
“AURA KASIH”
“Kontradiksi Membangkitkan Harmoni Kebijaksanaan”.
Oleh : I Ketut Murdana (Selasa : 04 Nopember 2025)
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Nilai-nilai dualitas ragam wujud dan sifatnya selalu hadir, mengalir, meresap hidup menghidupkan. Oleh karenanya patut disadari sebagai kuasa hukum semesta raya yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun, kecuali nafas terhenti dengan sendirinya. Seperti itulah pengetahuan semesta menjelaskan pengetahuan hidup untuk hidup, menyempurnakan diri. Itulah berkat istimewa nan utama bagi insan manusia, untuk memahami, menerobos misteri nan hakekat yang berada dibalik realitas itu.
Berkenaan dengan realitas bergerak itu hidup dapat dimaknai sebagai daya dan upaya memberdayakan permainan nilai-nilai dualitas itu, untuk mencapai penyempurnaan guna di dunia material jasmaniah, dan guna di dunia rohani spiritual mencapai nirguna, kebijaksanaan nan suci. Maka kesadaran itu bergerak menempatkan insan-insan duniawi belajar dan terus belajar. Sambil menerapkan pengetahuan hasil belajar untuk menyempurnakan hidup dalam perjalanan panjang kehidupan itu sendiri.
Saat itulah pertentangan kontras dualitas nan dinamis, lalu hadir mengharmoni. Semuanya itu selalu terjadi, dalam ruang sempit maupun di ruang terbuka luas. Ragam konflik, perang dari jaman ke jaman terus terjadi, dalam perjuangan memenangkan “kebenaran” atau memenangkan “kuasa’. Walaupun terminologi kebenaran itu tak dapat dipisahkan oleh kuasa yang selalu berubah, berkembang menguasai. Entahlah dia raja, entahlah orang suci, entahlah dia seniman, pemuka masyarakat. Semua terkondisi diruangnya masing-masing untuk memformulasi bergerak terus, ingin menang dan menyelaras menemukan esensi yang saat ini disebut cinta kasih mewujudkan rasa damai.
Sebagai refleksi memperjuangkan kesadaran bersaudara dalam satu kosmik yang sama. Pemimpin (raja) dan orang suci bersatu padu menyeleraskan kuasa material dan kuasa kebijaksanaan untuk mengayomi dan memberdayakan rakyat untuk mencapai kesejahteraan lahir dan bhatin. Menjadi kekuasaan yang dijiwai sifat pengayom dalam arti seluas-luasnya yang dijiwai spirit ke-Ilahi-an. Menciptakan hubungan harmonis seluas-luasnya, bergerak maju menyempurnakan.
Walaupun persoalan besar ini, belum merupakan perjuangan bersama nan sungguh ke arah itu. Karena masih banyak berada dalam ruang kenyamanan panatisme personal nan komunal. Lalu diterangi dan dikuatkan oleh ajaran penguatan panatisme dan keangkuhan spirit bayang-bayang ilusif, dogmatisasi yang menjalar. Menciptakan kenyamanan sempit, tetapi kontras dengan esensi dasar kosmologis nan humanistik. Dalam kontek ini, nilai kontras menggoda dan menguji kebijaksanaan.
Menjadikan erosi martabat moralitas, menciptakan budaya keras, perang, tantang menantang yang selalu menciptakan ketegangan sosial bergerak menghancurkan. Memperkuat diri dengan persenjataan fisik, lalu mengkonstruksi konplik lalu menjual senjata, dengan alasan perdamaian. Inilah permainan logis sebagai strategi pembenaran yang dibenarkan sebagai landasan perang. Lalu lahir perekonomian yang berjiwa rajasika asuraisme. Berkembang memjadi kapital asurais yang menyedot darah rakyat yang dikuasai. Karena besar bahkan menyebutnya sebagai Adi daya, hingga sulit disaingi apalagi dikalahkan.
Penyeimbang dinamika realitas ini dari dunia pengetahuan suci kebijaksanaan, menularkan nilai-nilai untuk mencapai rasa damai. Akibat dari semua itu, ke dunia timur mencari sinar suci penerang penghalusan jiwa. Ke dunia Barat mencari kecerdasan logika berkekuatan dominasi material dalam arti luas.
Sadar memposisikan kebenaran itu, menjadi kekuatan dan kesucian nilai-nilai kehidupan, menjadi berguna saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Semua itu kesadaran personal yang berkembang memasuki atau diresapi hingga benar-benar mampu meresapi dan merefleksikan kebijaksanaan dalam arti yang seluas-luasnya. Demikianlah nilai-nilai penyadaran yang telah ditancapkan dari jaman ke jaman oleh para suci leluhur bijaksana membangun martabat manusia di seluruh dunia.
Walaupun penyadaran ke arah itu tak mudah, tetapi yakinlah ketika insan tergerak hatinya bangkit menyadari kebenaran itu, lalu mulai menempatkan kewajiban sungguh, maka energi semesta pasti mengalir memelihara hidup semakin besar lalu bervibrasi. Merealisasikan inilah kesadaran mendulang kebijaksanaan di ruang kontras, lalu perlahan menyelaras menciptakan rasa damai harmoni. Rasa damainya mempribadi, pada diri sendiri dan juga sahabat lain yang tersentuh. Lalu tanpa disadari bangkit bersama, dalam pelayanan dan pemberdayaan kesadaran mencapai kebijaksanaan. @@@ = Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi. Rahayu.









Facebook Comments