
“AURA KASIH”
“PANGGILAN KESADARAN”
Oleh: I Ketut Murdana (Kemis, 25 Agustus 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Jiwa-jiwa yang terpanggil oleh kesadarannya, merupakan awal “pencerahan”, untuk memasuki, meresapi dan mengenal kesejatian dirinya. Agar tidak semakin “menjauh dari kesadaran dirinya sendiri”, yang kini sedang terhempas oleh gelombang keinginan hawa napsu yang “dianggap” membahagiakan. Panggilan kesadaran itu memiliki dimensi ruang, waktu, sifat dan wujud yang berbeda-beda, sesuai “waktu-Nya tiba”. Disebut waktu-Nya tiba karena bisa hadir kapanpun dimanapun, kepada siapapun. Semua kejelasan ragam dinamika realitas itu, hanya ada dan bergerak di dalam diri insan-insan terpanggil mempribadi. Refleksinya samar-samar, tetapi ada dan bergerak memotivasi, rasa halus dan amat rahasia.
Amat sulit menemukan jawaban yang pas sesuai keinginan dalam waktu yang singkat. Karena jawaban sesungguhnya, adalah prilaku kebajikan itu sendiri, yang tak pernah berhenti sepanjang ayat. Demikian pula sulit menemukan jawaban bagi insan-insan duniawi yang tak mengalami. Tak mengalami berarti belum terbukanya kesadaran, untuk mengenal esensi wujud panggilan kesadaran itu sendiri. Dalam posisi itu esensi kesadaran yang bersifat jasmani dan kesadaran rohani sedang berposisi dalam kekaburan esensial, ketidak seimbangan prilaku. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap persoalan itu amat penting dipahami dan bijaksana memaknai.
Kehadiran panggilan itu, bisa lewat mimpi aneh yang sulit diterjemahkan, bisikan hati nurani yang selalu hadir. Demikian sebaliknya ada yang mengalami kehancuran ragam usaha di dunia material, bisa juga sebaliknya, berlimpah materi, tetapi pikiran gelisah tak tentu arah. Penyakit aneh-aneh menghantui, boros terjebak hal-hal di luar nalar nan tak etis. Ada pula yang benar-benar di endolkan (0) secara materi dan harga diri, hingga benar-benar merasa terpuruk di dasar emosional. Hilangnya gengsi, sadar realitas lalu bertanya-tanya “mengapa dan mengapa”, sambil mencoba terus menerima keadaan. Proses inilah kini sedang dialami banyak orang, lalu sakit mah, asam lambung ditengah-tengah makanan berlimpah. Bahkan ada pula yang ingin mengakhiri hidup melalui jalan pintas, karena mencoba melawan dengan pertahanan kekuatan gengsi, yang sesungguhnya harus dilepas dan diabaikan.
Saat itulah sesungguhnya secercah cahaya telah menerangi, membangkitkan kemurnian jiwa tanpa disadari. Kekuatan itu membuka jalan dari ikatan material duniawi menuju kesadaran rohani, bahwa jiwa atau rohani sedang kekeringan memerlukan energi penjernihannya. Dan itu dijernihkan oleh “proses semesta”, yang disebut takdir karma itu sendiri. Dalam situasi yang tak pernah dipikirkan, bisa bertemu orang baik yang menolong, menyelamatkan. Membuka pintu alur material dan perlahan mengantarkan kejalan penyadaran rohani. Nampak “sederhana”, tetapi itulah “berkat proses” menuju jalan kemuliaan yang akan memuliakan. Karena demikian sederhananya, lalu sangat diabaikan, walaupun kebenaran itu telah dirasakan. Itulah dinamika realitas yang amat sulit dilewati untuk menuju kemuliaan itu sendiri. Pada sisi yang lain, perlahan mengajak mendekatkan diri kepada Tuhan. Perlahan bergerak sadar dan aktif mendulang nilai-nilai kebajikan, hingga rohani semakin segar sumringah terbuka dan terpelihara energi bahkti yang damai dan welas asih. Seperti itulah wujud kesadaran membangkitkan, mengajak, menuntun menuju pertumbuhan dan pendewasaan rohani itu sendiri.
Reaksi panggilan inilah seringkali menimbulkan “kegundahan” bahkan “membingungkan”, lalu kesana kemari mencari jawaban. Kemudian bingung dengan ragam jawaban, lalu diam merenungi. Saat-saat seperti itu, jawaban itu tiba, ditemukan dalam suasana tak disangka. Barangkali seperti itulah kerja Sang Waktu yang amat rahasia, menjadi nyata dialami dan menggairahkan.
Menemukan jawaban inilah proses “penyucian” diri dari kabut misteri yang mengaburkan, hingga jawaban Sang Waktu dapat dirasakan dan dimaknai. Apabila jawaban itu tak hadir, karena tak mau larut dan tunduk pada proses, akhirnya kabur meninggalkan proses. Karena meninggalkan proses berarti selesai tanpa proses. Akibatnya menjadi “hutang proses”, yang harus dibayar sesuai waktu-Nya. Semua itu terjadi akibat tak adanya kesadaran, hingga takut berproses, sedangkan proses hidup harus bergerak sesuai waktu-Nya. Kebenaran nilai kehidupan itu mesti disadari dan dirasakan, untuk memaknai hidup dan refleksinya terhadap “realitas”, hingga jiwa hidup di dunia ambang ilusi. Sadar atau tak mau menyadari itulah realitas “takdir” terang dan gelap yang terjadi.
Apabila kabut yang menyelimuti itu amat tebal, dan kualitas kejiwaannya besar, maka prosesnya pun sangat berat, menembus kegelapan melewati waktu yang panjang. Ketika sadar berproses demi proses, maka saat inilah rahasia kehidupan pribadi bergulir terbuka menyadarkan, menjadi semangat berkarma yang semakin ikhlas, menjadi pengalaman yang amat membahagiakan. Saat itu pula “ketulusan berkarma semakin kuat dan meningkat”.
Saat proses inilah bayang-bayang ilusi “bergerak” meyakinkan atau bisa juga membelokkan dan meragukan bahkan menghadang menenggelamkan. Kekuatan rahasia membelokkan yang ingin menenggelamkan inilah yang disebut kekuatan “Maya”, yang amat halus. Kerja gelombang Maya ini patut disadari, agar tak terjebak lalu gagal mencapai tujuan kesejatian hidup itu sendiri. Dalam kontek inilah kebangkitan dan proses tumbuh berkembang mencapai kesadaran, hingga mampu “berkesadaran” hidup.
Banyak yang terjebak, tenggelam lagi dalam ruang ketidaksadaran. Ciri-ciri utamanya meragukan dengan kekuatan alasan logis dan kemasukan akalan. Tetapi tak mengubah untuk menumbuhkan keyakinan yang kuat. Menerobos misteri dari ruang jasmani menuju pencapaian rohani. Proses itu disebut penyempurnaan di ruang jasmani (sekala) mencapai kemurnian di ruang rohani merasakan rasa damai (Niskala) yang keduanya bergerak dalam diri setiap insan.
Berkenaan dengan proses halus yang mempribadi ini, sesungguhnya kerja semesta atas karma-karma insan duniawi, untuk kembali berkarma menyempurnakan diri. Kehadiran panggilan kesadaran itu adalah energi kasih-Nya yang amat rahasia nan halus hingga tak mudah dibayangkan. Apabila panggilan kesadaran itu dimaknai dengan karma kanda dan karma jnana yang baik dan tulus ikhlas itulah “jawaban lanjutan proses” penyempurnaan untuk mencapai “keluhuran”. Akibat dari semua itu jadilah “insan terpilih” dari “pilihan kesungguhan proses”, hingga “sadar terus untuk berproses”.*** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments