September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Perjuangan Dharma Dalam Lintas Waktu Dan Takdir”

Oleh:  I Ketut Murdana (Senin,03 Agustus 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Ketika “kebenaran tumbuh dijiwai kebijaksanaan”, dan berkat Semesta Raya tersembunyi, menjadi kekuatan yang “memberi” kepada insan-insan duniawi. Lalu mensejarah, menciptakan peradaban unggul, mencapai jaman “keemasan”. Semua itu berproses menyelaras vertikal dan horizontal berkonfigurasi serta berporos, bersinar terang mencerahkan, mengayomi rakyat, menyelamatkan lingkungan dan semua ciptaan-Nya.  Merefleksikan jiwa-jiwa yang santhi dan welas asih.

 Jaman kemenangan yang mencerahkan itu telah terjadi dan akan terjadi lagi pada saatnya. Walaupun kemenangan ini telah terjadi secara mempribadi, secara regional yang terkondisi di ruang masing-masing. Bersemangat menyiapkan diri menyongsong hembusan angin besar, memindahkan dan mencairkan awan gelap menjadi hujan, hingga matahari memancarkan sinar cemerlang kembali. Menerangi dan menyejukkan jagat raya dan hati nurani setiap insan. Akankah kemenangan yang mencerahkan itu, dapat dirasakan?. Tentu jawaban dari semua itu, ditentukan oleh “takdir” Sang Penentu. Tetapi yang teramat penting adalah berbuat “kebajikan” sebagai proses mencapai dan merasakan “takdir” itu sendiri.

Dengan demikian “takdir” itu, bergerak dalam dimensi pahala masa lalu atau masa sebelumnya, lalu berkarma menentukan kualitas pahala selanjutnya yang menentukan hari esok dan masa depan dalam arti luas. Ketika itulah pergerakan setiap tujuan perjuangan menyelaras dengan pergerakan hukum semesta, lalu diberkati energi penguat untuk mencapai “kemenangan”. Kemenangan yang mendamaikan bagi insan-insan abdi dharma, demikian sebaliknya kemenangan yang menghancurkan bagi pengikut asura, seperti yang nampak menggelora saat ini.

Karena saat-saat proses itulah resapan makna dan konteksnya terjawab menjadi pengalaman tersendiri. Ketika semuanya itu diserap dengan kesadaran, maka terucap rasa syukur sebagai anugrah yang membahagiakan. Perjuangan mencapai kebenaran ini memerlukan proses panjang, perjuangan dan perlawanan tiada henti, penuh pengendalian diri memposisikan sifat-sifat kebajikan nan bijaksana. Harapan dan cita-cita mewujudkan Indonesia emas, adalah merealisakan mimpi-mimpi melalui perjuangan dan perlawanan. Berjuang lurus, teguh dan yakin terhadap kebenaran, lalu siap menghadapi gesekan, singgungan bahkan benturan dari para penentang, melalui kebenaran dan kebijaksanaan. Saat itulah “pengorbanan” besar pasti terjadi

Perjuangan terhadap kebenaran dharma ini, belum ramai peminat di jaman ini, karena terkondisi pengaruh asura jaman Kaliyuga. Walaupun pada sisi yang lain, amat getol menuntut kebenaran yang mendamaikan itu. Cerdas menuntut tetapi amat sulit berkarma untuk kebenaran itu, bahkan bertolak belakang. Itu artinya kebenaran angan-angan ilusif nan imajinatif sebagai “kebekuan” dan kemunduran serta kemerosotan iman. Cerdas menuntut hak, tetapi buta dan tuli terhadap kewajiban.

Namun sebagai esensi nan vital, kebenaran semesta itu tak akan pernah padam, yang meredup adalah keimanan jiwa-jiwa insan itu sendiri. Akibat perubahan pandangan dan prilaku hidup yang lebih mengedepankan napsu jasmaniah. Semuanya itu dipengaruhi oleh kekuatan Kalpa dari Catur Yuga, yang sekarang berada dalam pengaruh Kaliyuga.  Akibat dari pengaruh semua kegelapan itu, esensi kebenaran itu  menyeruak, di ruang sunyi, menembus misteri, bebas validasi. Demikianlah insan-insan “terpilih” kesadarannya bekerja memperjuangkan kewajibannya. Terobosan semua itu dijiwai oleh keimanan yang kuat mengkondisikan diri, sehingga bergelora bergerak mewujudkan kewajiban dan misi hidupnya di bumi. Walaupun jumlahnya tak banyak, tetapi berpengaruh besar, “membangkitkan, memberi lalu mengarahkan, tanpa disadari. Artinya selalu terkondisi di ruang “penyadaran”, yang terus berlanjut.

Demikianlah sifat-sifat Keilahian (Dewata) hadir meresapi jiwa-jiwa insan di bumi, mengheningkan jagat alit, mengayomi, sebagian besar jiwa insan-insan duniawi yang tersentuh, merefleksikan  kemenangan sifat-sifat Dewata yang mendamaikan. Kemenangan yang mendamaikan itu menjadi perjuangan dan dambaan bagi insan-insan tersentuh keimanan yang sadar terhadap kebenaran tujuan hidup sejati, hingga sebagian besar energinya diabdikan untuk perjuangan kebenaran dharma itu sendiri. Itu artinya perjuangan menyucikan perbuatan di dunia material menuju dunia spiritual nan suci.

Dari sifat dan tindakan yang belum berguna, menjadi berguna yang mensejahterakan dan mendamaikan  Demikianlah para suci dan kesatria dharma memperjuangkan kebenaran dan kemuliaan hidupnya untuk dirinya, rakyat, bangsa dan negara. Melalui perjuangan itu, kebenaran sejati terasa hadir, karena bangkit dan tertuntun oleh “kebenaran”. Lalu benar-benar mengalir meresapi jiwa-jiwa, melalui pengendapan panjang bersama-sama, seluruh bangsa sesuai kualitas karakter masing-masing. Kebenaran itu hadir, mengalir, bangkit dan tumbuh berkembang dibalik realitas kebanyakan. Oleh karenanya seringkali dianggap aneh dan mudah dibuli, dihina dan dimarginalkan.

Dinamika realitas itu semua, merupakan refleksi dan sasaran “perjuangan” (swadharma) yang sesungguhnya. Berani menerobos memulai, menembus, memelihara, mempertahankan, meresapi, memaknai hingga menjadi “keyakinan” kokoh memakmurkan hidup dalam jiwa raga setiap insan suatu bangsa. Bersatu padu mampu menembus kegelapan, mencapai puncak kejayaannya. Demikianlah Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, sangat dikagumi dunia, hingga disebut renaisannya Nusantara.

Renungan historik kejayaan masa lalu itu, mesti menjadi pembangkit semangat, ditengah-tengah “terpuruknya mentalitas membangun bangsa”. Hadirnya jiwa-jiwa rakus,  dari istina politik asura cerdas licik, angkuh, malas, sibuk protes dan semangat berkonflik yang dianggap perjuangan kebenaran. Persoalan “eror karakter” dan “alergi moralitas”, “alergi kerja keras”, asyik bergelantungan di ketiak babe, belum tersentuh niat kemandirian, dan tak mau disentuh edukasi religiusitas spirit, etika kesopan santunan. Bahkan menolak dan membangkang kebajikan dan atura, hingga eror disegala bidang. Akibatnya amat merepotkan pihak penegak hukum, yang membingungkan masyarakat lalu menjadi “krisis kepercayaan”, yang semakin krisis.

Oleh karena itu, strategi pembangunan bangsa yang besar mesti ditata ulang kembali, mulai dari penguatan mentalitas dan sikap hidup berbangsa dan bernegara, mulai dari hulu ke hilir. Pada saatnya mampu memberi kepada dirinya dan juga kepada bangsa dan negara. Semuanya itu mulai dari pendidikan, yang berbasis pengetahuan material dan berbasis pengetahuan spiritual yang mantap. Bukan membiarkan gelora berpanggung persepsi buta spirit, menggelorakan napsu yang semakin bejat tak terpuaskan. Persoalan besar dunia pendidikan saat ini, terlalu membiarkan dominasi kecanggihan teknologi, tanpa kedekatan emosional paedagogik guru dengan murid, dosen dengan mahasiswa menjadikan insan-insan robot, tanpa etika dan sopan santun menjauh dari tatanan moral nan humanis.

Menghasilkan produk-produk material semata, tetapi melupakan moralitas kesejatian diri, menjadi insan yang kering iman rohani. Ketika arus gelombang ini semakin besar, dan bebas kendali, maka terjadilah insan materialistik dan individual. Menjauh dari sikap musyawarah menyelesaikan masalah. Walaupun teks Panca Sila hapal, tetapi tak tersentuh esensi kebenarannya. Akibatnya menjadi kelompok individu-individu yang mementingkan individunya, ketika menjadi partai besar bersifat individu juga, hanya sibuk memperkuat diri jadi koruptor raksasa. Rakyat hanya sebagai atas nama saja. Koruptor dibela mati-matian, yang berbuat baik untuk negara dihancurkan.

Oleh karena itu membebaskan diri dari sifat-sifat asura, menjiwai spirit kebijaksanaan, lalu berjuang bersama-sama membangun peradaban suci Santhi dan welas asih, adalah jalan kemuliaan. Kondisi buram dan beku moralitas inilah perlu dicairkan lewat edukasi spiritual keimanan yang berjatu diri. Kesungguhan edukasi itu, bukan hanya hadir dalam ceramah yang konon tempat suci, yang sesungguhnya panggung perhelatan politik. Penertiban dan membongkar topeng kemunafikan perlu, hingga kebenaran menjadi edukasi yang benar-benar terlaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan peradaban politik asura penghancur tatanan moralitas dan semesta raya. Pejabat korup dan insan-insan perpolitikan, hanya memikirkan jabatan, memuaskan diri lalu memeras dan berdiri di atas penderitaan rakyat. Ketika pemimpin sadar kepada realitas itu, maka saat itulah sifat-sifat Keilahian mulai meresapi jiwa-jiwa pemimpin dunia, selalu ingin memposisikan keyakinan dan praktek-praktek kepemimpinannya mengayomi rakyat, atas perlindungan energi suci semesta raya. Pemimpin selalu bersadhana spiritual, memohon kekuatan suci untuk mengayomi rakyat, melaksanakan dengan penuh keyakinan, hingga lahirlah praktek-praktek “tapa”, melalui pengetahuan suci, pengendalian diri yang baik, tertuntun orang-orang suci, kemudian melahirkan budaya religius nan spiritual yang luar biasa. Bukan pemimpin asura yang selalu memarginalkan pemuja Tuhan sesuai keyakinan pengetahuan suci. Membiarkan jiwa-jiwa feodalis spiritual, mengungkung dan membungkus iman humanis, menjadi laku panatik buta. Oleh karena itu membuka ruang berpikir dan bernalar memahami esensi universalitas memasuki dan memperjuangkan nilai-nilai dharma yang Santhi dan Welas Asih, yang amat dibutuhkan dunia saat ini. Semua itu artefak suci telah memberi contoh melalui bahasa simbolik, semiotika, bahkan hiper semiotika.

Akibat keyakinan sungguh dari semua itu tempat-tempat suci pemujaan dengan segala keunggulan konsepsi filosofis dan religius, menjadi prilaku dharma, hingga disebut “jaman pencerahan”. Konfigurasi nilai-nilai budaya dan kebijaksanaan itu, bervibrasi menerangi dan mengedukasi kepercayaan diri, terhadap bangsa dan penghormatan kepada pemimpinnya, hingga raja dihormati dan dimuliakan berwatak Dewata. Bukan seperti sekarang sebesar apapun jasa pemimpin, tak pernah dihormati, bahkan  selalu dibuli dihina. Itu artinya jiwa-jiwa asura telah berkuasa memenuhi jiwa dan raganya, hingga menjadi hamba-hambanya. Walaupun ditengah-tengah kesibukannya menyebut nama Tuhan.

Sisa-sisa peradaban suci luhur itu, sekarang hadir, dibuka kembali oleh semesta raya dari tidur panjangnya. Mengakibatkan kabut misteri kaburnya keyakinan diri tertunduk lesu, terkoyak-koyak oleh dogmatisasi keimanan berjiwa politik kekuasaan luar berbeda karakter. Demikian pula kebangkitan jiwa-jiwa Dewata nan Ilahi, insan-insan duniawi mesti dapat bercermin, bangkit dan berproses berjati diri, melalui edukasi kebenaran semesta itu sendiri. Dibalik itu semua, tercipta dan hidup sifat-sifat Asura menjadi Maha Asura, yang menjadi lawan tanding yang tak bisa dihindari ketika ingin “menang dan berjaya”, menyempurna dalam hidup kemanusiaannya. Oleh karena itu, akibat kecemerlangan itu, tentu menghadirkan lawan tanding sebagai kompetitor, yang tergiur untuk memperoleh keuntungan lalu ingin menguasainya.

Pergulatan ragam isu, intrik, strategi merongrong menjatuhkan sebagai serangan untuk menguasai dilakukan. Ketika karakteristik ideologis keimanan sebagai pusat keunggulan, maka melalui kelemahan itu dipelajari, dipahami, dimainkan lalu dikalahkan. Keyakinan bisa dilemahkan dogma-dogma dan tawaran kesenangan napsu sesaat, lalu dihancurkan. Keyakinan spiritual yang lemah Jnana, membuka peluang dogmatisasi sistem penjajahan politik bertopeng spiritual. Menekan menjadi dinamika historik nan realistis, yang mesti dipahami, dan dimaknai serta dihadapi secara bijak, sebagai hukum semesta nan abadi.

Insan-insan berjiwa besar dilahirkan merefleksikan  penciptaan peradaban, berkualitas (uttpeti), lalu terpelihara dengan sikap berkeyakinan spiritual yang sungguh-sungguh menjadi keunggulan dan kekaguman dunia (stiti). Lalu kelengahan sistem dalam berbagai situasi, membuka celah bagi asura menggempur kesadaran dan sikap protektif, hingga bisa menghancurkan, melebur menghasilkan perubahan dan tata ulang baru (pralina). Tak ada yang bisa melawan kehendak dan proses kerja Semesta nan Ilahi itu. Oleh karena itu, dimana indentitas pola pikir dan prilaku hidup untuk berproses, entahlah suntuk kagum kepada masa lalu nan konvensional atau bergerak sealur sesuai perubahan untuk berkembang dan menyempurnakan. Disitulah ruang proses eksistensial nan esensial didewasakan, menjadi tangga-tangga kualitas menentukan pahala masing-masing. Jalan terbuka dan dibuka Sang Waktu itulah pilihan yang diyakini, mencapai poros menentukan takdir kehidupan.

Berproses menentukan arah kehidupan itu, beraneka ragam senjata sakti yang berkekuatan strategi, intrik, isu dimainkan sebagai konstruksi-konstruksi kekuatan perbaikan dan juga penghancuran. Kedua menjadi satu kesatuan yang bisa benar dan pembenaran yang diyakini. Saat inilah ruang kekuatan Maya bergerak yang amat sulit dijangkau, ketika kesadaran Ilahi “kabur” dan “buram”. Ada yang bernarasi keimanan tunggal bermanis kata-kata, bertengger di atas budaya, lalu mengabaikan dan menghancurkan perlahan-lahan. Senjata atas nama keturunan dan pemaksaan dogma-dogma bernarasi keilahian menjadi kekuatan masif untuk menekan dan menguasai.

Bukan hanya di ranah masyarakat, tetapi bisa mengubah di ranah formalitas kepemerintahan yang mesti netral. Memang seharusnya netral, tetapi memanfaatkan mayoritas sebagai pondasi kekuatan merubah, bukan esensi netralitas yang patut diayomi menjadi identitas perjuangan bersama. Tetapi itulah yang terjadi, nampaknya sebagai upaya konstruksi sasaran dan tujuan tertentu. Penyimpangan netralitas kepemimpinan, menggerus dan memincangkan keimanan, lalu merontokkan sendi-sendi kekuatan, suatu bangsa. Pembiaran penyakit ini berkembang, kehancuran saatnya sudah pasti terjadi. Seperti itulah kerajaan besar jatuh, bukan semata perang fisik tetapi kejatuhan spirit persatuan dan kesatuan yang dirong-rong dari dalam.

Pada sisi yang lain mengaburkan sejarah, lalu menghapus kedewasaan iman yang telah meresapi kehidupan yang berkarakter unggul nan humanis menjadi jati diri bangsa, yang telah  dipercaya dan menjadi perhatian dunia. Akibatnya terjadi perubahan karakter, dari humanis menjadi karakter “penghamba” kepada “tuan”. Karakteristik yang namanya penjajah tentu menekan sekuat-kuatnya. Dimensi pergolakan antara pencerahan dan pengelapan inilah persoalan besar untuk ditembus dengan kekuatan pengetahuan dan keyakinan yang berenergi suci yang mengalir dari restu Ilahi menjadi kekuatan pelindung yang mensejahterakan dan mendamaikan. Menjadi perjuangan dan perlawanan yang tiada henti dari jaman ke jaman. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!