September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“MEMULIAKAN IBU”

Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 21 Oktober 2025)

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Setiap insan yang hadir ke bumi terlahir dari seorang Ibu, memelihara, mendidik, menyayangi hingga tumbuh sehat secara jasmani maupun dewasa secara rohani. Oleh karena kewajiban pelayanan yang tulus ikhlas itu, IBU diberi penghargaan yang luar biasa. Walaupun IBU tak memintanya. Akibat bayangan kebahagiaan, penuh cinta kasih yang selalu mengaliri, menjiwai anak-anaknya, maka lahirlah pandangan bahwa “sorga ada di telapak kaki IBU”.

Tentu pandangan sikap hidup itu, lebih bersifat normatif untuk menguatkan keyakinan prilaku, yang memiliki dimensi sangat luas. Setidak-tidaknya dapat digaris bawahi dalam dua kutub besar yakni ruang jasmani dan rohani, mengendalikan dunia material dan spiritual, baik dan buruk merefleksi aksi ragam sikap, yang tak terjangkau kebijaksanaan. Dalam pergulatan kontek dualitas itulah, sesungguhnya IBU menghadirkan “Diri-Nya” melalui sifat welas asih yang amat halus, hingga disebut penuh rahasia.

Rahasia itu sesungguhnya adalah sifat-Nya yang amat halus, maka disebut Maha Halus, hingga sulit dirasakan. Demikian sebaliknya bisa terjadi amat keras dan dahsyat hingga juga disebut Maha Dahsyat. Karakter sifat ini bisa dirasakan dan amat menakutkan, lalu dilukiskan menjadi simbol yang serem-serem untuk mengingat dan menyadarkan. Realitas inilah sering disebut kemarahan-Nya. Pertanyaannya apakah IBU itu bisa marah?, ya…kerasnya itu terlihat sebagai kemarahan-Nya. Sesungguhnya itu merupakan kekuatan menghancurkan, yang merusak agar berubah menjadi “sesuatu” yang berguna dan mensejahterakan. Sampah yang menumpuk di gorong-gorong hanya bisa dihanyutkan oleh air yang besar.

Oleh karena itu banjir yang besar bisa menghancurkan dan juga bisa menyelamatkan. Apa yang diselamatkan kesehatan umat manusia dan sadar tak menentang alur kerja-Nya. Tetapi manusia tak sadar dan selalu melanggar aturan-Nya. Tetapi pintar berdalih-dalih dengan konsep-konsep filosofis, menutupi dosa alamiahnya. Oleh karena itu, berproses untuk menghaluskan hati nurani, menemukan esensi, menghormati dan memuja IBU yang terbatas merujuk  IBU Yang Tak Terbatas, adalah upaya menghaluskan kejiwaan yang bersifat material menuju pencapaian kemurnian rohani. Tak mudah mencapai kesadaran berproses terhadap “kebenaran” itu.

Tetapi berkat pengetahuan suci yang menyadarkan, melalui sifat kuasa-Nya sebagai “Sat Guru dan Sad Guru, mampu mengantarkan tumbuhnya keyakinan kuat, memurnikan berprilaku ke arah penghalusan itu sendiri. Terutama bagi yang telah terdidik dan meyakini keberadaan-Nya. Dalam proses itulah sesungguhnya pembebasan terjadi, tanpa disadari. Pembebasan itu terjadi perlahan-lahan, sesuai kualitas karmanya. Itulah perjuangan rohani penyempurna, yang sedang berproses, walaupun masih minim dilakukan saat ini. Karena amat sulit keluar dari lingkaran asura, yang dikukuhkan sebagai kebenaran. Akibatnya menggelorakan gelapnya jaman, setiap saat menggulungnya hingga yang tersaji dipermukaan adalah ragam kejahatan, menjadi kepincangan sosial yang menghancurkan martabat kemanusiaannya.

Siapa yang mampu mengatasi dan mengangkat derajat kemanusiaan ini?, di tengah-tengah kekuatan politik yang menghasilkan pejabat-pejabat yang korup. Sebagian tokoh-tokoh agama yang terjebak di dunia material dan penguat kekuasaan politik, hingga kehilangan kesuciannya. Keilmuwan yang buta nan komersial mempercepat kerusakan alam dengan segala isinya. Menciptakan kemeriahan di dunia selera nan indrawi, berakibat meresahkan kesehatan dan kebahagiaan di dunia rohani. Menguatkan tumbuh dan kukuhnya jaman Kaliyuga, meresapi insan-insan duniawi. Gelombang besar ini sedang bergerak bergelora, untuk mencapai puncaknya, barangkali agar insan-insan duniawi menyadari hingga mampu memilih jalan penyelamatan hidupnya. Hanya memuja memohon perlindungan kepada kepada IBU Semesta, sebagai Sakti-Nya yang melindungi semesta beserta segala isinya.

Dalam kontek putaran jaman inilah, barangkali pergerakan “keadilan” memposisikan sifat dualitas menciptakan dominasinya masing-masing. Dalam sifat-Nya di ruang makro yang meresap di ruang mikro yang mempribadi. Sadar terhadap resapan nilai itu, lalu sadar merasakan kehadiran-Nya sebagai penuntun, lalu merasakan kebahagiaannya. Itulah sesungguhnya anugrah pencerahan yang hadir menerangi kegelapan. Walaupun di tengah-tengah kegelapan, mamperoleh sinar terang untuk menembus mencapai kebahagiaan. Itulah wujud anugrah penyelamatan yang membebaskan, mengalir dari kasih-Nya. Itu artinya Dia-lah IBU yang merefleksi dan mengejawantah, melalui kasih-Nya yang meresap. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!