September 10, 2026
News

Sajikan Garapan Inovatif, Sekaa Joged Mangun Semara Desa Selat Pandan Banten Tampil Memukau dan Menghibur Ribuan Penonton Taman Budaya Art Center

DENPASAR (CAHAYAMASNEWS.COM)=Bertepatan pada rahina Redite Umanis Wuku Langkir, Sasih Kasa (Umanis Kuningan), Minggu, 28/6/2026) Sekaa Joged Bumbung Tradisi-Joged Mangun Semara, Banjar Gunung Sekar, Desa Adat Selat Pandan Banten, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Duta Provinsi Bali, tampil memukau dan mampu menghipnotis sekaligus menghibur ribuan penonton yang hadir dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, bertempat di Kalangan Terbuka Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar. Sekaa Joged Mangun Semara menghadirkan sajian joged tradisi yang santun, menghibur, serta tetap berpijak pada pakem aslinya. Melalui garapan yang inovatif, sekaa joged ini membuktikan bahwa joged tradisi mampu memikat penonton tanpa keluar dari pakem aslinya dan sekaligus mampu menepis kesan jaruh/porno.

Pada ajang PKB XLVIII (48) ini, Sekaa Joged Mangun Semara tampil bersama Sekaa Joged Kusuma Sari, Banjar Dinas Bungkulan, Desa Seraya Barat, Kecamatan/Kabupaten Karangasem. Keduanya mampu menyuguhkan pertunjukan dengan karakter dan gaya khas masing-masing yang mengedepankan nilai seni, etika, estetika, dan hiburan berkualitas. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal hingga akhir pementasan. Tampak ribuan penonton memadati arena pertunjukan untuk menikmati kesenian rakyat yang hingga kini tetap menjadi primadona.

Namun beberapa tahun belakangan, pementasan hiburan rakyat ini kerap menjadi sorotan dan perbincangan, bahkan polemik akibat munculnya sejumlah pertunjukan yang menampilkan aksi erotis demi mengejar keuntungan. Karenanya, kini pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sedang gencarnya berupaya mengembalikan ke pakem aslinya, salah satunya dengan memberi ruang menampilkan joged tradisi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Meski tampil tanpa dibumbui dengan aksi jorok dan jaruh, namun tak menyurutkan animo masyarakat untuk menyaksikan dan menikmati tarian khas masyarakat yang sudah ada sejak dahulu itu.

Ketua Pembina Sekaa Joged Mangun Semara, Gede Eriawan mengaku bangga sekaligus bersyukur, karena sekaa yang masih tergolong muda kembali mendapat kesempatan tampil di PKB sebagai duta Kabupaten Buleleng sekaligus Duta Provinsi Bali.

“Kami merasa berbangga sekaligus bersyukur atas kesempatan ini. Kepercayaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya, berinovasi, dengan komitmen menjaga pakem joged tradisi agar tetap menjadi tontonan sekaligus tuntunan bagi masyarakat. Mengingat kami adalah sekaa yang tergolong baru, maka tak lupa meminta maaf atas kekurangan dan ketidaksempurnaan ini,” ujarnya dengan nada rendah hati.

Menurutnya, sejak awal berdiri, Sekaa Joged Mangun Semara berkomitmen mempertahankan ciri khas joged tradisi yang sensual dalam batas estetika, santun, dan menghibur tanpa mengarah pada unsur pornografi. Pihaknya mengaku tidak pernah menghiraukan anggapan bahwa joged tradisi tanpa aksi erotis tidak akan diminati masyarakat.

“Kami sangat yakin ketika kita menyuguhkan yang terbaik, alam akan memberikan respons yang baik pula. Kami percaya masyarakat tetap mencintai joged tradisi yang berkualitas,” tegas Gede Eriawan di sela-sela kesibukannya tampil di PKB.

Komitmen tersebut dibuktikan dengan semakin meningkatnya permintaan pentas, bahkan hingga ke sejumlah desa di luar Kabupaten Buleleng. Setiap kali ada permintaan agar pertunjukan dibuat lebih vulgar, pihaknya selalu menolak demi menjaga image (citra) dan kualitas kesenian joged tradisi warisan leluhur yang sangat mulia.

“Kami ingin membuktikan bahwa tidak semua pertunjukan joged harus diisi gerakan erotis. Kami hadir murni untuk melestarikan seni tradisi yang dicintai masyarakat,” tambahnya.

Disinggung persiapan tampil di PKB ini, Gede Eriawan mengaku tidak membutuhkan waktu khusus, karena langsung berlatih pada saat kupaan (pentas-red) di masyarakat dan kebetulan belakangan jadwal sangat padat, sehingga tak ada waktu untuk latihan khusus.

Pada PKB XLVIII, Sekaa Joged Mangun Semara menampilkan rangkaian garapan yang dikemas secara apik. Pertunjukan diawali dengan Tabuh Kreasi “Suddha Swara” karya penata tabuh Putu Angga Putra Artawan. Suddha Swara sendiri merupakan sebuah tabuh kreasi yang berasal dari kata Suddha yang berarti Suci dan Swara berarati Nada. Kedua kata ini berpadu membentuk makna ‘Nada Kesucian’. Karya ini terinspirasi dari filosofi ‘Banten Pepegat’ sebagai simbol penyucian diri dan perjalanan spiritual manusia dari kegelapan menuju kedamaian.

Melalui karakter musikal gamelan Joged Bumbung Klasik Bali Utara, Sudhha Swara mencoba mengangkat nilai spiritual penyucian diri ke dalam bentuk musikal yang sarat makna. Karya ini menggambarkan perjalanan batin manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari ketegangan menuju kedamaian, hingga akhirnya menemukan kemurnian sejati dalam keselarasan. Sudhha Swara bukan sekadar sajian bunyi, melainkan ungkapan rasa yang mendalam tentang kekuatan spiritual di balik seni karawitan. Melalui inovasi yang tetap berpijak pada akar tradisi.

“Sudhha Swara menunjukkan, bahwa kesenian Joged Bumbung klasik Bali Utara memiliki potensi besar untuk terus hidup dan mampu memberikan makna baru di tengah arus modernisasi saat ini,” katanya.

Selanjutnya ditampilkan ‘Tari Sekar Jepun’ yang dibawakan Putu Dui Suartini. Tarian ini menggambarkan sosok perempuan yang tumbuh menjadi pribadi anggun, lembut, penuh pesona, dan sarat makna, terinspirasi dari keharuman bunga jepun. Garapan apik ini, mencerminkan proses pertumbuhan diri seorang wanita dalam menjalani kehidupan penuh kesopanan dan keindahan hati.

Penampilan kemudian dilanjutkan dengan ‘Tari Puspa Winangun’ yang dibawakan Putu Ayu Sudeni Asih dan Komang Redi Asstini. Garapan ini mengangkat filosofi keindahan bunga melalui karakter dua penari yang berbeda, namun saling melengkapi. Puspa Winangun diambil dari konsep keistimewaan sang bunga dengan memadukan dua simbolisasi dan warna yang saling berkaitan, sebagai sumber kenikmatan Indra pengelihatan yang bisa dinikmati.

Suasana malam itu semakin semarak saat ‘Tari Kreasi Tresna Kepangan’ yang dipentaskan oleh Kadek Widya Sari dan Wayan Gede Wahyu Krisna Aditya. Tarian tersebut menggambarkan perjalanan dua insan yang dipersatukan oleh rasa kasih sayang dan saling melengkapi dalam kehidupan. Garapan tari terbaru dan inovatif Sekaa Joged Mangun Semara ini ditata oleh Gede Adi Setiawan, S.Pd., dengan penata tabuh Putu Angga Putra Artawan.

Kemudian sebagai suguhan terakhir dan sekaligus menutup semua rangkaian pementasan pada malam itu, Sekaa Joged Mangun Semara mempersembahkan tabuh penutup ‘Mangun Rasa’ dengan penata tabuh Putu Angga Putra Artawan.

Di akhir kegiatan, mewakili semua pengurus dan crew/tim Ketua Pembina Gede Eriawan menyampaikan apresiasi dan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Buleleng (Dinas Kebudayaan), Perbekel Desa Selat, yang hadir langsung dan sekaligus terus mensuport, sehingga bisa tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada segenap pengurus, seniman, dan seluruh tim pendukung yang telah bekerja keras sejak tahap persiapan, sehingga seluruh pementasan dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Kepala Desa/Perbekel Desa Selat Pandan Banten, Putu Mara yang selalu setia hadir dan mensuport mengaku bangga dan puas terhadap karya seni dan penampilan Sekaa Joged Mangun Semara di PKB ini, yang telah mendapat sambutan luar biasa dari ribuan penonton yang hadir. Ke depan pihaknya akan terus menggali dan sekaligus mengembangkan seni-seni tradisi yang ada di desanya untuk bisa tampil di momen-momen bergengsi seperti di Pesta Kesenian Bali ini. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan seni tradisi budaya yang diwariskan para leluhur terdahulu.

“Dari awal kami terus melakukan pendampingan agar mendapatkan hasil yang maksimal, dan tetap menampilkan karya-karya seni yang tidak sampai keluar dari pakem aslinya. Melalui seni joged tradisi ini kami ingin menepis kesan jaruh/porno dan sekaligus mengembalikan citra kesenian joged bumbung ini, yang belakangan kerap dirusak oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang hanya mencari keuntungan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Buleleng, Drs. I Nyoman Wisandika, menyampaikan apresiasi tinggi atas penampilan Sekaa Joged Mangun Semara. Menurutnya, kelompok seni tersebut berhasil menyuguhkan pertunjukan yang berkualitas, menghadirkan kejutan artistik, sekaligus mampu menghibur dan memikat perhatian penonton dari awal hingga akhir.

“Penampilan mereka sangat memuaskan. Kreativitas yang ditampilkan mampu memberikan warna baru tanpa meninggalkan pakem seni tradisi, terutama melalui penyajian ‘Tari Kreasi Tresna Kepangan’ yang tampil memukau, dan menghibur,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara.

Kadisbudpar Wisandika berharap, kehadiran Sekaa Joged Mangun Semara dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak sekaa joged tradisi di Kabupaten Buleleng. Menurutnya, semakin banyak komunitas seni yang tumbuh dan berkarya, semakin kuat pula upaya pelestarian warisan budaya daerah, khususnya kesenian joged tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Buleleng khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. *** CMN=Reporter dan Editor: Ketut B.Andiawan.

Facebook Comments

error: Content is protected !!