
“AURA KASIH”
“RELIGIUSITAS SIMBOLIK BERMEWAH ESTETIK”
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu,06 Juni 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Semangat berseni budaya persembahan, sebagai tumpahan rasa Bhakti yang tulus ikhlas, menjadi gema estetik, penuh semangat. Semangat yang dilandasi keyakinan “simbolik” menuju “kesejatian” itu sendiri. Saat itu energi estetik menggelora mengisi dan menguatkan. Keyakinan itu menjadi alur spiritualitas yang membudaya berbasis energi energi estetik mencapai Sundharam. Lebur menjadi kesatuan utuh, bagaikan gunung yang mengalirkan energi material dan energi sukmawi. Mengalir diranah material memenuhi kebutuhan jasmani dan memancarkan Enerji Suci Sukmawi memenuhi alur penyempurnaan rohani mencapai kebebasan abadi.
Kebenaran itu diyakini, hadir sebagai “IBU” dan “GURU” Alam Semesta Raya, yang juga disebut Sat Guru bagi insan-insan yang menekuninya. Kemegahan dan kemewahan estetik persembahan kreatif nan estetik itu, merupakan refleksi Karma Yoga yang berkekuatan praksis mendulang kekuatan dan kesucian rohani (spiritual). Pendakian spirit berkarma yoga lewat kreatifitas seni, mencapai puncak keindahan di gunung estetika. Realitas yang menggelora itu, menempatkan persembahan seni nan estetik mencapai jangkauan kualitas harapan dalam doa-doa suci memasuki ruang melalui kualitas karma yoga di ruang nyata terindrawi.
Demikianlah artefak religius nan estetik, kuil-kuil tempat pemujaan hadir di seluruh dunia. Menempatkan harkat pemuliaan melalui kualitas estetik, mencirikan keunggulan identitas masing-masing. Piramid-piramid didirikan di Mesir menjulang tinggi bagaikan gunung, tumpukan batu-batu besar menjadi “gunung” ideologis nan simbolik, karena tak ada gunung disana. Demikian pula tak ada hujan, hanya terjadi sekali saja dalam setahun, hanya beberapa menit saja. Oleh karena itu hujan dimaknai sebagai berkah yang selalu dirindukan. Kekuatan ideologi nan simbolik itu sebagai upaya menyatukan alam pikir duniawi mencapai alam surgawi. Menempatkan upaya penyempurnaan mencapai “keluhuran” yang “meluhurkan” sebagai intisari tujuan hidup sesungguhnya. Hadir menjadi artefak yang mengagumkan dunia.
Dinamika semangat persembahan itu, menempatkan proses internalisasi spirit, menuju pencapaian eksternal Kuasa Cinta Kasih Maha Agung Penguasa Semesta. Kesadaran pemahaman itu, membudaya dan menguat dari realitas nyata “Cintya” menuju “Acintya” alam sunyi tak terjangkau, dalam proses prilaku sungguh dan tertuntun. Bukan sekedar bayang-bayang ilusif nan filosofis yang konon berkekuatan akademis, mengisi ruang perdebatan, terus menerus tiada henti, Lalu berhenti pada kepuasan sadar logis dan terbuka itu. Kebenaran ini juga mesti hadir menguatkan pondasi dan struktur logis, menjadi sadar keilmuwan di ranah material duniawi yang disebut pengetahuan material.
Apabila tak terhubung dan terkondisi dijiwai energi suci, maka berakibat los transedensi tumpul menghadapi gelora hawa napsu yang menyesatkan diri sendiri. Demikianlah gambaran kecerdasan Karna, yang dikutuk oleh Gurunya Bhagawan Rama Parashu karena menipu gurunya. Membiarkan kecerdasan yang dikuasai ambisi demi identitas sebagai penambah, dari pada mengabdikan kecerdasan itu untuk dharma sejati.
Akibatnya lahirlah prilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dharma kebajikan. Menjadi insan-insan radik, anti kemapanan. Menghasilkan insan-insan berjiwa asura penghancur peradaban. Oleh karena itu wujud simbolik yang bermewah estetik memerlukan pengawasan dan proteksi yang ketat dan terukur. Arus energi asura adharma ini sedang menggelora membutakan hati nurani menghancurkan keimanan.
Karena semua itu hidup dan berkembang di dalam diri sendiri. Merongrong, membutakan, menguasai ingin dijadikan budak, lalu ditinggalkan dalam neraka dunia. Oleh karena itu kecerdasan intelektual merupakan salah satu senjata memberi pertimbangan dan penyadaran logis, disertai penyadaran spiritual, dijiwai oleh kesucian rohani, menjadi keseimbangan tajam menembus kegelapan.
Ketika keseimbangan rohani itu telah hadir meresap, maka semua jalan pengetahuan mengalir terbuka, menembus dan menyiri misteri menjadi terang benderang. Saat itulah disadari setiap jalan adalah kebenaran. Ketika itupula sisi lain dari kemegahan dan kemewahan estetik terkondisi jalur “karma” penyederhanaan mencapai “kesederhanaan” yang membahagiakan. Itu artinya proses perenungan nilai-nilai humanisme berpusat ke dalam diri. Merefleksikan upaya-upaya pengendalian diri mencapai realitas itu, masih tersaji artefak-artefak yang nampak mengedukasi, bahwa bagi yang tidak terkondisi kemampuan bermewah-mewah, “penyederhanaan” adalah jawabannya.
Kedua aspek tersebut menempatkan suasana hening dalam kemeriahan. Dibalik itu menempatkan “keramaian” dalam keheningan, menjadi realitas yang terkondisi terus menerus. Kedua realitas merupakan jalan pendakian penyadaran rohani. Saat itu keterbukaan pemahaman terhadap semua jalan untuk mencapai kebahagian adalah kebenaran. Artinya semua sungai mengantarkan air menuju samudra luas, sama-sama berjalan menuju samudra sambil mengabdi kepada insan-insan yang memerlukan.
Ketidaksadaran terhadap realitas semesta itu, mengakibatkan keangkuhan spirit, merasa paling benar. Lalu menbentur-benturkan dijiwai manageman konflik, berjiwa licik, ditunggangi politik, penuh intrik, lalu salah suntik, menciptakan konflik. Akhirnya kebakaran jenggot mata mendelik. Menjadi “gunung” munafik bermewah licik. Seperti itulah hukum dualitas tak bisa dihindari oleh siapapun. Oleh karena itu mesti disadari dan bijak mengakomodasi, menyelaras terkendali, agar selalu bervibrasi kasih, menarik dan simpatik. Saat itulah nilai dan rasa estetik bermewah wujud, berjiwa agung dan mulia. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments