
“AURA KASIH”
“Keadilan Yang Disemukan”
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 27 Oktober 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Memang sulit memperoleh jawaban sepenuhnya tentang “Keadilan” yang mensejahterakan di dunia material saat ini. Ditengah-tengah “pengaburan” menjadi “kabur buramnya” iman keyakinan, oleh kuasa asura “pemuja kursi” kemewahan duniawi pengukuh jaman Kaliyuga. Semua sifat asura itu meresap ke dalam diri menguasai sebagian besar insan-insan duniawi, tanpa disadari. Akibatnya keadilan menjadi buram kabur dan disemukan. Sifat-sifat asura itu meresap secara esensial nan halus, lalu tumbuh menjadi bayang-bayang semu pengukuhan keangkuhan yang menggunung. Merefleksikan sikap sewenang-wenang, ditengah-tengah ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi yang “tak bersahabat dengan kejujuran”.
Material yang tak kekal ingin dikuasai, bukan menggerakkan kesadaran prilaku kebajikan, memaknai dunia material yang mensejahterakan. Kekayaan bukan untuk kesejahteraan, justru dimanfaatkan untuk menjerat leher rakyat kecil agar semakin tak berdaya. Membayar pajak adalah kewajiban bagi rakyat, dikorupsi oleh koruptor adalah wujud penjajahan bangsa sendiri yang menjerat. Bukan ber-Panca Sila, tetapi “ber-Panca gila”, menjadi kegila-gilaan. Gila kekuasaan, gila arta, gila kemewahan, gila wanita, gila harga diri. Akibat kegilaan itu keadilan semakin “disemukan” dipakai alat kritik, protes, bulian cacian, terus menerus mengotori ketenangan atmosfir duniawi.
Reaksi kedalam diri, mengubur kesejatian diri, lalu keluar terus menggoyang stabilitas pemerintahan dan kenyamanan sosial. Nampak cerdas namun tak bernalar normatif, bertopeng kebijaksanaan, menciptakan keimanan buruk dan rakus. Bermusuhan dengan kejujuran yang sesungguhnya menyelamatkan dan mengayomi. Koruptor lari dari jeratan hukum dibiarkan buron, lalu datang didongkrak bebas berbicara pongah menuntut keadilan. Lalu dikerjakan oleh asura penegakan hukum “semu” keberpihakan. Maka semakin semulah keadilan itu. Bagaikan kisah Subali yang menyiksa adiknya Sugriwa, merebut Dewi Tara lalu menuntut keadilan kepada Sri Rama. Akibat keangkuhan dan ketidak jujuran seperti itu, akhirnya Subali dibunuh oleh Sri Rama. Seperti itulah seharusnya penegakan keadilan yang benar-benar diperjuangkan, mencapai kemuliaannya. Karena penegak keadilan disebut “Yang Mulia”. Sungguh berat menyandang sebutan Yang Mulia itu, apabila keputusannya mengaburkan nilai-nilai keadilan. Saat itulah kerja hukum Yang Maha Mulia memutuskan keadilan sesuai “hukum karma” itu sendir. Saat itulah keadilan dipahami sebagai keadilan yang sesungguhnya. Maksudnya agar keadilan itu benar-benar mensejahterakan. Menegakkan dharma demi kesejahteraan yang seluas-luasnya. “Kesemuan” keadilan ini nampak bergelora, los kendali akibatnya semakin “semulah” keadilan itu dalam kehidupan kini.
Posisi kegelapan yang sedang dibodohkan oleh orang-orang pintar yang disebut “Yang Mulia” itulah yang sedang dihadapi oleh kebenaran dharma, yang sedang tumbuh bergerak dan menerobos menembus menemukan jawaban “akhir” walaupun “tanpa akhir” yang disebut kemenangan dalam setiap pase kehidupan. Berkenaan dengan itu hidup adalah perjuangan tujuan hidup sesungguhnya untuk mencapai “kemenangan” itu sendiri.
Produk mentalitas buruk bergelar dan berpangkat tinggi sedang dan terus menguasai panggung permukaan, semakin angkuh tak tahu malu mengganggu stabilitas berbangsa dan bernegara, demi memperoleh kekuasaan. Karena memang seperti itu tugasnya di bumi. Satu cajaya bintang cemerlang di langit, akibat gelap gulita. Lalu orang-orang suntuk memperhatikannya. Tak puas-puasnya memperoleh kemewahan hasil bejat membabi buta, mengeruk kekayaan, memperkosa Ibu Pertiwi. Mengacaukan stabilitas berbangsa dan bernegara membuat rakyat bingung dan menderita. Oleh karena itu, setiap insan mesti selalu waspada mengamati situasi ke dalam diri dan lingkungan sosial dimana berada. Mengendalikan diri penuh kesadaran akan hakekat hidup (Atma Kertih). Bukan sebagai kecerdasan difinitif berbasis ritual mewah, tetapi melalui langkah produktif berbenah membangun kebajikan di dunia. Menjadi ritual hidup yang berkeyakinan kuat, berproses, berjuang mengabdi Ibu Pertiwi, yang disebut filsafat tindakan dalam Bhagawad-Gita. Saat itu Ibu Pertiwi yang penuh kasih akan memberkati. Bukan cerdas konsepsional, lalu memberi ijin membabat hutan semena-mena, mengotori danau, laut, sengaja atau membiarkan kebakaran menciptakan polusi udara, yang pada akhirnya manusialah menerima akibat buruk, prilaku buruk itu. Maka Sad Kertih harus dibangun melalui “penguatan” dan “penyucian” serta pengendalian prilaku terus menerus hingga akhir ayat. Bukan dimenterengi pangkat, konsepsi pengganti maaf, dengan ritual mewah lalu pergi menutup pelanggaran. Pamer pejabat bermental priyayi dan kekayaan yang bervibrasi buruk, berpanggung premanisme bergelora saat ini.
Giliran kekuasaan asura, sewenang-wenang ini terus terjadi, semakin buruk dan semakin liar. Barangkali gelora ini merupakan proses menuju puncak kehancuran menuju akhir “jamannya”. Fakta historik sepanjang jaman telah menunjukkan kebenaran seperti itu. Maksudnya akhir jaman kekuasaan asura, dalam arti sempit dan dalam arti luas kesemestaan. Dalam arti sempit dalam diri setiap insan berpaling langkah dari kegerahan serta kegelisahan hidup, membangkitkan kesadaran diri memaknai kesejatian hidup sejati. Gelora realitas ini, nampak semakin bersinar, menembus kabut terus berjalan. Kebenaran ini amat rahasia, tetapi insan-insan yang meyakini kebenaran itu, bisa merasakan kebenarannya, membangkitkan semangat perjuangan menyadarkan diri menuju keadilan itu sendiri. Berjuang terus menerus “dibalik arus” menuju pencapaian kebenaran yang mendamaikan hati nurani yang Santhi dan Welas Asih.
Gelombang besar nan dinamis sesuai kalpa itulah proses keadilan itu bergerak, bagaikan pepes ikan yang enak, dikerjakan di dapur produksi digodok dengan resep dan olahan kematengan yang pas. Persoalan tersembunyi itulah proses menentukan “nilai suatu keadilan”, yang juga amat rahasia bagi angan-angan penerimanya. Maka jawaban salah satunya adalah hukum sebab akibat atau hukum Karma-Pahala. Keterbatasan setiap subyek memahami hukum Karma-Pahala itulah menjadi ragam persepsi memahami “keadilan” dalam Kuasa Alam Semesta, mengalir meresapi kuasa kepemimpinan duniawi. Memasuki ruang subyektif menjadi ragam subyek ruang kuasa masing-masing. Saat itulah dinamika kehidupan yang patut dipahami secara bijaksana.
Walaupun keadilan makro berdasar hukum Ilahi Sang Waktu (Kalpa) berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi ragam sifat dalam dimensi pergerakan hukum makro dan mikro (Buana Agung dengan Buana Alit) itu sulit dibayangkan. Tetapi kebenarannya telah dirasakan “tanpa kata”. Walaupun telah dipelajari setelah bumi tercipta. Oleh karena itu multi persepsi subyek yang selaras, dan yang berseberangan seringkali menjadi pembenaran. Lalu mengukuhkannya sebagai keunggulan dan kemutlakan. Akibat tabrakan cara berpikir yang mengganggu keimanan makro universal terganggu. Lalu hadir penyelaras penengah mengkonfigurasi mencapai kekuatan dalam kurun waktu tertentu, karena diyakini dan dipelihara. Kemudian dihancurkan karena dianggap tak sesuai kebenaran iman. Alam menimbun mengurug artefak, lalu insan-insan tak sengaja atau sengaja menelusuri artefak peradaban akhir kembali terbuka. Lalu terselamatkan oleh insan-insan pelestari sejarah peradaban. Kerja keadilan makro yang disebut kerja keseimbangan itu meresapi jiwa-jiwa insan yang pro dan kontra merefleksi dalam narasi ideologi nan kosmologis menjadi realitas visual hadir di bumi.
Dimensi gerak sifat-sifat manusia, sulit dipahami dari sudut kepentingan napsu yang dipengaruhi jaman Kaliyuga. Dan dalam dimensi level dua di tengah berlaku hukum karma yang menentukan pahala yang bekerja amat rahasia, tetapi nyata, amat sulit juga dipahami walaupun sudah dirasakan. Itu artinya karena didalamnya ada kuasa Ilahi mengalir pada “insan duniawi tertentu” yang memperoleh berkat-Nya. Dari Yang Maha Kuasa turun menjadi Kuasa terjangkau dan terbatas, menjadi ragam substansi berbhinneka. Jadi tebaran kuasa itu, dapat dipahami melalui tiga level. 1. Yang Maha Kuasa, dunia hening, cerah nan “maha dialogis” pencapaian teruji. 2. Kuasa Penuntun, penghening nan dialogis konsultatif, “pencapaian khusus perjuangan” dan “kehendak”. dan 3. Kehidupan duniawi penerima dan pelaksana untuk memperoleh anugrah penyempurna hidup, kuasa laksana vertikal horisontal yang dinamis. Ketiganya merupakan struktur utama hidup dinamis, tercipta, terpelihara, lalu pralina kembali sirna wujud memasuki dunia esensial kerohanian dalam “kesunyian hening” membahagiakan, yang disebut kebebasan abadi.
Persoalannya apakah dilurus jujur vertikal dan horisontal yang adil dan jujur penegakannya. Disitulah proses kuasa yang mengalir terhadap sikap pelayanan, yang sesungguhnya. Ketika perjuangan untuk mencapai harapan itu, tak disertai edukasi yang “sesungguhnya”, untuk melahirkan sikap hidup pelayanan yang benar-benar teruji oleh keadaan. Bagaikan Nandhi melayani Dewa Shiva, maka keadilan hanya bayangan Keilahian yang berproses oleh rtham-Nya sendiri. Belum menjadi karma baik bagi insan yang dipercaya memimpin. Maka erosi penggelapan perlahan-lahan terjadi. Perlawanan terhadap penggelapan sebagai erosi moral itulah perjuangan dharma kebajikan. Dua kekuatan menurun gelap, lalu mengangkat memuliakan harkat itulah dinamika duniawi. Lalu sadar menyimak, memaknai lalu berjuang terus menerus adalah esensi perjuangan hidup, sebagai pilihan dan sadar resiko.
Menjadi dan menjadikan diri kuat, teguh kukuh bertapa ditengah-tengah kuasa keasuraan, hingga jawaban keadilan itu tiba. Demikianlah Rsi Walmiki mengisahkan Wibhisana berada di Kerajaan Alengka dibawah kekuasaan Rahwana. Setiap hari memuja Sri Rama. Akibat diusir oleh Rahwana lalu mengabdi Sri Rama menghancurkan kesewenang-wenangan Rahwana.
Ditengah-tengah kuasa Raja Rahwana yang memperoleh berkat Dewa Brahma lalu menjadi pemuja Shiva terbaik. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk memperjuangkan keinginan dan napsu besarnya. Saat itu Rahwana memohon kepada Dewa Shiva untuk mestanakan Linggam-Nya di Kerajaan Alengka. Maksud Rahwana agar rakyat Alengka saja yang memperoleh berkat kesejahteraan. Sebagai Kuasa Dewata yang pemurah, apa yang menjadi permohonannya dipenuhi dengan syarat Linggam itu tak boleh menyentuh tanah selama perjalanan dari Kailasa menuju Alengka. Saat itu Dewa Shiva melihat Ganesha dengan pandangan khusus. Menyaksikan keadaan itu Ganesha sadar untuk melakukan tugasnya menyelesaikan syarat yang mesti dipatuhi oleh Rahwana. Itu artinya kecerdasan seorang pemuja memaknai tugas yang diamanatkan menyentuh hati nurani, yang disebut “panggilan hati nurani” atau “nurani yang terpanggil”.
Dalam narasi purana yang amat esensial memasuki dan meresapi jiwa-jiwa seorang pemimpin dari yang terkecil, dalam diri dan keluarga maupun bangsa dan negara. Patut memaknai dengan sebaik-baiknya, agar tak monopoli memperoleh kebenaran dan kesejahteraan melalui anugrah Tuhan. Apabila tidak ada dalam kebenaran seperti itu, tak pernah mencapai sorga. Kecerdasan yang dibutakan keinginan dan napsu yang menggunung itu, mesti dilumpuh sirnakan oleh pengetahuan suci. Maka kecerdasan yang dijiwai pengetahuan suci, bersikap mengabdi dharma dan kebenaran abadi, yang disimbolkan sebagai Ganesha, _bekerja dengan hukum-Nya. Lalu Rahwana tak memperoleh berkat “keabadian” karena berkabut napsu dan ego yang seharusnya “disucikan”.
Oleh karena itu, betapa pentingnya menghening sejenak setiap hari untuk membuka meresapi energi hening nan suci, hingga perlahan, membesar lalu bervibrasi hingga bisa memberi kepada yang “siap” menerima. Ke-“siap”-an ini juga berproses amat rahasia dalam diri, tetapi bergejala yang terkadang juga sulit dicari jawabannya. Ketika gelombang jawaban itu tiba dan dirasakan, maka saat itulah kebahagiaan dirasakan. Jiwa dan panca indra semakin terbuka, saat itulah jawaban “keadilan” yang sesungguhnya terjadi. Tidak semu lagi, air mata menetes deras menyucikan segala kealpaan diri tanpa disadari. Membuka jalan pengabdian diri siap menghadapi masalah. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments