September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Hari Raya Galungan, Upaya Membangkitkan Spirit, Memenangkan Dharma”

Oleh:  I Ketut Murdana (Sabtu, 13 Juni 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Era kebangkitan nilai-nilai dharma dan berkembang memuncaknya hawa napsu, ego asura di jaman Kaliyuga ini, merupakan dinamika dualitas yang tak terhindarkan oleh siapapun. Napsu, ego dan kecerdasan asura menghadang menghancurkan keimanan insan-insan duniawi. Berkendaraan politik dan kekuatan material melumpuhkan laku kesadaran diri, hingga terperosok ke dalam neraka duniawi. Dibalik dinamika itu hadir kekuatan Ilahi, yang diperjuangkan oleh insan-insan terpanggil, lalu teredukasi kabajikan untuk mencapai kemenangan dharma yang “Santhi dan welas asih”. Perjuangan yang melayani kuasa Penegak dharma yang mendamaikan disebut “Yudha Widyastara”. Artinya perjuangan untuk mewujudkan rasa damai yang membahagiakan, hingga bisa bervibrasi dan memberi kepada jaman.

Perjuangan itu maksudnya bukan sekedar hidup sesuai alur kalpa nan naluriah jaman itu sendiri, tetapi sadar berjuang agar mampu bebas dari pengaruh negatif putaran kalpa melalui laku kebajikan dharma, sesuai tuntunan-Nya. Merefleksikan ragam profesi (swadharma) sesuai porsi dan tingkatan kualitasnya. Ragam dan herarkhi, serta proporsi swadharma mencapai kebenaran, merupakan porsi-porsi yang tersedia dan terbuka, untuk siapapun yang sadar menempatkan diri lalu berkomitmen pada kewajiban.

Bergerak terus pada ruang masing-masing, untuk mencapai poros energi suci yang membebaskan dari gelombang putaran itu sendiri. Artinya secara perlahan-lahan terhindar lalu mampu memaknai rasa senang, susah, miskin, kaya, sehat, sakit dan seterusnya sebagai hukum dunia. Walaupun cita-cita laku kebajikan dharma itu tak mudah, tetapi meyakini perjuangan untuk mencapai adalah niat kebenaran nan suci. Saat itulah sesungguhnya “Sang Guru Hadir” menyinari dan meresapi langkah pergulatan dimensi nilai-nilai dharma di medan perjuangan itu sendiri. Dalam Bhagawad-gita disebut Kurusetra. Demikianlah kebangkitan spirit nilai-nilai dharma dalam diri sendiri.

Siddharta Gauttama, memperjuangkan penderitaan hidup duniawinya, akibat melihat realitas yang terjadi di masyarakat, untuk menghapus penderitaan rakyat mencapai pencerahan. Kebenaran itu dijawab dengan perjalan panjang dan pendakian spiritual yang tak mengenal lelah. Meninggalkan kemewahan duniawi, menjelajah kebenaran lewat rimba jasmani dan rimba rohani untuk mencapi “keheningan” yang “mencerahkan”. Ketika sudah demikian “kebenaran” telah “menang” satu tahap dan bervibrasi lalu memberi kepada jaman dan umat manusia. Mengikuti dan menjalankan sesuai teladan dan arah perjuangan adalah sadhana suci, disamping memeriahkan perayaan dengan ragam wujud estetik yang menyegarkan.

Ruang dan sikap eksplorasi penjelajahan itu merupakan pengalaman memaknai temuan dan proses (ontologi dan epistemologi) hingga menemukan nilai-nilai kebenarannya (axiologi). Akankah kesadaran insan-insan duniawi tumbuh dan berkembang seperti itu, pertanyaan ini memerlukan jawaban prilaku yang konsisten dan berpengetahuan suci. Bukan kecerdasan kata-kata yang haus validasi hingga tumpul refleksi. Ke arah itulah salah satu renungan edukatif esensial nan personal, untuk membangkitkan kesadaran.

Bukan sekedar renungan yang “bertengger” di atas kebenaran dan kesucian pengetahuan tertentu, lalu meninggikan diri berikhar sebagai pembela. Membela pengetahuan suci sesungguhnya adalah; mempelajari pengetahuan itu hingga mencapai kebenaran sejatinya, lalu abdikan untuk kesejahteraan masyarakat luas. Ketika menyaksikan kekeliruan, luruskan agar bersama-sama mencapai tujuan. Apabila belum merasakan kebenarannya tetapi sudah merasa benar, seperti itulah kekuatan maya yang mengganggu dan mengaburkan kebenaran yang dianggap benar. Lalu larut dalam kesibukan menghina kebenaran pengetahuan lainnya, tak sadar menambah tumbuhan dosa-dosa yang pada saatnya meminta pertanggung jawaban. Bukankah itu laku dosa pemburaman energi suci yang hadir dan mengalir dalam setiap pengetahuan, yang mengalir dari sumbernya?.

