
BEBAS DARI KETERIKATAN DUNIAWI, MUNGKINKAH DILAKUKAN PADA ZAMAN INI?.
Oleh : WAYAN WIRA (LUWUS TABANAN ).
*** Cahayamasnews ***. Jalan tanpa keterikatan adalah jalan yang istimewa, namun sangat sulit untuk dilalui. Berbagai rintangan akan dihadapi bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan ini. Seperti mendaki sebuah gunung yang tinggi, medannya terjal, di kiri kanan tebingnya curam, walaupun begitu banyak orang yang ingin melakukan pendakian. Melihat jalan ini sangat sulit, lalu adakah orang yang berhasil melewati jalan ini?
Dahulu kala dikisahkan ada seorang raja hendak mengajak anak gadisnya menemui seorang pertapa suci, dengan harapan kelak anak gadisnya yang baru menginjak usia remaja itu, dapat melayani pertapa suci tersebut. Mengetahui sang raja dan anak gadisnya datang, pertapa suci itu buru-buru menutup matanya, agar tidak tergoda oleh kecantikan si-gadis. Kontan saja si-gadis merasa tersinggung, mengetahui dirinya dianggap sebagai pembawa mala petaka. Ia lalu melontarkan protes kepada pertapa suci itu dan berkata, “Oh guru.. maafkan jika hamba sedikit lancang kepadamu. Hamba mewakili Prakerti (ciptaan) yang diciptakan oleh Tuhan, lalu bagaimana kemudian engkau mengabaikan hamba?.
Mungkin benar katamu, bahwa orang-orang yang menempuh jalan spiritual seharusnya bebas dari hal-hal yang bersifat menggoda seperti kekayaan, tahta, serta wanita. Tetapi bagaimana dengan bumi tempat Anda duduk melakukan tapa?. Bukankah bumi adalah bagian dari Prakerti, air dan udara merupakan bagian dari kebesaran Tuhan?. Kalau demikian adanya, lalu kenapa Anda merasa tidak membutuhkan hamba?. Bukankah keberhasilan seorang pertapa sangat didukung oleh tempat di mana ia melakukan tapa?”.
Dari petikan cerita di atas, dapat kita simpulkan bahwa tak seorang pun di dunia ini yang secara total dapat melepaskan diri dari ikatan duniawi. Jangankan manusia biasa, makhluk setingkat dewa pun, kadang bisa jatuh karena tergoda oleh daya tarik duniawi. Walaupun jalan tanpa ikatan mustahil bagi semua orang, setidak-tidaknya kita dapat melonggarkan ikatannya.
Hidup tanpa keterikatan, bukan berarti kita harus membuang barang-barang kita dan bergegas pergi ke tengah hutan dengan meninggalkan sanak keluarga. Badan tetap berada di rumah, sedangkan pikiran dibuang jauh ke tengah hutan yang sunyi. Istilahnya menyepi di tengah keramaian dan hiruk pikuk dunia dan terus berusaha melepaskan ikatan yang semakin erat menjerat jiwa.
Kita akui jalan tanpa keterikatan memang sulit, apalagi bagi orang yang terbiasa hidup dalam kemewahan, dimanjakan oleh gemerlap harta benda, kecantikan dan ketampanan yang pesona. Walaupun susah, kita tak boleh menyerah. Kata orang bijak ‘Hidup adalah perjuangan’. Untuk meraih kebebasan hidup, kita harus terus berjuang. Jatuh dan bangun lagi! Sebab tidak ada keberhasilan tanpa usaha. Pahit getirnya kehidupan harus kita lalui, semakin kuat dan tetap bersemangat. Dengan begitu akan tiba waktunya kita akan dapat melepaskan segala ikatan (mencapai kebebasan). Salam sejahtera bagi kita semua. Rahayu, Rahayu, Rahayu.









Facebook Comments