September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBENARAN SEJATI BEKERJA DI RUANG SUNYI”

Oleh:  I Ketut Murdana (Rabu, 13 Mei 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Penguasa Alam Semesta “selalu bekerja” melalui Kuasa Sunyi Senyap-Nya, menciptakan keadilan untuk semua ciptaan-Nya. Kekuatan yang maha sakti itu, amat tajam  menerobos segala bentuk keangkuhan egoistik insan-insan berjiwa asura, yang sedang memainkan topeng-topeng kebajikannya, yang disebut “peleburan” menjadi “pralina”. Kekuatan semesta “Ilahi tersembunyi” itu menerobos di segala lini, tak ada yang luput menembus di ruang sunyi, dalam diri insan-insan yang tak “disadari”. Semua itu terjadi, ketika jiwa-jiwa terkondisi di ruang ke tidak sadaran.

Kekuatan Ilahi itu saat ini, sedang membesarkan dan membawa insan-insan ke puncak ego keangkuhan dan ke puncak kelicikannya, “hingga lupa diri” yang disebut kegelapan. Bervibrasi buruk di bumi, dibela-bela dan dibenar-benarkan, lalu bisa terbaca oleh masyarakat luas, untuk direnungi. Kemudian memasuki ruang persepsi, melatih kepekaan sosial “menemukan makna” sesungguhnya. Kemudian mampu menyikapi arus pluktuasi nilai itu, menjadi fenomena penguat keyakinan agar sadar berprilaku bijak ke jalan dharma. Membuka ruang dan sikap edukatif, menempatkan kewajibannya sebagai pelayan dharma yang disebut penyucian diri menuju kesejatian diri. Membangun negeri, mempertahankan kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan baru.

Walaupun belum banyak yang peka dan tersentuh “tanda” kebenaran yang disebut “peringatan” itu. Tetapi banyak yang “telah  mengaku” telah berguru kepada alam, yang tak percaya lagi dengan Guru yang berbadan manusia, entahlah. Terlalu percaya diri berceramah “tentang kebajikan”, tentang teks yang belum pernah dialami. Bagaimana upaya menterjemahkan teks kebenaran yang ditemukan orang lain, di masa lalu dengan konteksnya masa kini, terlebih lagi dilatari kejiwaan yang berbeda. Diantara “ketulusan pengabdian” kepada dharma dengan “kebutuhan pengakuan” popularitas yang mengendarai. Lalu berubah wujud menjadi pembohong yang disanjung-sanjung. Seperti itulah karakteristik politik asura yang menggelora menguasai panggung.

Dibalik itu alam semesta mengedukasi proses, yang tak mudah ini, sedang meresapi jiwa-jiwa, dengan segala kualitas prosesnya masing-masing, yang disebut “terpanggil” oleh kesadaran itu sendiri. Berproses menembus misteri tersembunyi, menemukan kesadaran itulah “lahirnya jiwa-jiwa” yang “dimurnikan-Nya”. Proses besar tersembunyi dan rahasia ini, seringkali tak diakui oleh  keangkuhan insan-insan  duniawi berjiwa asura itu, lalu terus menghina dan membuli. Realitas ini sesungguhnya telah membesarkan sifat kuasa asura tersembunyi itu.  karena kedua sifat Dewata dan asura hadir meresap secara jasmani melalui manusia. Lahir di bumi yang amat rahasia, mengemban misi besar yang mensejahterakan, bagi sifat Dewata Ilahi. Demikian sebaliknya sifat-sifat asura yang menghancurkan. Membungkus dengan kemeriahan ritual, menciptakan kebanggan   formal, kepuasan selera, tetapi kosong prilaku kebajikan. Dibalik semua itu, patut dihargai sebagai “penyegar semangat” edukasi.

Merefleksikan gerak kesadaran ini amat sulit  dipahami, tetapi itu terjadi dan terkondisi, di ruang “sunyi”  yang disebut “kebangkitan”. Tetapi jiwa-jiwa asura mengetahui semua itu, lalu membuli, menghina dan memerangi untuk mengubur. Tetapi sulit terjadi, karena kuasa-Nya  lebih tinggi dan lebih besar dari kekuatan asura yang sedang hadir sebagai sparingnya. Demikianlah Kebijaksanaan Sri Krishna diimbangi “lawan” oleh kecerdasan licik Sangkhuni. Pergulatan permainan dulitas yang berkekuatan Ilahi itulah, menciptakan vibrasi suci. Lalu “menyentuh” melalui gelombang frekuensi yang sama, mengantarkannya ke jalan para widya. Demikian sebaliknya alur gelora materialistik yang menggiurkan napsu dan ego, sedang menguasai dunia dengan kekuatan politiknya. Bekerja menerobos segala lini, mengukuhkan ego kekuasaannya. Menciptakan kegelapannya masing-masing.

Kebesaran ego yang membutakan itu dianggap sebagai “kebenaran” yang terus dipupuk dan dikobarkan, untuk mencapai puncak kekuasaan. Lalu perlahan meruntuhkan kekuatannya sendiri tanpa disadari. Sistem kerja kekuatan Ilahi yang “menyadarkan” dan perlahan “memuliakan”, merupakan edukasi spirit yang juga sulit dipahami. Karena “kesadaran” itu menembus gerak di jalan “ketidak sadaran” diri, yang selalu mengacaukan dunia.

Demikianlah Raja Rahwana yang berkali-kali diberikan kesempatan oleh Sri Rama, agar sadar memohon maaf atas kesalahannya, karena menculik Dewi Sintha. Tetapi uluran maaf dan pengampunan dari “kekuatan Ilahi yang membumi” itu, tak pernah digubrisnya, bahkan balik melecehkan Sri Rama. Akibat batas waktu pengampunannya tiba, Sri Rama membunuh demi tegaknya dharma di bumi. Demikian pula Sri Krishna dihina seratus kali oleh Si Suphala, akhirnya dibunuh juga oleh Sri Krishna. Karena badan jasmaninya tak lagi bisa dialiri dan diresapi sifat-sifat dharma yang mengendalikan dan menyeimbangkan. Artinya badan jasmani tak bisa lagi mewadahi nilai-nilai kebajikan untuk bisa berubah menjadi manusia sejati.

Dengan kata lain ego kekuasaan yang membutakan hati nurani, hingga tak bisa melihat dan merasakan kebenaran Ilahi yang menjiwai kesejatian dirinya sendiri. Memupuk jiwa-jiwa asura bergerak diruang kekuasaan napsu yang ingin menguasai kesadaran murni di dalam dirinya sendiri dan di alam semesta raya. Mengorbankan kerajaan, rakyat, anak-anaknya, saudara dan akhirnya dirinya sendiri. Kekuatan ego yang telah menguasai semua itu akhirnya dimusnahkan oleh kekuatan Ilahi dharma dari yang tersembunyi dan juga kekuatan nyata yang dapat dihindari. Realitas ini menempatkan kesadaran insan-insan agar tetap tegas dan yakin mewujudkan kewajiban untuk mengabdi kepada dharma yang melindungi dan membahagiakan.

Kontek itihasa itu mengingatkan kepada insan-insan dunia, agar menempatkan kesadaran dibalik realitas tersembunyi, menyikapi jaman Kaliyuga berkekuatan asura. Dinamika realitas yang sedang mengganggu sistem kerja keseimbangan semesta, yang sedang memuncak ini, berarti mengganggu Sang Pencipta memelihara ciptaan-Nya. Sesuai catatan teks-teks kitab suci dan dinamika yang sedang terjadi, hukum-Nya sedang bekerja di “ruang senyap” yang amat halus. Merontokkan secara halus, bagi insan-insan yang merasa benar lalu terus mengukuhkan “ego kebenarannya”.

Saat itulah sistem kerja keilahian sedang menghancurkan ego yang dianggap martabat dirinya sendiri. Dihadapkan di ruang publik memberi edukasi moral. Berbingkai kritik, ilmiah, kebijaksanaan, mengatas namakan kesejahteraan rakyat, berwajah agamais, berteriak persatuan dan kesatuan seterusnya. Topeng-topeng serupa barangkali sedang dekat dengan waktu kuasanya. Untuk memulai babak baru peradaban persatuan kesatuan mewujudkan rasa damai semua insan di dunia ini. Akibatnya kebangkitan proses itu telah menampakkan realitas yang semakin deras, turun menuju menghancurkan.

Insan-insan yang konon ditokohkan selalu menyemburkan tembakan beracun berbau busuk, berbungkus kritik. Memetik teks-teks sastra suci kebenaran sebagai topeng-topeng agar dipercaya. Mengetahui narasi teks-teks, dari  pengalaman para suci yang ditulis pada jamannya, sudah merasa memahami, lalu disebarkan sebagai kebenaran. Akibatnya menjadi tumpul tak berdaya merubah keadaan. Walaupun nampak cerdas, tetapi cepat terkubur gelap kembali, karena los energi suci. Demikianlah narasi kisah Bambang Ekalawiya mencuri ilmu pengetahuan dari Guru Drona, lalu harus membayar dengan jempol tangannya, hingga kekuatan daya memanahnya tak sempurna lagi. Demikian pula Karna membohongi Gurunya Bhagawan Rama Parashu, mengaku seorang Brahmana, tetapi berkekuatan Kesatria, akibatnya memperoleh kutuk, saat ilmu pengetahuan itu digunakan justru menghancurkannya.

Teks-teks suci merupakan pengalaman, pahala dari karma jnana yang sungguh, yang diantarkan dan dituntun oleh teks-teks pengetahuan suci, melalui sistem perguruan yang “benar” dan “diberkati” oleh Guru Yang Mengajarkan. Bukan sekedar memetik dari teks, tanpa memahami esensi kegunaannya. Artinya ketika sikap emosional egoistik yang selalu ingin menang, lalu melecehkan yang lainnya, tentu itu bukan esensi nilai-nilai kebenaran dan kesucian ilmu pengetahuan. Apalagi mencuri ilmu pengetahuan, tanpa menghormati sumber dan penemunya, tentu bisa terkubur oleh dosa itu. Pengaburan kebenaran ini sedang dimainkan oleh ego-ego personal para asura, lalu menggiring opini menjadi alur emosional menjadi managemen konflik, kemudian dikuasai politik, mendulang kekuasaan. Akibatnya lahirlah pandangan dan gerakan spiritual yang berkuatan material duniawi, berbungkus ragam kepentingan tersembunyi tetapi bagi kecerdasan suci, nampak selalu “bertanda”.

Konfigurasi tanda merupakan ideologi menentang atau mendekonstruksi kemapanan menjadi progres utama, dengan berbagai permainan halus, manis, politis mengubur kepercayaan diri perlahan-lahan obyek sasarannya. Dia parasit-parasit pengubur kesejatian diri obyek sasarannya. Penjajahan halus seperti inilah yang patut diwaspadai, agar kekaburan iman tak semakin kabur, lalu bangkit kepermukaan. Menguatkan iman, cerdas spiritual memberi kepada bangsa dan negara. Bukan hanya sibuk mengisi keinginan napsu yang tiada habis-habisnya. Jawaban ini hadir dari “ruang sunyi” yang disebut keikhlasan, menjadi gelora semangat membangun kebajikan. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!