
“AURA KASIH”
“Memerdekakan Diri, Mewujudkan Rasa Damai Santhi dan Welas Asih”.
Oleh: I Ketut Murdana (Jumat, 04 September 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Betapa sulitnya berubah dan mengubah mentalitas yang telah terkondisi oleh kekuatan penjajah. Konstruksi “penggelapan” terselubung menjadi konstruksi karakter, memecah belah, sulit menghargai keberhasilan orang lain, konstruksi genetik, menciptakan kelas sosial dan seterusnya. Semua itu untuk kepentingan jangka panjang penjajahan tanpa disadari. Walaupun puluhan tahun telah merdeka secara politik kebangsaan. Endapan psikologis itu berakibat menjadi warisan “gelap” melekat tanpa disadari. Sudah semestinya dihapus perlahan, sebagai upaya mewujudkan dan mengisi kemerdekaan dalam diri setiap insan. Tanaman pendangkalan sifat karakter yang diimani spirit penjajah ratusan tahun itu, mengakar kuat lalu tak sadar dikuatkan oleh budaya materialistik nan feodalistik. Menyuburkan benih-benih pembodohan yang ditanam halus, terus disuarakan dan digelorakan serta dikukuhkan dalam strata sosial nan psikologis.
Realitas ini dimanfaatkan oleh kalangan tertentu, untuk kepentingan tertentu pula. Lalu dijadikan panggung theater kekuasaan politik pendulang suara. Dihadirkan dan disuburkan kembali dengan kekuatan politik “uang”, lalu bergeliat bisa berposisi kembali. Itulah realitas bertanda bacaan sosial. Bermetamorfosis mengelukan “semangat ajeg”, “berteriak sadar rasa persaudaraan”. Konstruksi kesadaran itu perlu diresapi, dimaknai secara murni, agar tak terjebak topeng-topeng kemunafikannya. Teramat penting dipahami agar mampu menerapkan dalam setiap prilaku hidup dalam kehidupan sosial merujuk kedamaian jiwa, dan rasa persaudaraan yang santhi dan welas asih. Walaupun terobosan spirit keimanan ini tak mudah, tetapi sebagai insan jasmani dan rohani, patut menyadari terobosan itu sebagai perjuangan menyempurnakan hakekat esensial, tujuan hidup yang sesungguhnya untuk mencapai rasa damai itu sendiri.
Oleh karena itu, ditengah-tengah budaya kemunafikan dan tipu-tipu patut memiliki kewaspadaan tinggi, sadar dan berkesadaran diri, agar mampu memahami dan menyikapi secara arif dan bijaksana situasi sosial yang selalu berkembang dan berubah. Arah perubahan itu, patut dipahami dari sudut pandang hakekat dan toleransi humanisnya. Terutama mengantisipasi menurunnya kesadaran dan harkat martabat insan-insan duniawi. Menghilangnya rasa malu, tumbuh berkembangnya rasa dengki dan irihati berbasis kepentingan napsu sesaat yang menyesatkan. Menggelorakan realitas dan dinamika seperti itu, membuat “sayembara” tentang identitas lawan politik dianggap sebagai “perjuangan kebenaran”.
Mereka bergerak, cerdas berkekuatan besar dari hulu ke hilir. Membuta dan semakin nikmat membuta, menguasai tiga lapisan duniawi, dengan segala dayanya. Korupsi, merusak alam dan menciptakan kepincangan sosial yang semakin luas. Akibatnya sebesar apapun teriakan penderitaan rakyat, tetap tak bergeming, karena keputusan formal nan kwatitatif ada di tangannya. Tentu semua aturan dibuat agar bisa lebih menguntungkan dirinya. Melupakan jeritan rakyat yang semakin menjerit. Walaupun jeritan rakyat sesungguhnya juga jeritan hati nuraninya sendiri, karena mereka hadir ke permukaan karena suara rakyat. Apabila selesai menjabat juga kembali ditengah-tengah rakyat.
Kelupaan terhadap kebenaran ini merupakan celah energi suci masuk lalu bergerak, pralina perlahan-lahan. Bekerja halus menghancurkan di ruang sunyi, amat sulit dirasakan. Saat itulah kebenaran “bekerja amat halus” menerobos, menghancurkan, menentukan saatnya tiba, menjadi keputusan yang Maha Adil. Tak ada kekuasaan duniawi akan langgeng, apabila melupakan kewajibannya melindungi rakyat dan kedamaian alam semesta. Sesuai hakekatnya semesta hadir melindungi rakyatnya, rakyatpun mesti sadar diri memuliakan kebesaran-Nya bersatu padu membangun negeri demi kesejahteraan bersama. Bukan hanya sibuk menuntut, berteriak lantang, tetapi lupa dan buta serta terus membuta terhadap kewajibannya. Saat itulah edukasi martabat nan humanis menjadi sangat penting. Mengantisipasi krisis kepercayaan rakyat kepada pemerintah, yang nampak “semakin membesar”.
Berkenaan dengan realitas itu “merenung” dan “mengheningkan” diri untuk selalu berdoa, merupakan salah satu upaya membesarkan rasa kasih sayang dalam diri sendiri. Sadar dan berkesadaran kuat serta terbuka, menghadapi “gerak kepentingan” penunggang idelogi tertentu dan parasit-parasit pengubur identitas esensial nan humanis. Selalu bertengger di atas konflik, berakibat merenggangnya rasa persaudaraan, yang memerlukan waktu lama untuk menyembuhkan suasana itu kembali.
Kesalahan besar itu tak disadari sebagai dosa, tetapi dianggap sebagai kebenaran strategi untuk menang, lalu bangga menjadi kemenangan yang “menghancurkan”. Apa kehancurannya?, alam dirusak oleh kuasa kesewenang-wenangan, akibatnya rakyat menderita. Yang kaya semakin angkuh dengan kekayaannya, yang miskin menjadi sapi perahan. Banyak topeng-topeng yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang ditokohkan untuk menipu dan membodohkan. Semestapun memberi kesempatan untuk unjuk kebolehan pertunjukan topeng-topeng itu, lalu amat cepat pula dibuka hingga wujud aslinya hadir kembali. Kebohongan itu sesungguhnya telah diketahui dan disadari oleh insan-insan yang sadar dan berkesadaran. Menaburkan kekeruhan iman dan mental serta tak tahu malu, hingga tak terkendali lalu disuarakan terus
Realitas itu sedang bergerak dinamis, dimedia-media komersial bermain seolah-olah manis, tetapi sembrono los keadilan. Viral adalah tujuannya, kebenaran informasi dan etika ruang publik semakin menjauh merosot ke dasar jurang. Barangkali realitas inilah wujud bangkitnya “kesadaran” turunnya nilai-nilai-nilai ketidak sasaran memasuki semua lini, yang disebut “akhir jaman”, yaitu rontoknya kekuasaan egoistik dalam diri setiap insan. Melahirkan jaman pencerahan yang berproses amat panjang. Siapa saja yang telah sadar bersama-sama memahami, merasakan dan mengabdikan diri untuk kebenaran itu, dia memperoleh “pencerahan” itu, meresap mempribadi.
Siapapun yang terlena, siap ditelan oleh kegelapan lalu dikusai. Siapun bisa jadi penjajah dan dijajah, lalu keluar merdeka, kemudian menjajah lagi dalam wujud baru. Walaupun secara politik kebangsaan telah merdeka, tetapi secara personal memerlukan perjuangan lahir dan bhatin untuk mencapai kemerdekaan itu. Adakah sesungguhnya kemerdekaan itu, jawabannya adalah perjuangan yang memerdekakan diri dan bangsa sepanjang ayat. Itu artinya bahwa kemerdekaan itu adalah rasa yang bebas dari segala ikatan “kegelapan” jasmani dan rohani. Semua itu menjadi angan-angan psikologis yang diperjuangkan dengan berani, teguh, stategis, tulus ikhlas dan selalu berada dalam tuntunan-Nya.
Saat-saat perjuangan itulah pengorbanan material jasmani dan rohani memasuki pergulatan psikologis berwiweka Jnana, berkeimanan teguh. Berbagai kebutuhan jasmani dan rohani, strategi saling berinteraksi penyadaran demi penyadaran mencapai pemurnian yang berlapis-lapis. Saat itu kesadaran demi kesadaran terjadi dengan sendirinya. Saat itulah persaingan kepentingan untuk saling menguasai terkendali penyadaran demi pemurnian itu sendiri, lalu bisa berubah terkendali. Persoalan besar inilah yang mesti disadari bersama-sama menciptakan rasa persaudaraan dan keadilan bersama di bumi. Akibatnya mampu perkecil ruang pergesekan, persinggungan, yang berakibat menjadi perang. Lalu sadar kembali bekerja bersama-sama. Demikian seterusnya sepanjang ayat. Menjadi insan-insan yang bermartabat dibutuhkan dunia saat ini.
Bayang-bayang realitas kebenaran itu, mesti menjadi prioritas prilaku yang menjunjung tinggi bahwa kehidupan itu tercipta dari rasa cinta kasih yang tumbuh secara alami terjadi dalam diri setiap insan. Lalu berkembang, berinteraksi untuk pendewasaan dan penyempurnaan mencapai rasa damai santhi dan welas asih. Menumbuhkan kesadaran agar tetap berkesadaran, berkomitmen bersatu padu, hidup berbangsa dan bernegara, saat itulah rasa keadilan yang memakmurkan, terasa meresap dan semakin bergairah mewujudkan prestasi memberi kepada bangsa dan negara. Dengan demikian kewajiban merefleksikan “Bhakti” yang memuliakan alam semesta. Atas kesadaran penerimaan anugrah yang terus mengalir. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments