jiwa dikuasai, hingga jiwa-jiwa tak berkekuatan lalu terperangkap penjaran setan itu sendiri. Ketika sudah demikian badan akan digerakkan kendalikan setan lalu seringkali berprilaku kesetanan.
Gerak dinamika realitas kesetanan ini, mesti disadari agar cermat memaknai lalu menghapus pengaruh buruknya dalam diri, melalui jiwa yang penuh welas asih. Itulah kebenaran yang dijiwai pengetahuan hidup. Bukan mengusir dan ingin menghapus dengan sifat kebencian amarah yang sama, yang bisa berakibat berbalik memperbesar kekuatannya menguasai diri. Gelora realitas ini nampak semakin bergelora, tetapi selalu dibenarkan dan dikuatkan oleh kebesaran ambisi atas “nama penghormatan”. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments