
“AURA KASIH”
“JNANA YOGA”
Oleh: I Ketut Murdana (Senin, 05 Oktober 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Membahas, mendiskusikan, dan memaknai pengalaman hidup bekerja dan belajar dari teks-teks suci, berinteraksi sosial serta alam semesta merupakan proses “berjnana” untuk mencapai Yoga. Belajar memahami kerja pengetahuan yang meresap esensial dalam segala lini, yang menuntun dan dalam memberi kehidupan. Oleh karena itu pengetahuan itu hidup mengalir, maka insan-insan duniawi yang menerima dari substansi itu menyebut “Aliran”. Karena melalui aliran itu insan-insan duniawi mampu memperoleh esensi nilai yang berkembang semakin luas dan berkualitas untuk hidup. Karena mengalir dari waktu ke waktu, bersentuhan dengan realitas dan selera insan-insan duniawi, maka menciptakan sesuatu yang baru. Itulah hakekat esensial manusiawi yang selalu hidup dan berkembang. Oleh karena ada “niat berkembang”, maka proses awal penyempurnaan itu terjadi. Niat itu berkembang menjadi keyakinan, lalu proses perkembangannya diuji dan didewasakan oleh Sang Waktu, yang menentukan keberhasilan atau sebaliknya.
Akibat kebaruan itu, seringkali menimbulkan keselaran dinamis maupun kontras. Dari aspek pandangan sikap konvensional nan kontras seringkali memandang kebaruan sebagai realitas yang mengganggu stabilitas identitas yang ditradisikan. Bahkan pergesekan identitas konvensional dengan arus agresif kebaruan atau pembaruan itu seringkali terjadi, lalu melahirkan isme-isme yang menguatkan sikap dan pegangan prilaku hidup masing-masing. Dinamika kedua arus itu mengisi ruang hidup, lalu berkembang menjadi kebhinnekaan, sebagai realitas naturalistik. Semua itu menjadi taman budaya dunia yang terpelihara indah mengagumkan. Ketika itu dipahami, maka terlihatlah kebesaran Sang Pencipta. Sebagai kekuatan Rohani yang meresap di dalam diri, mendewasakan keimanan. Pandangan sikap itu dibesarkan melalui anugrah penciptaan, pemeliharaan dan peleburan menjadi kesadaran esensial yang merefleksi dalam segala aspek, dalam pemahaman ruang terbatas. Segala aspek adalah Kuasa yang bervibrasi dari Ke-Esaan.
Sadar menghormati dan “berdamai” kepada semua ciptaan-Nya, merupakan esensi sikap universal yang hidup dalam diri sendiri. Bukan sebaliknya mengukuhkan kebenaran substansial, lalu mengklaim sebagai kemutlakan yang menciptan intoleransi dan disharmoni. Lalu menciptakan pathology sosial di mana-mana. Bukan mendewasakan insan-insan melalui pengetahuan suci, tetapi membelokkan dan membalikkan pengetahuan suci untuk kepentingan kekuasaan egoistik napsu duniawi. Itu artinya belum ada kedewasaan memaknai dan merefleksikan kemuliaan nilai-nilai spiritual, hingga menimbulkan antipati bahkan kebencian.
Dualitas kehidupan mencapai puncak herarkhi dan kualitasnya adalah keemasan, hingga batasan waktu kuasa anugrah itu tiba. Puncak keemasan atau kehancuran, yang menyadarkan hakekat hidup. Artinya berpulang kepada Kuasa “Tumbuh” dan “Pralina-Nya”, setelah tercipta dan terpelihara, lalu sadar menyempurna, melalui tuntunan pengetahuan-Nya. Untuk memulai kesadaran dan berkesadaran terhadap realitas hakiki itu, semesta telah menyiapkan pengetahuan yang tersaji melalui teks-teks tertulis, maupun terekam pengalaman proses “atmani”, yang penuh rahasia, diingat lalu dituturkan kembali dalam bahasa seni: sastra, drama, tari, musik, rupa dalam berbagai wujud ekspresinya.
Menjadi tumbuhan dan tinggalan budaya lalu membudaya, memberkati dan meresapi jiwa-jiwa insan-insan hingga menjadi ragam karakteristik yang beridentitas. Membedakan satu dengan yang lainnya. Melalui rangkaian maupun jalinan yang mengikat dan terikat hubungan yang saling memerlukan antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika kebenaran ini disadari, maka semakin luaslah mengenal Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya. Keyakinan dan upaya, merefleksikan kebenaran menciptakan rasa damai yang Santhi dan welas asih. Bukan menistakan ciptaan-Nya, lalu dipakai senjata untuk memarginalkan, atau memaksakan pandangan sikap kebenaran “tertentu” kepada orang lain yang tak seiman, atau tak sealur dengan sikap kebenaran. Itu artinya asura bertopeng pengetahuan suci, menunjukkan keangkuhannya.
Semua itu adalah jalan berkekuatan dualitas, mesti diselaraskan esensi kosmologisnya, untuk mencapai penyatuan dalam kesempurnaan, disebut mencapai Yoga. Didalamnya ada proses pengetahuan realistik natural terindrawi dan pengetahuan rahasia tak terindrawi, abstrak indah nan suci. Saat itu insan-insan penutur dan pengekspresi, menyalurkan nilai-nilai universal yang menyinarinya yang disebut inspirasi lalu mengewantah menjadi substansi-substansi wujud yang komunikatif. Mengkomunikasikan diantara subyek, obyek dan pengetahuan itulah memerlukan metodologi yang komunikatif dengan karakter kejiwaan dimana komunikasi itu terlaksana.
Maka metodologi yang komunikatif itulah yang mampu meresapkan nilai-nilai yang dikomukasikan itu. Mencirikan kedewasaan personal, mempresentasikan nilai-nilai kolektif yang tak terhindarkan. Berguna untuk mencapai sasaran penyadaran dari realitas tersembunyi menjadi terang benderang. Lalu menjadi kekuatan yang berguna untuk memperbaiki situasi yang kurang baik menjadi lebih baik yang mensejahterakan dan mendamaikan. Kehidupan itu menempatkan kewajiban sebagai abdi-abdi dharma kebajikan, melayani kuasa-Nya menegakkan dharma di bumi, menjadi prilaku dharma yang sungguh berpengetahuan suci. (mencapai Jnana Yoga).
Bukan menjadi pemimpin drakula, atau menjadi abdinya yang terus mengisap darah rakyat. Berubah dari martabat kemanusiaannya, menjadi drakula-drakula sadis yang menyengsarakan dan menghancurkan tatanan dunia. Berbalik dari kesadaran memuliakan Tuhan, menjadi pemuja Hantu. Itulah realitas dualitas yang saling memberi penguatan untuk mencapai guna bersatu-padu dalam kebajikan dan kebijaksaan suci. Berjuang bersama mencapai kebenaran itulah jalan atau Karma Jnana mencapai penyatuan (Yoga), yang amat dibutuhkan dunia saat ini. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments