
“Brata Semesta II”, Kebodohan Menutupi Kesadaran Sejati
Amat penting dilaksanakan menghadapi “Gering Agung” yang merisaukan, bahkan telah membiasakan diri dalam sedikit ketakutan, dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapapun, kecuali Sang Pencipta melalui waktu-Nya sendiri.
Menunggu jawaban ini: Pertama; mesti taat melakasanakan ketentuan duniawi yang diatur pemerintah, dan membebaskan penumpang gelap yang curi panggung. Kedua; mesti secara sadar dan yakin, bahwa keanehan makhluk halus yang bernama Corona ini, tercipta dari kehendak-Nya. Realitas inilah menjadikan kita melakukan “Brata semesta”. Artinya; segala bentuk perilaku material duniawi dipaksa dikecilkan volumenya membuat perubahan mental ambisius menuju pada kesadaran semesta. Sadar tidak sadar, kita telah dikendalikan, bahkan difokuskan demi kesehatan dan keselamatan. Semua energi material dan fisik diutamakan untuk itu, hingga hal-hal yang bersifat, nafsu, indriya, kerja, hiburan, perjalanan dihentikan (Catur Brata Penyepian).
Inilah wujud nyata bahwa Corona telah mengajak kita melakukan “Brata semesta”, agar “Eling” (ingat) mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai Ibu dan Bapak semua makhluk. Lalu sadar bahwa Corona adalah “Saudara penyadar”, agar kita tidak semakin tenggelam dalam lautan duniawi yang penuh kegelapan itu, membiarkan hawa nafsu material semakin membakar diri kita.
Mudah-mudahan melalui “Kesadaran utama”, saudara kita si-Corona itu, segera membuka rahasia kuasa dan kepergiannya, maksudnya obat penawar mencapai “Pralina suci”. Mengubah mental bermusuhan menjadi kesadaran bersaudara yang penuh kasih ini, memang berat saat ini karena tidak biasa saling mengenal dan saling dekat.
Walaupun secara teori sudah cerdas, tetapi perilaku benar dan suci belum terlaksana. Untuk memperoleh jawaban itulah, barangkali “Brata semesta” ini terjadi, siapa pun tidak bisa menghindari. Oleh karena itu, patut disyukuri melalui swadharma yang tulus, bisa memberi sesuatu yang berguna kepada bumi, sebagai wujud karma jnana atau bhakti yang sesungguhnya diperlukan dunia.
Kesempatan yang berharga inilah patut dikerjakan dengan sebaik-baiknya melalui para petugas kesehatan, jangan menangis dan mengeluh, justru menurunkan harkat kesatriya kesehatan Ayo bangkit semangaaaaat. Bagi para suci tugas mulianya adalah berdoa terus menerus karena doa adalah senjata utama yang memvibrasikan rasa tenang secara horisontal dan memohon keselamatan dan penyelasaian masalah secara vertikal, hingga rahasia yang tersebunyi di balik Corona ini terbuka secara perlahan bagi profesi yang siap menjamahnya.
“Brata semesta” ini menyadarkan seluruh masyarakat, melalui rangkaian karma bajik yang saling melengkapi berupaya damai melalui pralina suci saudara kita si-Virus sakti Corona itu. Melalui berkat suci Tuhan Yang Maha Kuasa, agar kembali ke alamnya tidak menjadi pengganggu kehidupan manusia di dunia. Semoga “Brata semesta”, ini menyadarkan kita membangun rasa persaudaraan yang penuh kasih, bahwa setiap makhluk memiliki perannya masing-masing. Kebodohan kitalah yang menutupi kesadaran itu. Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).









Facebook Comments