November 2, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Kesombongan Membutakan Kecerdasan Spiritual Yang Menghancurkan”

Oleh:  I Ketut Murdana (Minggu, 11 Oktober 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMAS-NEWS.COM)=Rahwana mengajarkan kesatria dari sudut pandang kekuatan dan kebesaran asura. Walaupun demikian, langkah propokatif dari adiknya Surphanaka, akibat dendam, karena suaminya dibunuh oleh Rahwana. Kehadiran Sri Rama bersama Dewi Sitha dan Laksamana, di dalam hutan dijadikan jalan untuk membalaskan sakit hatinya. Karena dia tahu anugrah kekuatan besar dari Dewa Brahma, tak mungkin dikalahkan. Dengan merangsang niat dan napsu besarnya, lalu bisa menculik Dewi Sitha membuka kehancurannya sendiri. Propkasi Surphanaka berhasil. Lalu Rahwana menculik Dewi Sitha ditengah hutan sendirian, melalui strategi licik tipu dayanya. Bukan berperang “terbuka” melawan Sri Rama merebut Dewi Sitha, sebagai kesatria dharma. Saat itu kesombongan menciptakan keteledoran, membuka pintu bagi pirus   penghancuran mulai bekerja, menyerang penuh rahasia. Rahasia Ilahi itu bekerja di ruang sunyi tak pernah berhenti. Memelihara, mengubah, membebaskan, mempralina dan menyempurnakan

Walaupun proteksi nasehat dari Wibhisana, Dewi Mandodari permaisuri tercinta, ayahnya, mertuanya, Kumbhakarna berupaya terus menasehatinya.  Agar mengembalikan Dewi Sitha kepada Sri Rama dengan hormat. Lalu mohon pengampunan kepadanya. Tetapi Rahwana tak bergeming, lalu merasa marah ketika Wibhisana menyebut ucapan “Sri” saat menyebut Sri Rama. Karena memuliakan musuh dihadapan kakaknya sendiri. Itu artinya kebutaan Asura Raja Rahwana tak mampu melihat kebenaran Ilahi yang melindungi, semua ciptaan-Nya. Rahwana hanya mampu melihat “kepentingan hawa napsunya sebagai kebenaran”. Akibat dari semua itu secara psikologis terjadi “keruntuhan iman lalu perlahan merobohkan kekuasaan duniawi” tanpa disadari. Seperti itulah kehebatan kerja Ilahi Sang Maha Karya menundukkan dan menghancurkan kesombongan yang melekat, tumbuh dan berkembang pada asura dan juga pada para dewa itu sendiri.

Akibat kesombongan Dewa Brahma yang diakibatkan oleh salah satu kepala-Nya. Akibat Kasih Ilahi Dewa Shiva memenggal kepalanya yang sombong itu untuk menjadikan Dewa Brahma mencapai kesempurnaan Dewa Utama dan kemuliaan. Demikianlah “proses penyempurnaan” itu dikisahkan dalam Siwa Purana. Wibhisana sangat cerdas mengamati rongrongan yang menghancurkan Rahwana dari kekuatan dharma “tersembunyi” itu sendiri. Akibat rasa cinta kasihnya kepada Raja dan kakaknya sendiri  membuat Wibhisana semakin khawatir tentang kekuasaan dan keselamatan kakaknya dan juga rakyatnya. Membuat Wibhisana terus menerus menasehati kakaknya dengan penuh etika dan aturan kesopan santunan sistem kerajaan.

Tetapi niat baik itu, tak pernah digubris, justru menyudutkan dan menyebut Wibhisana sebagai penghianat wangsanya. Lalu didepak tersungkur diusir dari kerajaannya. Selanjutnya dengan penuh pertimbangan saran  Ibunya sendiri berkata: hai anakku niat baikmu tak mendapat tempat untuk memperbaiki negerimu, maka carilah jalan keluar untuk memperoleh perlindungan demi tegaknya keadilan dharma kembali di negeri ini, sehingga rakyat Alengka terbebas dari kesewenang-wenangan. Hanya perbuatan sia-sia ketika kebajikan itu dipertaruhkan pada kekuatan dan posisi yang tak berimbang. Oleh karena nasehat itu Wibhisana memperoleh energi yang menguatkan keberaniannya, mencari perlindungan kepada Sri Rama jungjungannya sendiri. Itu artinya Wibhisana tetap memegang teguh prinsip kesatria Dharma. Walaupun kebenaran itu berada di tempat yang berlawanan yang seringkali dianggap musuh.

Pada sisi yang lain bahwa Kerajaan Alengka telah ditinggalkan sinar suci Keilahian yang meneranginya. Kalau sudah demikian proses kehancuran semakin terbuka lebar. Saat itulah insan-insan-insan duniawi yang meyakini kebenaran dan meyakini pilihannya terhadap kebenaran sering dituduh sebagai “penghianat”. Seperti itulah wujud perjuangan memahami dan menjadi abdi dharma di jalan dharma itu sendiri. Oleh karena itu waspadalah memahami dan memaknai Jaman Kaliyuga. Agar mampu tetap teguh mencari dan menemukan perlindungan sejati untuk kesejahteraan dan kedamaian untuk diri sendiri dan untuk negeri.

Itu artinya Wibhisana melalui sinar suci atman mampu melihat dan merasakan kebenaran atas kehadiran sifat Keilahian, Sang Pelindung Dharma di bumi. Tak mudah memang di jaman Kaliyuga ini merasakan kebenaran sejati itu,  ketika sedang terkondisi kegelapan mayanya. Gelimang gelapnya kerohanian itu, menjadi kuasa asura yang selalu berlagak cerdas, kuat, besar, tetapi menghancurkan. Karena memang itu karakteristik tabiat alaminya. Akibatnya yang banyak dianggap benar, bukan memperbanyak kebenarannya yang patut diikuti. Tetapi memproduksi kebohongan yang terus meraja lela, lalu menjadi bisnis profesi yang dikembangkan melalui layanan teknologi canggih bahkan super canggih. Menjadi  “gunung kebohongan” hingga memiskinkan mentalitas rakyat dan mengacaukan bengsa dan negara.

Memerlukan letusan magma penghancur dari dalam, mengembalikan seluruh material ke bumi. Menyuburkan alam dan mensejahterakan semua ciptaan-Nya. Kebenaran itu pasti terjadi pada saatnya, karena itu adalah kerja hukum-Nya. Bagi Rahwana jalan yang ditempuh Wibhisana dianggap sebagai penghianat terhadap persaudaraan kaum asura. Saat itulah pandangan sikap kesatria yang baik, benar dan suci menjadi perjuangan yang sesungguhnya, untuk membuktikan kebenarannya. Kecerdasan memahami kebenaran, diantara saudara kelahiran dan dan “sahabat rohani” yang “membahagiakan”, bersama-sama menjunjung Dharma yang “melindungi” dan “membebaskan”.

Bagi Rahwana walalupun kekuatan dari anak-anak dan adik-adiknya telah kalah dan terbunuh. Demikian pula kekuatan bantuan dari luar roboh dan sirna oleh bala tentara Sri Rama. Tetapi dia tetap melawan Sri Rama hingga detik darah penghabisan. Itu artinya Rahwana bertanggung jawab terhadap segala resiko perbuatannya. Walaupun salah dari sudut kebenaran kesatria sejati, tetapi tetap ngotot melawan, hingga detik darah penghabisan bisa terbunuh di tangan kemuliaan Sri Rama. Sebagai jawaban takdirnya, memuja dan memuliakan Sri Rama dengan cara menentang-Nya.

Bukan seperti jaman sekarang keras mengkritik dan menghina pemimpin bahkan menyebutnya dengan kata kasar serta penghinaan keras. Bertopeng demokrasi yang dianggap sebagai kritik, sesuai alasannya sendiri. Tetapi ketika diajak masuk barisan, lalu tertunduk berpura-pura lesu, tetapi yeeessss. Artinya tak seperti Rahwana yang bertanggung jawab pada perbuatannya. Tetapi menelan ludah busuknya, tentu apa jadinya ketika kembali ke dalam perut, dan otaknya?. Seperti itulah kecerdasan asura yang bertopeng filosuf saat ini. Nampak cerdas tetapi tak beridentitas kesatria. Bukan mencintai kebenaran demi kebenaran yang lebih bijaksana, menentramkan dan mendamaikan hati nurani rakyat.

Berbicara kecerdasan ilusif setinggi langit lalu mendungu-dungukan orang lain. Tak menghasilkan apa-apa, kecuali kecuali kata-kata dan aura buruk. Tak dapat merubah dan meningkatkan kecerdasan yang bermartabat mensejahterakan dan mendamaikan. Justru terbalik membuat risih dan memuakkan. Barangkali patut disadari bahwa hanya “kegelapan”, yang dapat menunjukkan sinar lampu itu bersinar cemerlang. Patut direnungi, apa yang bisa dibanggakan ketika menjadi “Dewan” ?. Sudah seharusnya berpikir, berkata dan bertindak bagaikan Dewa yang “mengayomi” dan “mencerahkan”. Bukan baru “jadi dewa” sudah memproduksi pikiran memecah belah, yang membingungkan.

Tetapi itu sekedar harapan tentang kesadaran Dewani yang mesti tumbuh, berkembang, meresap dan bervibrasi kepada tugas-tugas kewajibannya sebagai Dewan membawa sifat Dewata yang memegang teguh tugas penyeimbangan dunia dengan segala isinya. Dapatkan segera berubah dari asura mencapai dewa?. Tak membedakan kepentingan kelompok, tetapi melaksanakan dengan penuh keadilan. Bukan keadilan demi mayoritas. Matahari menyinari dunia dengan segala isinya, jawaban karakterisistiknya adalah karma menentukan pahalanya. Bukan ke dewan-dewan sebagai topeng, walaupun sesungguhnya adalah asura. Tentu tugas dan tanggung jawab akan teruji diantara sok cerdas, benar-benar cerdas dan kejujuran hati nurani. Tetapi semua itu “telah” dan “akan terus kentara”, tetapi hukum Sang Waktu masih memberi kesempatan untuk berbenah diri, tersaji dihadapan rakyat tak tahu malu, membuat rakyat semakin tak percaya. Barangkali realitas inilah yang disebut akhir jaman.

Apakah kesadaran itu tumbuh dalam dirinya, melalui nasehat dan serangan arus balik bagi tokoh kebanyakan?. Entahlah,  semua merasa benar pada jalannya masing-masing. Walalupun masih dikaburkan oleh kegelapan etika dan kesopansantunan serta kebijaksanaan nilai-nilai budaya ketimuran. Barangkali nilai-nilai budaya ketimuran sedang digoda oleh pohon pirus yang cukup mengganggu. Walaupun patut disadari sejak Indonesia Merdeka dengan segala keunggulan dan kelemahannya, kali ini pirus itu tumbuh dan sekarang mulai redup. Pertanyaannya apakah pirus ini akan berkembang ditengah ruangan Dewata yang disebut dewan itu?, tentu sebagai rakyat yang cerdas, ikut bersama-sama mengontrol dalam koridor logis etos dan terukur.

Walaupun rakyat memiliki kekuatan tersendiri yang disebut kedaulatan, tetapi redup  terputus oleh keterwakilan gelap dan rakus personal. Akibatnya seolah-olah tak memiliki kekuatan pelindung dihadapan pemimpin-pemimpin asura. Walaupun vdemikian rakyat mesti optimis dan selalu berdoa tulus, menunggu saatnya anugrah Sang Maha Adil itu tiba pada saat-Nya. Karena DIA-lah Pelindung tertinggi Keadilan itu sendiri. Saat itulah kesabaran dan ketahanan mental menjadi edukasi, personal dan kolektif menguatkan iman dan doa-doa tulus,  terbangunnya martabat manusia demi tegaknya dharma dan keadilan di bumi. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.

Facebook Comments

error: Content is protected !!