Renungan yang menghasilkan laku panatisme heroik lokalistik seperti itu, patut diwaspai. Ketika orientasi dan pemaknaanya hanya dari kecerdasan olah pikir saja, tanpa kebijaksanaan dan kesucian, tentu akan mendongkrak peningkatan ego pembenaran, lalu sangat mudah dikendarai kepentingan politik tertentu. Suka menyenggol dan senggol senggolan, lalu sedikit saja di senggol, gemuruhnya luar biasa.

Demikianlah kemarahan Duryodhana ketika disenggol sedikit oleh Sri Krishna, saat meminta lima desa untuk Pandawa. Lalu ingin memenjarakan Sri Krishna di bawah tanah. Lalu Sri Krishna membiarkan dan mempersilahkan apabila Duryodhana mampu. Saat itulah Sri Krishna menunjukkan “kesejatian dirinya”, yang mengacaukan pikiran Duryodhana tanda kekalahannya. Renungan ke arah itu teramat penting, dan terpola komitmen menyisihkan waktu, di tengah-tengah kesibukan di dunia material yang tak pernah habis-habisnya. Bukan membiarkan hidup, bagaikan mimpi dan berjalan tanpa pertanyaan dan arah tujuan kehidupan itu sendiru.

Akibatnya kehabisan waktu tanpa nilai dan makna (disvalue).  Oleh karena itu, memerlukan kewaspadaan dini untuk memposisikan kesadaran rohani yang memerlukan “pencerahan”. Demikianlah Penguasa Semesta “hadir” memberikan contoh menteladani agar bisa diikuti insan-insan duniawi agar tak terjebak ilusi maya yang memalsukan kehidupan. Artinya membiarkan napsu dan ego meraja lela di dalam diri sendiri lalu dijadikan budaknya. Kaya berlimpah Artha, tetapi selalu haus tak terkendali. Memperkosa alam (Ibu Pertiwi), memeras rakyat.

Demikianlah laku asura yang meresapi jiwa-jiwa para koruptor yang sedang melanda negeri ini. Menyelesaikan gejalanya amat sulit, apalagi memperbaiki aspek kejiwaan agar tak berbuat kotor. Kekuatan asura tak hanya korupsi menumpuk Artha, tetapi hadir berkedok orang suci, membinasakan harga diri gadis belia pemuas nafsunya. Saat itu napsu material dan napsu biologis yang terus kelaparan dan kehausan, walaupun telah bertumpuk materi, tetapi “tampak miskin”. Karena tak pernah puas terhadap apa yang telah dicapainya. Semua itu bergerak di dalam diri memperoleh pembesaran dan penguatan pengikut di masyarakat luas.

Ketika itulah dominasi penampakan kekuatan sifat-sifat dualitas yang bergolak memenangkan perjuangan masing-masing. Tetapi ingatlah alur perjuangan laku kebajikan dharma terlindungi oleh penegak dharma sejati, siapakah “DIA”, DIA adalah “keabadian” yang “kekal” ke jalan itulah perlindungan terjadi. Demikian sebaliknya sifat-sifat asura yang tercipta tak kekal, walaupun memperoleh anugrah kekuatan sakti untuk kekuasaan di dunia material, tetapi selalu salah dan sewenang-wenang menggunakan anugrah kuasa itu akibatnya dunia hancur. Saat itulah DIA hadir menyelamatkan dunia dengan segala ciptaan-Nya kembali melalui kuasa yang “tersembunyi” dan “terang benderang”.

Tersembunyi bagi ketidaksadaran yang mengakibatkan kebutaan hati nurani, hingga tak pernah bisa melihat kebenaran sejati. Demikian sebaliknya jiwa-jiwa yang dicerahkan melalui edukasi spiritual nan suci, mampu merasakan kebenaran itu, lalu menempatkan jiwa dan raganya sebagai abdi-abdi-Nya. Walaupun mencapai kesadaran dan kebenaran ini tak mudah, tetapi yakinlah terhadap narasi-narasi historik purana suci yang selalu mensugesti spirit dari aspek sastra.

Catatan  suci itu memberi spirit yang tak ternilai, yang mesti dihidupkan melalui prilaku dharma. Ketika sadar menghormati “keluhuran” para “leluhur”, bukan menjadi pemahaman sektoral yang fanatik dan kultus. Tetapi cair dan mencair agar terus mengalir memaknai kuasa-Nya sebagai Dewi Saraswati. Ketika itulah aliran energi suci mengalir dan bervibrasi suci mendamaikan. Ketika seperti itu dharma mencapai kemenangan yang membahagiakan bagi siapapun yang melaksanakannya. Saat itulah merayakan Galungan berlimpah kebahagiaan. . *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!