
“AURA KASIH”
“Menembus Gelap Dalam Edukasi Semesta Raya”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 23 Oktober 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Dharma kebajikan, teramat mudah untuk dikatakan, tetapi mewujudkan memerlukan perjuangan panjang menyadarkan diri, memaknai hakekat hidup yang sesungguhnya. Berinteraksi dengan segala karakter psikologis, memaknai hakekat esensial, tujuan hidup itu sendiri. Tujuan hidup yang dibatasi dan dikondisikan oleh panatisma selera-selera, indriya-indriya yang digerakkan oleh pikiran yang tak menentu, lalu perlahan lupa dan melupakan gerak hati nurani yang memurnikan itu. Akibatnya menciptakan prilaku yang tak tentu arah. Amat mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang menyenangkan dan memabukkan, maka lahirlah prilaku penghamba kenikmatan napsu sesaat, yang semakin meluas saat ini.
Mengekspresikan berbagai reaksi diperkuat oleh strategi politik dekonstruktif anti kemapanan nan toleransi, lalu teriak-teriak “kebenaran”, semua yang berbeda disalahkan dan dibuli. Menciptakan ego pembenaran, yang semakin menjauh dari rasa persaudaraan berbhinneka yang mendamaikan itu. Seolah-olah telah memahami dan menguasai kebenaran. Sibuk berproteksi mengatas namakan rakyat, bagaikan orang bijaksana, seperti itulah realitas yang membingungkan bagi yang bisa dibingungkan.
Tetapi orang yang berpengetahuan cerdas nan bijaksana, hanyalah senyum menyikapi realitas itu. Karena realitas itu mesti dimaknai sebagai riak-riak permukaan bernuasa pemuasan selera sesaat, walaupun cukup banyak menyibukkan aparat. Oleh karena itu, lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri, agar bisa menanam sedikit demi sedikit benih-benih cinta kasih, hingga pada saatnya tumbuh, berkembang indah membahagiakan. Saat itu pula pembuli memperoleh kesempatan untuk sibuk menyalahkan dengan berbagai tuduhan kotor. Semua itu sebagai virus hama yang mesti dikendali sirnakan melalui obat penawarnya sendiri. Saat itulah sang penanam sadar dan berjuang, untuk memelihara tanamannya. Agar bisa berdaun, hijau segar nan rindang, berbunga indah lalu berbuah manis disenangi banyak orang. Seperti itulah sesungguhnya semesta mengajarkan, dan dituliskan menjadi pengetahuan jasmani dan rohani yang diajarkan kembali oleh; Orang Suci, Filosuf, Ilmuwan dan Seniman, dari jaman ke jaman.
Berbeda dengan pembuli dan penyinyir “penyerang” kebajikan, tak menyediakan tempat bagi saran nasehat baik untuk memperbaiki. Walaupun demikian esensi nilai-nilai kebajikan, dengan kekuatan halusnya, selalu bisa menembus ke sel-sel terkecilpun dalam semua ciptaan-Nya. Demikianlah Rsi Walmiki menggambarkan, ditengah kerajaan Mahasura Rahwana, hadir Wibhisana yang keluar bergabung dengan Sri Rama, menghancurkan asura demi tegaknya dharma kembali.
Memaknai narasi buih-buih dualitas itu, pasti hancur dan sirna netral setelah ditelan ombak masuk berubah kedalam air samudra. Tetapi dia akan selalu hadir dan tetap berada disisi luar, yang patut diwaspadai. Hingga saatnya jiwa-jiwa bijaksana hadir menyikapi lalu menetralisir masuk menjadi energi berguna.
Ketika gerak realitas ini tak disadari, lalu terperangkap masuk ke dalam kegelapannya, amat sulit disadari, untuk bisa keluar. Kalau sudah demikian menjadi “kebekuan persepsi” menjadi buta hati nurani yang ingin dibenarkan saja. Walaupun sebaik dan sebenar apapun nasehat untuk memperbaiki, tetap tak tersentuh. Dia ingin menang saja, bukan sadar tunduk pada hukum duniawi dan juga kerja hukum semesta raya yang amat halus.
Tetapi kasih-Nya tetap mengampuni, melalui cara melumpuhkan akal pikir, energi dan kesehatan dibuat tak berdaya. Lalu sadar perlahan merenungi prilaku hidupnya. Saat itu sesungguhnya nasehat, dan cibiran semesta hadir bekerja menyadarkan dengan penuh kasih-Nya. Tetapi tak mudah dipahami, karena pengetahuan untuk memahami tak tersedia dalam dirinya. Akibatnya gerak energi kasih ini sering kali diartikan berbeda bahkan berbalik yang disebut penderitaan. Menderita karena napsu indriya-indriya tak terpenuhi lagi, karena kehabisan energi untuk melayaninya. Agar bisa kembali kepada kesadaran normal, tak punya kecekatan fisik dan disiplin mental yang cukup untuk menyikapi. Lalu nongkrong sana nongkrong sini, ditinggalkan teman. Karena tak bisa lagi memuaskannya. Lalu pulang ke rumah, ngamuk-ngamuk marah-marah tak terpuaskan. Membuat pusing dan ribut-ribut meresahkan keluarga dan orang lain sekitarnya. Seperti itulah wujud dosa karma buruk, bervibrasi menakutkan yang juga selalu hadir disisi kita, sebagai ruang edukasi di ruang sosial, menjadi perguruan Semesta raya.
Ketika sudah demikian kekuasaan napsu dan ego semakin meluas menyiksa dan menyesatkan. Sesaat bisa saja tumbuh renungan dan penyesalan diri, tetapi tak mudah mengubah prilaku. Lalu terjebak penyesalan yang membingungkan, menjadi “tomat” tobat dan kumat lagi, menjadi lingkaran setan yang menggulung iman keyakinannya. Jiwa dan raga seperti ini disebut “Peteng Pitu” mencapai puncak kegelapan. Memerlukan perjuangan besar dan keyakinan bertobat untuk berubah menghapus kegelapan melalui sadar mohon pengampunan dan berprilaku baik dan benar sesuai profesinya masing-masing, hingga tertuntun di jalan dharma. Saat itulah Sang Guru Semesta hadir memberkati menumbuhkan kesadaran tahap demi tahap mencapai pendewasaan. Perjalanan panjang inilah proses kehidupan penyempurna, teredukasi di ruang formal dan diruang Edukasi Semesta Raya tak bertepi. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments