
“AURA KASIH”
“KARMA YOGA”
Oleh: I Ketut Murdana (Sabtu, 03 Oktober 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Berkarma atau berkarya untuk mencapai tujuan jasmani dan rohani hingga merasakan esensi kerja yang sesungguhnya. Saat itulah “penyatuan” dapat dirasakan “membahagiakan”. Merasakan kebenaran itu bersifat pribadi atau sifat kasih Tuhan yang mempribadi, bagi insan-insan yang melaksanakan. Dalam dunia spiritual disebut “personal God”. Mencapai kebenaran itu, memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam berbagai ranah profesi dengan segala pengorbanan dan persiapannya. Dalam Bhagawad-Gita, Sri Krishna menyebutnya sebagai filsafat tindakan, yaitu tindakan yang memerangi segala sifat-sifat asura yang membutakan hati nurani. Membebaskan keragu-raguan untuk menegakkan kebenaran dharma dan berjuang teguh agar menjadi insan-insan kesatria berjati diri.
Semua anugrah yang “menjadikan” diri Arjuna memiliki ketangkasan dan kecerdasan dapat disadari dan digunakan untuk melawan kebatilan demi tegaknya dharma di bumi. Sadar tak sadar keragu-raguan seringkali melemahkan keyakinan personal, lalu takut dan lumpuh melaksanakan kewajiban. Saat menghadapi persoalan itulah insan-insan memerlukan tuntunan yang benar dan suci. Bukan tuntunan kemenangan tujuan politik asura, perebutan kekuasaan saja. Akibatnya menjadi ketangkasan dan kecerdasan “nyungsang terbalik”, merongrong, mengoyak-oyak serta menginjak-injak dharma, menciptakan disharmoni, kepincangan sosial dunia saat ini.
Saat-saat menghadapi masalah besar yang membelit seperti itu, terutama bagi insan-insan yang “teredukasi sungguh” pada jalan para widya, diselamatkan oleh Sat Guru dan Sad Guru. Kuasa-Nya hadir mengangkat, menguatkan dan mencerahkan jalan dan tujuan hidup itu sendiri. Agar anugrah pengetahuan meresap dan membangkitkan semangat untuk menembus kegelapan dari keraguan itu. Ketika setiap “insan Bhakti mampu” merasakan kebenaran itu, maka kebenaran pengetahuan suci bhagawad-gita telah terjadi dan meresap ke dalam diri sendiri. Terlepas dari jebakan kesenangan napsu duniawi yang “meragukan” keyakinan lalu menyesatkan.
Pase-pase tindakan yang “berpengetahuan suci” menembus sifat-sifat kegelapan itu, merupakan proses mencapai pencerahan itu sendiri. Saat itu pula tahapan pencerahan jiwa terjadi dengan sendirinya. Artinya tindakan cerdas, jelas dan terarah pada tujuan kebenaran dharma itu sendiri, semakin kuat bangkit bergelora “terus menerus” menembus kegelapan. Tak pernah padam menyinari, jiwa-jiwa yang “dikehendaki dan dijadikan” menjadi kewajiban yang sesungguhnya. Lalu menjadi misi hidup yang terus diperjuangkan. Saat itu pikiran, perkataan lenyap menjadi tindakan yang membahagiakan. Ketika sudah demikian sifat-sifat Hanuman dapat dirasakan hadir dan meresap dalam jiwa-jiwa di dalam jaman Kaliyuga ini. Saat itulah “dapat dikenal” pengetahuan suci yang penuh rahasia, bernarasi simbolik.
Ketika benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka kebenarannya dapat dirasakan membahagiakan. Mempribadi lalu bervibrasi suci menyentuh gelombang yang sama kepada siapapun dan dimanapun bisa tersentuh karena ada kekuatan menyentuh, yang disebut Saktinya Pengetahuan. Melaksanakan untuk merasakan kebenaran itulah “upaya” yang dilandasi niat sadar dan berkeyakinan kuat. Ketika itu kebenaran tindakan itu, disebut jalan Para Widya, yaitu jalan dharma berpengetahuan suci yang mencerahkan. Artinya pengetahuan menggugah, membangkitkan, menguatkan, mengarahkan kepada tujuan hidup sejati.
Saat itulah pengetahuan menjadi sahabat sejati, mengantarkan dan mencerahkan. Oleh karena itu sifat kuasa-Nya disebut Jnana Sakti, yaitu kekuatan pengetahuan “Yang Maha” meliputi segalanya. Daya resapannya sesuai kemampuan masing personal untuk mewadahi. Lalu sadar dalam ruang terbatas dan selalu “siap” untuk merefleksikan. Merefleksikan itulah “kehidupan”, sebagai wujud atau jalan yang disebut Karma Yoga. Hadir mengalir dari kuasa-Nya, hidup terpelihara, lalu terpralina kembali menyempurna kepada-Nya. Dalam dunia keilmuan disebut kesadaran kosmologis. Ketika itulah “penderitaan” lenyap larut melalui Kuasa-Nya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments