
“AURA KASIH”
“Waspadai Kesia-siaan Yang Dibenar-benarkan”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 20 Oktober 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Tak mudah memang memahami angan-angan besar berhadapan dengan Kuasa Yang Maha Besar. Tercipta oleh Kuasa-Nya, turun ke bumi bersentuhan, larut, tenggelam, diangkat disadarkan untuk kembali kepada-Nya. Itulah hakekat kehidupan “penyempurna”, berputar terus sepanjang “waktu”, yang disebut reinkarnasi. Insan-insan tertentu yang terbuka nalar berpikir dan kesadaran rohaninya berupaya terus menerus untuk memahami, memaknai serta merasakan kebenaran itu. Memaknai suatu kebenaran yang terjangkau, memasuki kebenaran yang tak terjangkau “Yang Ada”. Merupakan refleksi kesadaran atas pengetahuan hidup dalam keterbatasan diri atas waktu yang tersedia. Maka bagi yang telah berkesadaran hidup, memanfaatkan waktu yang tersedia terus merefleksikan hakekat kerja jasmani dan rohani. Menjadi “kebenaran rohani” yang berkeyakinan spiritual menyempurna hidup.
Persoalan besar ini bagi para bijaksana disebut kesadaran yang mempribadi (personal God) merasakan dalam perjuangan kebenaran (dharma). Tumbuhnya kesadaran itu mendorong untuk memperjuangkan hakekat jasmani dan rohani hingga akhir ayat. Walaupun saat ini secara kuantitatif presentasi kebenaran dharma itu, lebih rendah, dikaburkan oleh kekuatan adharma yang konon dua puluh lima persen. Akibatnya dharma tertutup kabut dalam diri sebagian besar insan duniawi, hingga kurang daya tarik.
Realitas fakta di lapangan, “yang jujur tersungkur dikubur, tak mujur” di dunia material, tetapi rasa damai semakin membesar membahagiakan. Lalu datang orang-orang kebingungan melihat dengan pertanyaan tersembunyi; mengapa “anda selalu tenang dan damai”?. Itu artinya pancaran rasa damai yang dialami seseorang berpacaran, mengetuk hati orang-orang “kegelisahan”. Dapatkah kegelisahan rohani itu dijawab dengan sekedar bertanya seperti itu ?. Tentu jawabannya renungan prilaku dan aksi personal yang “tertuntun”. Apabila yakin dan kokoh berjuang untuk kebenaran itu, maka keluhuran berpihak dan saatnya menjadi luhur dan termasyur. Itulah akibat putaran waktu “kalpa” yang tak dapat dihindari oleh siapapun.
Kesadaran memahami dan memaknai reaksi kebenaran itu dalam diri sendiri dan berpacaran pada realitas sosial menjadi fenomena sosial yang terus bergulir. Bergemuruh “menenggelamkan” dan “membangkitkan kesadaran”. Menenggelamkan dengan buih-buih gelap menjadi “pembenaran” yang sekarang semakin banyak pengikutnya. Menjadi kemenangan yang menghancurkan. Bergemuruh sesaat dipermukaan lalu reda bermusim. Seperti itulah realitas fenomenal menjadi “kekuatan politik “cerdas suara” dan “menang suara”, buntu menghadapi masalah, karena bekerjasama lalu dikuasai hantu. Lalu tak pernah merasa bersalah, tak pernah ngalah terus bikin masalah.
Dibalik itu kekuatan semesta “membangkitkan” artinya dibalik gemuruh penggelapan itu, terpanggil jiwa-jiwa yang bangkit bergerak atas dasar kesadaran dharma. Digerakkan oleh kekuatan hati nuraninya, lalu bergerak terus menemukan sahabat-sahabat rohani bergerak membangkitkan mutiara-mutiara rohani yang terpendam, bekerjasama menuju kebenaran dharma yang mendamaikan itu. Demikianlah para jnanim, Para Widya memperjuangkan kewajiban dan misi hidup penyempurnaan dirinya di bumi. Karena di bumilah kehidupan itu ada, berjalan dan berproses. Saat itulah purana, itihasa serta spirit Keilahian lainnya menjadi sinar pencerah jalan penguat iman dan tindakan.
Untuk melihat dan merasakan proses itulah sesungguhnya “masalah hadir” yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Masalah hadir secara alamiah dan lahir dari niat untuk memenuhi keinginan lahir dan bathin. Selanjutnya pengetahuan diturunkan untuk menyelesaikan. Maka ada yang memandang hidup Itu adalah belajar sepanjang ayat. Artinya melalui hakekat esensial pengetahuan yang berkembang di dalam diri, mampu merespon pengetahuan yang berkembang mensejarah di dunia luar, maka konfigurasi itulah capaian yang menjadikan hidup sadar jasmani dan rohani.
Pase-pase berproses menjadi catatan pengalaman “kombinasi dualitas” dalam diri lalu dituturkan, ada yang mampu menuliskan serta “dimainkan” dalam seni visual maupun audio visual untuk berbagi, hingga saatnya menyentuh jiwa-jiwa, agar bisa berprilaku bagaimana sesungguhnya hidup dalam kehidupan itu. Kalau sudah demikian pengetahuan hidup yang bernilai luhur, dibudayakan menjadi berbudaya meresapi menjadi karakter yang beridentitas.
Semua itu menjadi warisan budaya yang berpengetahuan material dan spiritual mewarnai karakter kultur sosial dimana mereka itu bergerak dan berproses. Menjadi taman budaya dunia dengan berbagai warna-warninya. Semua itu hidup dan diberkati hidup, karena lahir dari kehidupan daya cipta melalui pengetahuan. Menjadikan insan-insan berkebudayaan yang beradab.
Disisi lain persoalan besar yang hadir, tumbuh dan berkembang adalah panatisme identitas lalu menjadi radikal, mengukuhkan identitas kelompok tertentu sebagai kebenaran untuk mencapai “ideologi spirit tertentu”. Dimutlakan sebagai identitas yang tak boleh diganggu gugat dalam perspektif pandangan kebenaran kelompok tertentu. Tak ada orang suci besar yang akan turun lagi, demikian pandangan keyakinannya. Apabila tidak diselamatkan oleh orang suci atau apapun wujudnya tentu “dunia akan kiamat”.
Akibatnya menjadi pertentangan yang semakin menjauh dan membingungkan. Lalu berkembang tersembunyi melahirkan sikap dan prilaku intoleran dimana-mana. Barangkali inilah masalah dunia, menguji insan-insan “toleran” yang ingin selalu bertoleransi menghadapi semua perbedaan. Oleh karena itu niat dan perjuangan mewujudkan kasih saya yang disebut Santhi dan Welas Asih kepada semua ciptaan-Nya adalah “perjuangan” mencapai kebijaksanaan. Perjuangan itulah proses mencapai cita-cita yang disebut kemurnian spiritual dalam dimensi, “keheningan, pengetahuan dan kebahagiaan”, yang disimbolkan tiga deret garis yang disebut “Tri Pundra”.
Artinya “Dia” adalah sifat yang Maha Murni, amat halus dan jauh sekali. Tetapi “Dia” dekat dan meresap dalam semua kehidupan. Pergolakan dan resapan nilai yang lengkap itu adalah pada diri manusia. Maka disebut “Buana Alit” raga jasmani dan rohani yang selalu berubah. Jasmani berubah rohanipun berubah dan terus berubah. Sadar pada perubahan itu, adalah proses alami dan proses perubahan akibat edukasi spiritual adalah tujuan hidup yang sesungguhnya. Oleh karena proses edukasi itu maka “Dia” adalah tujuan. “Dia” adalah Guru, “Dia” adalah “kekuatan” (Sakti) Prakerti Semesta Raya yang hidup menghidupi semua ciptaan-Nya, maka “Dia” adalah “Ibu” Semesta.
Karena keberadaannya di ruang sunyi Niskala dan di ruang nyata Sekala, maka disebut Guru Sat dan Guru Sad, yang bertugas mendidik semua ciptaan-Nya. Merasakan proses edukasi “melalui masalah” dan mampu menyelesaikan mencapai kebahagiaan. Lalu bergelora bersemangat, penuh ikhlas ingin terus melanjutkan penyempurnaan diri, adalah semangat pengabdian melayani diri, sadar hidup melalui anugrah pengetahuan dan energi. Itulah “kebenaran sejati yang terjangkau”. Bukan angan-angan spirit besar nan ilusif, tetapi tak terjangkau, bagaikan membuang garam di laut. Karena memang garam bersumber dari laut. Oleh karena itu ubahlah air laut agar menjadi garam yang bagus dan sehat untuk kesejahteraan ciptaan-Nya di bumi.
Itu artinya transformasi pengetahuan abstrak menjadi pengetahuan (nyata) yang mampu melayani kebutuhan yang berguna bagi kesejahteraan lahir dan bathin umat manusia di bumi.
Bukan berbudaya mengganti dengan ritual persembahan, akibat kesalahan manusia menggundul hutan, berkedok filosofis Wana Kertih yang menibulkan panas membara di bumi, banjir dan longsor. Seharusnya adalah pengetahuan keseimbangan diantara menanam dan menebanglah harus dilakukan oleh kementrian terkait. Lalu kendalikan napsu untuk memperkosa alam. Dosa hukum dari hukum alam inilah dikerjakan dengan prinsip filosofis yang membumi. Berkesadaran berkarma baik, yang disebut Karma Yoga. Semuanya mesti di mulai dari Raja atau pemerintah, karena pemerintah bertugas mengayomi masyarakat. Bukan terus memberi ijin menghancurkan sumber daya alam untuk kepentingan politik kekuasaan saja. Memberi ijin tempat setiap jengkal wilayah pedesaan, menjorok mempersempit jalan yang sudah sempit ditengah-tengah luber kendaraan yang memacetkan setiap hari. Tetapi itulah raja asura yang lahir dari politik asura denga segala keangkuhannya.
Akibat kesombongannya Prabu Daksa dipenggal kepalanya oleh Virbadra, yang mengalir dari kuasa Dewa Shiva. Lalu sebagai wujud pengampunan kepalanya diganti dengan kepala kambing, lalu bertapa di keramaian kota. Secara alami burung Garuda bermusuhan dengan ular. Lalu ular dikalahkan oleh Garuda untuk membebaskan Ibunya dari penjajahan Dewi Kadru. Sekarang Garuda mengalahkan Mahisasuramardini, Asura Sapi yang sangat sakti. Akibat Kekalahan itu Mbak Lampir Si Nenek sihir itu tetap mengendalikan Mahisasura Mardini. Lalu Si Burung Garuda marah dengan kesaktiannya, menyetop alira darah, hingga Mahisasura Mardini bersama rakyatnya dan rakyat Garuda pun kelimpungan kehilangan atau kehabisan energi?.
Akibat kerakusan itu, Raja Asura “terpenggal” oleh kekuatan “tersembunyi” menjadi “asu-asu” penggonggong yang penting siap kencang menggonggong. “Ra” ramai-ramai, “ra” viral membisingkan dan membingungkan atmosfir duniawi. Ketika dilihat dari sudut pandang integritas dan prestasi kinerja, seperti itulah kesia-siaan yang dipasilitasi media menjadi maenstreem pengkondisian isu tujuan politik tertentu. Melabrak tatanan etika moral kesantunan publik, membahana bergelora menghancurkan. Sekali lagi waspadalah kepada “kesia-siaan” itu, untuk membangkitkan kesadaran murni berbenah diri demi keimanan personal, dan kolektif membangun negara dan bangsa menuju kecemerlangannya. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments