April 25, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBENARAN SEDANG TERTUTUP”

Oleh:  I Ketut Murdana (Sabtu, 25 April 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika “kebenaran” sedang tertutup sifat-sifat buruk kegelapan asura, di jaman Kaliyuga ini, bagaikan matahari sedang ditutupi mendung awan gelap. Menggelorakan sifat-sifat licik, tipu-tipu, dengki, irihati, napsu, egoistik dan seterusnya menguasai dunia dengan segala isinya. Itu artinya semua insan dunia tak terlepas dari pengaruhnya. Ada pengaruh langsung dan tak langsung. Tak sadar terhadap pengaruh buruknya lalu larut di dalamnya. Selanjutnya sadar memaknai dan berjuang menghindari pengaruh buruk itu, lalu mencari, menelusuri, belajar, untuk memasuki intisari poros kesejatian-Nya. Sebagai perjuangan hayati yang tiada akhirnya, sebelum “penyatuan terjadi”.

Ketika dilihat dari esensi kosmologis, merupakan kehendak hukum putaran “Sang Waktu”, memberi keadilan kepada semua sifat-sifat yang tercipta di Bumi. Menjadi “terang” dan “gelap” serta “transisi”, sebagai proses untuk mencapai puncaknya masing-masing. Mencapai puncak kecemerlangan dan puncak kegelapannya. Pergerakan “transisi” nilai-nilai meresapi personalitas dan dapat dirasakan kebenaran, terutama dalam dunia usaha material. Saat itu transisi berarti proses penyadaran dan pendewasaan, demikian sebaliknya apabila tak disadari (Acettana) akan bergerak menurun merosot memasuki kegelapan neraka.

Saat ini alur gelombang “penggelapan”, sedang deras memerosotkan mental dan martabat kerohanian insan-insan duniawi, lalu kalang kabut, sadar tak sadar dikuasai kegelapan. Sistem kerja seperti ini, sulit dibayangkan, ketika energi penggelap napsu sudah menguasai. Dampak dari semua itu, renungan “kosmologis” dan “psikologis” tak menjadi perhatian sadar untuk memahami dan melaksanakan, menjadi los protektif. Maka proteksi dan pemaknaan terhadap realitas kerja kosmologis amat diperlukan saat ini dan seterusnya. Demikianlah para suci leluhur telah menggariskan ajarannya untuk dilaksanakan.

Salah satunya upaya “hening Sepi dan Menyepi” untuk memasuki esensi nilai-nilai esensial dan pemaknaan hidup yang sesungguhnya, yang disebut “tapa” pengendalian diri. Bukan membiarkan diri terjebak budaya tipu-tipu yang terus dikukuhkan tanpa evaluasi, stagnan dan tak terkoneksi perubahan mencapai kemajuan peradaban yang hening suci membahagiakan. Bukan sekedar memeriahkan, yang dianggap penyegaran, lalu sibuk berdebat mengukuhkan teks, lalu melupakan “tapa” dan kajian prilaku kosmologisnya untuk menemukan esensinya. “Tapa” memerlukan latihan panjang menundukkan liarnya gerak pikiran, agar terkendali pada kemurnian jiwa, bebas validasi formal bervibrasi menyentuh, bangkit menyadarkan.

Seperti apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar para leluhur, Raja dan Orang-orang suci masa lalu, hingga dapat menciptakan peradaban luhur serta teks pengetahuan penguatnya, yang berenergi suci. Karena lahir dan mengalir dari prilaku yang suci, memancarkan kesucian. Bukan pengetahuan “kone-kone”, yang “dikonekan” sudah dikukuhkan penuh emosional, berenergi asura konstruktif materialistik senggol menyenggol. Menghindar dari kesungguhan yang dianggap sulit itulah bermain di ruang “instan” berpikir struktural yang terukur teks, karena kepentingan validasi formal, penguatan “harga diri” di dunia sosial materialistik. Bukan memahami teks, sebagai pemaknaan pengantar, menemukan kebenaran yang lebih esensial nan berlanjut (struktural menuju post struktural).

Akibat kelupaan dan keredupan itu lalu “kuasa kegelapan” itu lebih banyak “mengaburkan kebenaran” dan semakin banyak “menguasai” menjadi “kuasa” penggelapan. Akibat “prilaku kebanyakan” itu hingga terlihat seolah-olah benar. Menjadi pengaburan indrawi dan hati nurani. Itu artinya sisi-sisi subyektif telah menempatkan teks sebagai “kebenaran”, bukan melaksanakan kebenaran teks untuk menemukan kebenaran sesungguhnya yang dapat dirasakan membahagiakan. Perdebatan semacam ini, menjadi event pengukuhan, menjadi intelektual yang rentan dan mudah dikuasai ego. Ketika “belum” merupakan produk dari “pengalaman” melaksanakan dengan segala rintangannya.

Saat itu “kebenaran” amat sulit dirasakan, yang ada hanyalah “bayang-bayang kebenaran”. Itu artinya “kebenaran tersembunyi dan terabaikan”. Terdesak dan tak terefleksi baik dalam kehidupan sehari-hari. Alur gelap itu semua, sangat mudah berpengaruh kepada jiwa-jiwa yang lemah berselera rendah. Maka terjadilah pembenaran-pembenaran  beralasan logis, lalu menjadi logis-logisan saja. Cerdas bikin konsep menjadi konsep-konsepan, filosofis-filosofisan, religius-religiusan.

Tetapi tak cerdas melaksanakan, karena seringkali dibelokkan hanya untuk kepentingan ego sektoralnya saja, bukan menjadi “persembahan kewajiban” yang seharusnya dilakukan, memasuki nilai kebenaran sejati. Bagaikan Hanoman mengabdi kepada Sri Rama. Tentu kebenaran itu, tak hanya ada dalam “bungkusan rapi” teks-teks, tetapi dibangkitkan dan dilaksanakan setiap perilaku hidup menyempurna. Mengabdi menyempurna untuk diri sendiri, menjadi kewajiban bersama dari hulu ke hilir, membangun negeri tercinta.

Ketika alur kesadaran itu terkondisi, tak ada lagi kelompok organisasi yang larut dalam pergolakan ego, yang saling merendahkan, cepat sadar kembali pada tugasnya mengayomi, melayani kebutuhan masyarakat. Maka kehormatan dan kepercayaan birokrasi pulih kehormatannya. Bukan justru sibuk bertengkar memperjuangkan kebenaran ego masing-masing, lalu ingin merubah “sesuatu” agar terlihat cerdas. Ketika orang lain ingin berubah dianggap merongrong. Lalu apa arti kecerdasan yang selalu berteriak “tentang kebenaran” seperti itu. Realitas esensial menunjukkan bahwa nilai-nilai kebenaran itu selalu tumbuh, berkembang dan mengalir (Saraswathi), mengaliri insan-insan yang dikehendaki atas dedikasi kebajikan spritual dan karma wasana, menjadikan abdi pengalir memberi penyegaran kepada insan-insan duniawi. Realitas ini terjadi setiap waktu dan jaman menyempurnakan harkat martabat manusia.

Ketika keterbukaan terhadap realitas semesta ini buntu, maka buntulah jiwanya terhadap realitas pembaharuan nilai-nilai semesta yang menyegarkan. Akhirnya menjadi insan pesimistik penentang-penentang yang pada akhirnya berhadapan dengan “Penguasa” pengetahuan itu sendiri. Menjadi dosa pengetahuan yang sulit dirasakan. Kebenaran ini hadir dibalik jaman kegelapan yang sudah tercatat dan terurai jelas dalam kitab suci. Bergerak amat rahasia, mempersonal dan menglobal, karena itu esensi kuasa-Nya, bergerak dibalik kegelapan.

Ketidak sadaran terhadap realitas terang tersembunyi ini, membiarkan buih-buih dianggap kebenaran, bayang-bayang dianggap esensi kebenaran. Lalu tudang tuding sana sini membuli saudara sendiri tak merasa risih dan malu. Tetapi itulah yang laku dan viral. Lalu gelisah dan emosional akibat serangan balik dari akibat bulian liciknya sendiri.

Sangat mudah mengatasi namakan kebenaran dan rakyat, menempatkan dirinya sebagai penegak dharma. Karena jiwa yang belum peka terhadap kebenaran, terbuai bayang-bayang kebenaran itu, hingga tak pernah merasa bersalah.

Mengapa disebut seperti itu, karena gagah dan keren di dipermukaan, tetapi lumpuh komitmen, tak menyentuh perbaikan. Justru berbalik mendukung perusakan alam, spiritualitas dan budaya adiluhung, tak tertanggulangi. Lalu setelah bermasalah, berkelit pura-pura tak tahu, ingin menghindar dan lepas tanggung jawab.

Membiarkan budaya judi, mabuk-mabukan berkembang semakin liar, karena disitu ada pundi-pundi suara pendongkrak kemenangan. Membiarkan parasit-parasit luar menunggangi segala lini perekonomian, lalu menggeser dan menutupi pohon aslinya. Oleh karena itu perlu pemaknaan lebih “dalam dan kongkrit” arti serta refleksi kelokalan ajaran “Atma Kertih” salah satu dari ajaran Sad Kertih itu sendiri, ketika dikonsepkan sebagai dasar filosofis pembangunan. Mendukung dan membiarkan para asura premanisme bertengger di atas ajaran suci leluhur yang telah bernilai universal, lalu menyempitkan pemahaman, mengungkung di kandang sempit, lalu berkelakar memelihara dan melestarikan penuh ambisius dan protektif.  Membenturkan nilai-nilai sosial, yang seharusnya diserap dan diselaraskan nilai kebaikannya untuk menguatkan pondasi-pondasi spiritnya, agar lebih bervibrasi luas. Seperti apa yang dilakukan Empu Tantular menulis Kekawin Sutasoma yang menghormati perbedaan yang beresensi tunggal. Bukan sibuk melihat dan mencari “kejelekan”  lalu dipojokkan.

Akibatnya menciptakan konflik nurani yang semakin merosot turun drastis, mudah-mudahan tak sampai hancur. membiarkan kerusakan alam semesta semakin parah, kepincangan sosial semakin keruh. Segala bentuk aturan hukum, nasehat bijak, kritik, saran terabaikan, bahkan dianggap musuh. Seperti Rahwana yang tak pernah menerima saran baik siapapun. Sesunggunya semua itu harus dipilah agar mampu memilih sifat kebajikan Ilahi yang menyelamatkan.

Oleh karena tak bisa merasakan kebenaran, dan upaya memenangkannya, maka napsu ego yang memusuhipun, masuk bergerak menghancurkan dari dalam diri sendiri, tak bisa dirasakan. Seperti itulah insan-insan yang belum mampu mengenal “dirinya” adalah “jiwa”. Seperti itu jiwa-jiwa yang sedang terkubur oleh sifat-sifat asura hingga menjadi raja asura, menguasai bumi (diri sendiri dan semesta raya).

Dinamika realitas ini mengakibatkan rakyat sulit memperoleh perlindungan keadilan dalam arti luas, terhadap raja-raja asura yang sedang berkuasa. Tetapi perlindungan itu pasti terjadi pada saatnya, ketika putaran waktu-Nya tiba. Saat itulah kehadiran Sang Penegak Dharma. Putaran waktu itu bersifat makro dan mikro. Putaran waktu makro merupakan Kalpa Semesta menciptakan jaman,  mewujudkan keadilan kepada semua sifat-sifat yang melekat dalam diri manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Waktu mikro merupakan upaya cerdas, kuat, yakin yang berpengetahuan dharma kebajikan bagi insan-insan duniawi untuk menembus kegelapan jaman.

Bhakti Yoga yang sungguh-sungguh, tertuntun oleh anugrah Kasih-Nya, melalui Kuasa kewenangan-Nya sendiri, merupakan jalan berproses untuk mencapainya. Seperti itulah sabda suci-Nya yang tertulis dalam kitab suci Bhagavad-gita. Kebenaran anugrah ini amat sulit dibayangkan, ketika belum dialami dan belum dipraktekkan. Disinalah letak persoalan besar diantara insan-insan yang telah tersentuh dan belum tersentuh kasih-Nya.

Akibat dari semua itu, yang telah tersentuh kasih-Nya pun bisa menghilang pergi entah kemana, barangkali karena belum mampu mengatasi godaan keragu-raguannya, lalu larut dalam keraguannya sendiri. Saat itu keraguan bekerjasama dengan ego, membiarkan keheningan hati nuraninya terpenjara, lalu menjadi tangis diam dalam kerinduan, lalu perlahan semakin gelap. Tangisan kerinduan itu menghilang dalam “kebekuan” tanpa disadari (Acettana).

Walaupun keraguan itu mesti diturunkan derajat prekuensinya agar tak mengganggu keyakinan, lalu bisa berubah menjadi energi penyegar semangat, untuk maju di jalan dharma itu sendiri (Cettana). Dalam kontek dan kompleksitas nilai-nilai kebajikan inilah, perhelatan personal mendewasakan diri terjadi. Mewaspadai gelombang naik turun, kedalam dan keluar, sadar menyelaras mencapai makna kesejatian diri memberi kepada bangsa dan negara. Meneladani apa yang dilakukan para suci leluhur di masa lalu, untuk memperoleh berkat dan restunya untuk meluhurkan diri dalam kehidupan saat ini. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

 

Facebook Comments

error: Content is protected !!