
“AURA KASIH”
“Mewaspadai “Penyakit Kesadaran”.
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 14 September 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Membicarakan sesuatu yang diangan-angankan, amat diperlukan. Itu artinya berbicara untuk membicarakan sesuatu yang penting dan dipentingkan untuk mencapai tujuan. Walaupun seringkali, diapresiasi dan dipersepsi berbeda bahkan dikritik, bahwa omong-omong aja sing ada ape de…?. Artinya sibuk bicara saja tetapi tak menghasilkan apa-apa. Demikianlah seloroh yang juga ada benarnya, karena banyak terjadi saat rapat selalu berbuih-buih, adu gagasan bahkan hingga gontok-gontokan. Tetapi setelah disepakati lalu lemah komitmen pelaksanaan, hasilnya kosong melompong. Itu artinya “yang penting bicara”. Walaupun demikian membicarakan atau menuliskan suatu nilai, sebagai pemicu bangkitnya kesadaran dari realitas pathologi sosial sangat penting. Untuk menemukan nilai ideal nan esensial yang dibutuhkan situasi jaman saat ini.
Terutama bagi insan-insan yang berniat sungguh, bekerja mengabdi untuk dharma, membangun negeri. Mengutamakan angan-angan kebajikan yang patut diperjuangkan ditengah-tengah gelora “penyakit kesadaran”, memerosotkan moral yang sangat memprihatinkan. Para aktornya terus membodohi masyarakat, dengan berbagai tipu daya, bersaing menkonstruksi pembenaran, melalui informasi yang menyesatkan. Demi tujuan politik asura yang los rasa malu, haus kekuasaan.
Menyikapi gelora “penyakit kesadaran” yang sedang merundung insan-insan yang konon berlevel atas. Walaupun hanya bergelantung diketiak orang-orang berjasa, yang dimanfaatkan sebagai topeng politik. Mantan-mantan penguasa asura, yang power sindrum sok berjasa, lalu sibuk merorongrong strategi kebijakan pemerintah. Bukan ikut memperbaiki kelemahan, justru merorong kelemahan itu, untuk dijadikan batu loncatan merebut singasana. Reaksinya selalu merasa benar, tak sadar terkurung dan dikuasai oleh hawa napsu yang menyesatkan. Tetapi selalu “dibenarkan”. Lalu menokohkan dirinya sebagai “pejuang kebenaran”. Terlalu bebas dan berani mengatas namakan kepentingan rakyat. Belum berhasil sudah berteriak ingin mewariskan perjuangannya kepada rakyat.
Pertanyaannya rakyat yang mana mau mewarisi perjuangan seperti itu. Walaupun ada juga yang terlena akibat rayuan janji-janji manis. Entahlah mungkin rakyat panggung-panggungan, yang hanya butuh panggung promosi. Pemanggungan berbayar inilah realitas dinamis yang sengaja “diviralkan” dengan tujuan “material” pendongkrak politik. Barangkali Alam Semesta membuka realitas berbau tak sedap, refleksi arus penyakit kesadaran yang mengganggu itu, agar insan-insan lainnya tak larut dan terperosok ke dalamnya. Tetapi ada pula yang diselamatkan oleh kesadarannya, lalu mewaspadai realitas itu.
Realitas ini menunjukkan penyakit kesadaran yang semakin kronis berkembang menjadi “penyakit idealis”, berkarakter dengki irihati, lalu menyerang pribadi yang amat sensitif, bagaikan debat di gang sempit atau emperan toko. Barangkali inilah realitas sifat dan karakter jaman Kali Yuga yang hidup dan bergerak berkuasa dalam diri insan-insan penghambanya, yang patut diwaspadai. Agar sinar suci Keilahian muncul dalam diri sendiri, menjadi kasih suci yang mendamaikan.
Gelora realitas tersebut menunjukkan telah hilangnya rasa malu, yang seharusnya bisa menjadi kendali perbuatan yang tak etis dan normatif. Akibatnya amat sulit menerima hal-hal yang bersifat normatif serta saran-saran bijak yang menyelamatkan. Justru dianggap musuh yang direndahkan dan dihina melalui teriakan berlogika nyeleneh, tak jelas ujung pangkalnya. Selalu menyerang pribadi orang lain, ketika disenggol balik menyebut dirinya dikriminalisasi. Demikianlah Duryodhana sangat dendam kepada Sri Krishna saat menolak jamuan makan yang disediakan di istananya. Lalu Sri Krishna memilih makan sayur bayam di istana Perdana Mentri Widura. Karena Sri Krishna merasa tak bersahabat dengannya. Karena usulan perdamaian untuk memintakan Pandawa hanya lima desa tak bisa diterimanya. Dalam kontek itu Duryodhana dikisahkan tak bersahabat dengan Sri Krishna, artinya tak bersahabat dalam mewujudkan “keadilan” yang dijiwai sifat damai santhi dan welas asih.
“Penyakit kesadaran” yang telah kronis, berakibat melupakan rasa persaudaraan dan ingin menguasai hak-hak saudaranya sendiri, dikukuhkan sebagai “kebenaran”. Seperti itulah penjajahan atas bangsa sendiri, yang sekarang sedang hidup bergelora. Akibat dari semua itu menciptakan perang yang menghancurkan diri sendiri dan kerajaannya. Seperti itulah gambaran “sakit kesadaran” yang semakin akut, berakibat buruk bagi masyarakat luas. Hanya insan-insan yang “sehat kesadarannya” dan terus memelihara kesehatan kesadarannya, siap memperjuangkan dirinya, bangsanya dan membangun kembali bangsa dan negara setelah membebaskannya dari penjajah. Bekerja terus di ruang sunyi los informasi berbayar, berkoneksi terus dengan rasa damai siratan energi semesta raya
Apabila penyakit kesadaran ini, terus menyerang para elit-elit bangsa tentu berakibat kacaunya tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Sangat berbeda dengan sakit fisik, misalnya kanker barangkali hanya meresahkan diri yang sakit dan keluarganya saja. Pirus “penyakit kesadaran” yang semakin meluas itu, belum ada rumah sakit dan dokter spesialis untuk mengatasi persoalan itu. Hanya kembali belajar memahami hidup, melalui pengampunan dosa dan perbuatan baik dan benar, hingga bersahabat dengan penegak dharma di bumi. Karena yang sakit selalu merasa cerdas, berani dan tak punya rasa malu. Memahami dan membicarakan merupakan salah satu unsur dari dua unsur kebenaran lainnya yaitu: pikiran dan perbuatan. Apa yang dibicarakan merupakan proses berpikir untuk melakukan (perbuatan) sesuatu yang berguna (Tri Kaya Parisudha). Mengingat pengetahuan kebenaran itu, telah diturunkan dan dialami oleh para pendahulu hingga menimbulkan ragam pengalaman dan ragam persepsi.
Pengalaman yang tercatat dan pengalaman tersembunyi merupakan dua kutub yang terbuka dan rahasia. Walaupun terbuka tetap juga menjadi rahasia, sebelum meresapi pengalaman akibat praktek prilaku dalam berbagai dimensi karma. Demikian pula pengalaman yang tak dituliskan lalu bisa menjadi tutur tinular, yang bisa mewarnai perjalanan sejarah. Maksudnya adalah bahwa sejarah lekat dengan pembuktian fakta otentik tentang kebenaran suatu peradaban. Pembicaraan untuk penguatan tujuan demi tegaknya keadilan, telah dikisahkan oleh para suci dalam pemutaran Guri Mandara, para dewa dan para asura bersatu padu memutar Samundra Mantana untuk mewujudkan kembali kesejahteraan dunia menemukan Amritham sanjiwani. Pergolakan merebut hasil tak dapat dihindari, lalu sadar akan tugas kewajiban masing-masing menyangga kehidipan dunia bersama-sama.
Berkenaan dengan dinamika realitas itu, bertutur tentang kebajikan amat penting, mengingat, merasakan lalu membangkitkan energi kesadaran yang lemah, agar perlahan segar dan sehat kembali. Untuk itu sadar untuk merenungi, dan meresapi nilai-nilai kehidupan ke dalam diri dalam kontek harmoni sosial adalah kemutlakan kebutuhan saat ini. Antisipasi gemuruh material yang memabukkan, melalui kendali kesadaran rohani, mulai dari hulu ke hilir. Kendali kesadaran rohani itu, merupakan “aliran kesadaran” yang mesti diperbaiki bersama-sama bagi yang hidup di bumi. Bukan meminggirkan aliran kesadaran itu, tak menyentuh bumi dan jiwa setiap insan. Membiarkan para asura mengobok-obok, demi kepentingan politik sesaat. Berdalih kebajikan bertopeng kearipan dan keajegan. La
kekuatan alam semesta “tersembunyi” membongkarnya, tetapi asura tetap pintar menghindar. Perbuatan pemimpin asura seperti itulah patut diantisipasi melalui doa-doa suci, agar disadarkan oleh Yang Maha Sadar,, “agar tak terus menerus menyebarkan penyakit kesadaran”. Dinamika realitas ini, nampaknya Alam Semests telah mengingatkan, agar insan-insan, segera kembali kepada kesadaran dharma sejati untuk menciptakan rasa damai, Santhi dan Welas Asih. Merasakan kemerdekaan jiwa dan raga, ditengah-tengah negara yang sudah merdeka. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments