September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Menembus Kabut Kejiwaan”

Oleh:  I Ketut Murdana (Jumat, 15 Mei 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Memang tak mudah menemukan kebenaran sejati yang penuh rahasia itu, tanpa lahirnya kesadaran untuk belajar mengenal dan memahami jiwa dan kejiwaan itu sendiri. “Jiwa” sebagai sifat esensial nan hakiki berada dalam diri setiap insan, yang hidup dan menghidupi menjadi “kejiwaan” yang meresapi. Semua itu berasal dari sumber yang sama, tetapi hidup dan bergerak pada ruang yang berbeda-beda. Meresapi raga jasmani, tumbuh merefleksi, menjadi ragam sifat karakter, berproses panjang mendewasakan dan menyempurnakan.

Sadar dan berprilaku konstan terhadap kebenaran ini, merupakan kewajiban hidup sesungguhnya. Maksudnya jiwa yang terkondisi meresapi tubuh jasmani, dipengaruhi sifat-sifat napsu material yang menguburnya. Lalu kesadarannya redup tak berpancaran menjadi insan lupa diri, tak berkesadaran. Insan-insan lupa diri tak berkesadaran ini sekarang ramai muncul ke ruang publik, walaupun konon ditokohkan. Semua itu dihadirkan oleh Semesta, untuk mengingatkan insan-insan lainnya agar sadar diri, dan berdiri teguh dalam kesadaran. Hanya ingin menjadi “tokoh” parasit, merayap, lalu mengurung,  “menguasai” pohon di hutan subur, jagat Nusantara yang kita cintai ini.

Saat itulah jiwa merefleksi menghadirkan “tanda” dengan segala reaksinya. Ada yang mampu memahami ada yang tak tersentuh tanda itu lalu membiarkannya, akhirnya terpuruk. Wujud sakit, konflik, putus asa, terjajah dan seterusnya. Lalu refleksi dari semua itu, rumah-rumah penyelamatan dan kekuatan perlawanan menjadi tujuannya. Itu artinya setiap insan memerlukan keselamatan, keadilan yang mensejahterakan. Harapan normatif sebagai insan hidup, berkembang menjadi doa-doa atas kesadaran jasmani menuju kesejahteraan rohan, bergerak menemukan jawaban Sang Waktu. Sebagai upaya menembus bungkus gelap berlapis-lapis kejiwaan yang sulit dibayangkan. Tetapi dirasakan lewat derita kegelisahan yang juga sulit dibayangkan. Itu artinya gelombang pembangkit kesadaran telah bergerak dalam diri ingin menemukan arah dan obyeknya.

Gelombang dinamika personal itu, apabila sinar suci-Nya tak menembus gelap pembungkus jiwa itu, maka jiwa pun tak bangkit kesadarannya. Walaupun segunung pengetahuan yang telah dialirkan dan ditulis melalui ragam bahasa, menjadi teks-teks “kebenaran”. Demikian pula ditulis, ditransformasikan dan diformulasikan lewat Purana dan Itihasa menjadi gambaran narasi prilaku sebab akibat, bergerak dan dikendalikan oleh hukum dualitas yang mengikat tersembunyi. Demikian pula upaya meresapi dan memaknai kebenaran untuk mencapai kebenaran sejati yang disebut “pencerahan” itu, mesti mampu menghadapi ragam situasi mencapai “puncak-puncak keramaian” dan “puncak-puncak keheningan” mencapai  “hening”. “Hening” dalam “keheningan” dan “hening” dalam “keramaian”. Ketika realitas kejiwaan itu terjadi, maka kedamaian yang membahagiakan telah meresapi. Lalu bangkit menjadi semangat hidup berkarma baik.

Perjalan hidup mencapai keheningan sejati inilah yang disebut “kosong yang berisi”. Demikianlah narasi Mahabharata mengisahkan Arjuna mendapat anugrah “pencerahan” diri di Medan Kurusetra, saat akan berperang menghadapi, saudaranya, kakek dan juga gurunya. Saat itu Sri Krishna sebagai sifat kekuatan Ilahi yang berwujud membumi mencerahkan segala keraguan untuk mencapai kesejatian diri sebagai seorang Kesatria pengabdi dharma sejati. Saat itu Duryodhana berteriak-teriak meminta kepada Bhagawan Bhisma untuk segera meniup Sangkakala untuk memulai perang. Itu artinya jiwa asura yang “egoistik emosional tak mengenal kesabaran”, yang sesungguhnya menjadi kunci dasar menyelaraskan kehidupan. Tetapi Bhisma tetap tegas menunggu kesiapan dari pasukan Pandawa.

Itu artinya perang bukan sekedar memenangkan ego, tetapi mengendalikannya sesuai aturan perang itu sendiri. Realitas ini mengisyaratkan bahwa “desiplin” dalam arti luas yang menjadi aturan dan etika perang, mesti dihormsti. Dan itu terjadi atas Kuasa Ilahi dan kuasa duniawi, dalam kontek itu Bhagawan Bisma sebagai Panglima perang dan Sri Krishna sebagai Penegak Dharma yang menjadi tujuan perang. Setelah semua usaha kompromis tak menemukan hasil. Sebagai panglima perang saat itu, Bhagawan Bhisma merasa gelisah, karena tak bisa mendengar seuntai kata sucipun dari wejangan Sri Krishna itu. Walaupun bisa menyaksikan kejadian itu, lalu bertanya ke dalam hatinya, mengapa Aku sebagai Bisma yang tak memperoleh keberuntungan seperti Arjuna.

Lalu kembali merenungi dirinya sendiri, Aku adalah Bisma yang terikat kepada sumpah, lalu terjebak kondisi yang bersebrangan dengan cucu-cucuku yang memperjuangkan hak-haknya yang tertindas. Hanya kepada Arjuna diturunkan agar siap memerangi adharma, dengan segala karakter dan kualitasnya, mengurung jiwa insan-insan yang sedang dikuasainya. Memerangi adalah wujud pengabdian kepada “Sang Penegak Dharma”. Bukan kepada orang-orang yang telah memperoleh pengetahuan, lalu bersikap seolah-olah membela kebenaran dharma, tetapi ada dijalan adharma sendiri. Itu artinya terkondisi kebenaran terbatas tak merujuk kepada kebaran dharma sejati, yang menjadi kehendak Sang Penegak dharma turun ke bumi. Perbedaan ini dijaman Kaliyuga ini amat sulit dikenali.

Karena dikaburkan oleh niat napsu dan kecerdasan licik, yang selalu mengaburkan esensi kebenaran dharma itu sendiri.  Oleh karena sadar tak sadar jiwa Sangkhuni tumbuh berkembang meraja lela dalam diri sendiri. Menjadi kecerdasan licik, yang sesungguhnya menjadi sasaran pralina itu sendiri, untuk menyelamatkan jiwa dalam diri setiap insan. Wujud kasih seperti itulah “kemenangan”, bagi yang telah terbuka kesadarannya. Tetapi bagi asura adalah kekalahan kaumnya.

Dinamika inilah kabut yang mengaburkan jiwa-jiwa yang suci hening tersembunyi di dalam diri. Untuk itulah “penyadaran” adalah proses “penyempurna” membangkitkan, meluruskan, memusatkan bidikan tajam prilaku kebenaran yang berpengetahuan material dan spiritual nan Ilahi. Sadar berproses melalui sistem pendidikan spiritual yang tertuntun seorang Guru yang berwenang dan membebaskan. Hingga pada saatnya tiba, kebenaran sejati itu menjadi anugrah yang benar-benar nyata dinikmati membahagiakan. Saat itu jiwa bersatu dengan sumbernya. Bagaikan anak-anak bertemu dengan Ibu Bapak Ilahinya. Semua kerinduan terhapus berubah menjadi kebahagiaan yang tiada tara. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!